Cinta Sendiri

Cinta Sendiri
94. Pulang Kampung


__ADS_3

Dua bulan telah berlalu...


Gita sudah dinyatakan lulus magister. Pelaksanaan wisuda akan dilakukan sebulan lagi, sesuai ketentuan yang telah ditetapkan. Saat ini Gita fokus pada kuliah spesialisasinya. Tidak memedulikan lagi hubungan dengan lawan jenis. Dia menikmati kesendiriannya dengan hati yang riang gembira.


Terdengar suara ponsel berdering di ponsel Gita, dimana saat ini si pemilik sedang asik memasak sambil bersenandung lagu Batak. Gita tidak mendengar dering telepon karena letaknya yang agak jauh. Setelah selesai memasak, Gita masuk ke kamarnya. Kemudian berlalu begitu saja menuju kamar mandi tanpa melihat ponselnya yang di meja rias.


Selesai mandi, Gita mendekati meja rias untuk menyisir rambut. Tampak layar ponselnya menyala, Gita pun mengambil ponsel tersebut. Terdapat banyak panggilan tak terjawab dari sang ayah. Kemudian Gita pun menghubungi ayahnya.


"Tadi Papa hubungi Gita ada apa?" tanya Gita begitu sambungan telepon terhubung.


"Iya, kenapa tidak diangkat tadi?"


"Gita tadi masak habis itu mandi, Papa! Hp di meja rias, mana kedengaran," jelas Gita sembari duduk di kursi meja rias.


Pak Chandra mengangguk walaupun tak terlihat oleh anaknya.


"Ada apa, Pa?" lanjut Gita penasaran.


"Kamu bisa pulang sebentar, Nak? Tidak usah lama-lama, hanya melepas rindu saja!"


Gita terdiam memikirkan permintaan sang ayah.


"Gita! Kok diam?" tegur pak Chandra karena tidak ada sahutan dari seberang.

__ADS_1


"Eh, iya Pa! Gita tanya dulu ke owner klinik boleh nggak Gita ijin tidak masuk seminggu. Soalnya Gita kerja baru dua bulan, belum ada cuti. Jadi, mohon pengertian Papa dan Mama," ucap Gita terus terang atas ganjalan di hatinya.


"Kamu pindah tempat kerja atau memang baru memulai kerja?" selidik pak Chandra.


Selama ini Gita tidak pernah bercerita jika dia bekerja di sebuah rumah sakit terkenal, kemudian dia pindah ke klinik dekat kampusnya.


"Hmm, baru mulai kerja, Pa. Kenapa? Gita nggak boleh ya, Pa? Kuliah sambil kerja." dusta Gita takut sang ayah marah karena bekerja tanpa sepengetahuan keluarganya.


"Semua terserah padamu! Jika menurut kamu itu baik, lakukan. Jika tidak baik, tinggalkan. Gita sudah besar, jadi tahu mana yang baik dan tidak." Pak Chandra percaya anaknya bisa mengambil keputusan yang tepat.


"Iya, Pa!" sahut Gita lirih.


Pak Chandra tersenyum mendengar jawaban anak perempuan satu-satunya itu.


"Apa kuliahmu tidak terganggu jika kamu bekerja?" tanya pak Chandra hati-hati takut menyinggung perasaan sang anak.


"Baiklah kalau begitu, kami tunggu kepulanganmu tiga hari lagi. Semoga diijinkan untuk pulang ke Indonesia selama seminggu," kata pak Chandra menghibur Gita, dengan menyelipkan sebuah do'a.


Gita pun mengaminkan ucapan sang ayah. Tak lama kemudian panggilan pun berhenti.


Gita keluar dari kamarnya untuk sarapan pagi yang kesiangan karena ada panggilan masuk dari ayahnya.


"Ada apa sih, tiba-tiba nyuruh pulang? Mana harus revisi tesis lagi. Kerja juga baru aja masuk, mana boleh ijin lama. Kalau pulang 'kan paling nggak seminggu di kampung, mana bisa sehari balik ke sini. Ck, kenapa nggak dibilang aja di telepon aja!" gerutu Gita sembari mencuci piring bekas sarapannya.

__ADS_1


Tanpa Gita tahu maksud orang tuanya meminta dia pulang. Dia pun memberanikan diri menemui sang pemilik klinik untuk meminta ijin pulang ke kampung halaman.


Ternyata dosen yang terkenal killer di kampus itu cukup baik hati. Dia memberikan ijin pada Gita selama seminggu. Dengan catatan dia harus lembur selama sebulan, untuk mengganti hari yang ditinggalkannya.


"Kek di kampus aja! Mengganti hari untuk pelajaran yang tertinggal. Tapi tak apalah yang penting bisa pulang kampung. Sekarang aku harus mengabari Papa."


Sementara itu, setelah menghubungi Gita, pak Chandra menghubungi Brandon agar datang tiga hari lagi. Pak Chandra menjanjikan jawaban atas lamarannya tempo hari.


*


*


*


Sambil menunggu GiBrand up, yuk mampir ke karya recehku yang lainnya.



Sepenggal Kisah Ary (tamat)


Menikahi Duren Ansa (tamat)


Menggapai Mimpi (tamat)

__ADS_1



Terima kasih 🥰😘


__ADS_2