Cinta Sendiri

Cinta Sendiri
52. Will You Be My Lover?


__ADS_3

"Hai!" sapa Gita begitu pintu kamar terbuka, hanya diangguki dan senyuman oleh Leonard.


Tampak olehnya wajah Leonard yang sangat tampan saat ini, dengan jambang tipis yang sepertinya sengaja tidak dicukur.


"Mau masuk dulu atau langsung jalan?" tanya Leonard saat dilihatnya Gita hanya terbengong di depan pintu kamar.


"Sebaiknya kita segera pergi, sudah siang!" sahut Gita sambil berbalik badan.


"Ok!" jawab Leonard yang langsung masuk untuk mengambil barang bawaannya, berupa tas selempang dari bahan kulit.


"Kita makan siang terlebih dahulu, ya?" ajak Gita begitu mereka sampai di lobi hotel.


"Aku ikut saja, asal itu pilihan kamu. Kamu tidak mungkin 'kan menyesatkan aku?" sahut Leonard sambil mengikuti langkah Gita.


"Apakah kita akan jalan kaki saja?" tanya Leonard kemudian karena mereka belum juga mencari kendaraan sebagai alat transportasi nanti.


"Hehehe... sorry! Aku terbiasa berjalan kaki jika berada di sedang menikmati liburan." jawab Gita dengan senyum yang menampakkan deretan gigi putihnya.


"Tunggu sebentar, ya!" pinta Gita kemudian.


Gita mengeluarkan ponselnya dan menghubungi sopir taksi yang menjadi langganan.


"Sebentar lagi, taksi datang kok!" ucap Gita setelah selesai dengan panggilannya.


Sepuluh menit kemudian mereka meninggalkan hotel itu.

__ADS_1



Gita yang memakai kemeja biru itu tampak sangat cantik dan cocok berdampingan dengan Leonard. Mereka berjalan berdua menuju sebuah restoran cepat saji yang ada di Malioboro.


Setelah selesai dengan makanan mereka, Gita beralih mulai menikmati es krim pesanannya.



"Mau?" tanya Gita sembari menggigit sedikit corn es krimnya.


"Tidak, terima kasih!" sahut Leonard yang tidak suka dengan makanan manis.


Leonard malah memandangi Gita yang menikmati es krim tersebut.


"Jangan dilihatin! Ntar jatuh cinta lho." seloroh Gita menutupi rasa gugupnya.


Gita akhirnya meletakkan es krim yang baru dimakannya. Dia merasa risih ditatap terus oleh Leonard. Tatapan Leonard yang seperti hewan buas hendak menyantap mangsa membuat Gita sedikit bergidik ngeri.


"Jalan, yuk!" ajak Gita setelah mengelap tangannya dengan tisu basah.


Mereka berdua pun meninggalkan restoran tersebut. Mereka menyusuri jalanan sambil melihat-lihat barang dagangan yang dijajakan di sepanjang jalan.


Hingga mereka tiba di sebuah lapak yang menjual bunga segar. Leonard mengajak Gita berhenti dan mulai melihat jenis bunga yang ada.


Tanpa mereka sadari jika dari kejauhan, seseorang memperhatikan mereka.

__ADS_1


Leonard mengambil setangkai bunga mawar merah, kemudian duduk berjongkok dengan sebelah kakinya ditekuk berlutut di depan Gita. Dengan kedua tangannya, Leonard menyerahkan bunga itu untuk sang pujaan hati.


"I love you, Gita! Will you be my lover?" ucap Leonard masih dengan posisi semula, lutut ditekuk sebelah.


Gita menutup mulutnya tidak percaya atas apa yang dilakukan oleh Leonard. Ia tidak menyangka sama sekali, jika kedatangan Leonard dari jauh hanya untuk mengungkapkan perasaannya.


"Sorry! Aku belum bisa menjawabnya sekarang," jawab Gita menunduk.


"Kamu bisa menjawabnya nanti, sekarang ambil dulu bunga ini. Kakiku kram kalau seperti ini terus," ucap Leonard.


"Baiklah. Terima kasih!" Gita menggerakkan bibirnya untuk tersenyum.


Hal itu membuat orang yang sejak tadi memperhatikan mereka berdua menjadi panas. Ingin rasanya dia menyeret Gita pulang dan mengurungnya di kamar.


"Tidak! Ini bukan cemburu. Ini hanya perasaan seorang kakak yang ingin melindungi adiknya!" sanggahnya dalam hati.


Orang itu adalah Brandon. Dia bisa menemukan Gita dengan cepat karena perasaan yang berkata. Akan tetapi, dia tidak mau mendengarkan perasaannya yang baru saja mengatakan bahwa dia cemburu. Ia telah jatuh hati pada perempuan manja yang dibencinya beberapa tahun lalu.


Flash back on


Brandon langsung pergi menuju Malioboro, dia sangat yakin jika Gita akan mengenalkan Malioboro pada temannya. Malioboro adalah tempat favorit Gita selama tinggal di Yogya. Sehingga tempat yang pertama kali dikenalkan pasti Malioboro. Brandon yakin akan hal itu.


Brandon mulai menajamkan penglihatannya. Dia memindai seluruh gedung yang menjulang di kanan dan kiri jalan Malioboro.


Tak berapa lama akhirnya matanya menangkap sosok wanita yang telah dia renggut kehormatannya. Senyum Brandon pun mengembang dan tatapannya hanya fokus pada wanita cantik itu.

__ADS_1


Flash back off


__ADS_2