
"Kami memang belum memiliki hubungan, akan tetapi saya ke sini untuk membina hubungan dengan Gita." jawab Brandon dengan sangat yakin.
"Maksudnya?" tanya pak Chandra dengan alis saling bertaut.
"Saya ingin meminang putri Om, saya ingin menikahinya," ucap Brandon dengan hati yang mantap.
Betapa terkejutnya orang tua Gita, selama ini Gita tidak pernah bercerita apa-apa. Kenapa tiba-tiba ada seseorang yang datang melamar?
"Tunggu! Tunggu sebentar. Nak Brandon sudah membicarakan hal ini sebelumnya dengan Gita?" tanya pak Chandra. Sebagai orang tua dia tidak boleh gegabah mengambil keputusan.
Brandon sebenarnya ingin berbohong, akan tetapi dia tidak mau nama baiknya jelek karena suatu kebohongan. Satu kebohongan membutuhkan kebohongan yang lain untuk menutupi kebohongan sebelumnya. Akan seperti itu seterusnya. Lebih baik katakan sejujurnya walaupun itu pahit di awal tapi manis di akhir.
"Jujur! Sebenarnya saya belum mengatakan hal ini pada Gita. Setiap kali saya mengajaknya untuk berbicara berdua, dari hati ke hati, dia selalu menolak. Sehingga saya memutuskan langsung ke sini," jawab Brandon dengan gamblang.
__ADS_1
"Saya sebagai orang tua tidak dapat memutuskan sendiri, walau bagaimanapun juga yang menjalani nantinya 'kan bukan saya. Melainkan Gita. Jadi kita tunggu bagaimana pendapat Gita saja. Bukan begitu Ma, Bu?" ucap pak Chandra menanggapi perkataan Brandon yang baru saja diutarakan.
"Iya, betul itu! Kami tidak bisa memutuskan semuanya tanpa mengikutsertakan yang bersangkutan. Bagaimana kalau misalnya kami iyakan ternyata dia tidak mau? Terus saat acara pernikahan kabur, kek di novel-novel itu." Mama Hotma menyetujui pendapat pak Chandra, suaminya.
"Nggak pernah nggak bawa cerita novel ke percakapan sehari-hari. Kacau!" gumam pak Chandra menepuk dahinya pelan sembari menggelengkan kepalanya.
"Mama masih dengar ya, Pa! Mama hanya takut saja, Gita 'kan orangnya nekat. Kalau sudah bilang tidak tetap dipaksakan yang ada dia malah kabur. Sama kek cerita di novel. Cerita di novel itu ada 'kan memang karena sudah kejadian di dunia nyata, Pa!" sahut mama Hotma.
"Kalian berdua ini memang tak tahu malu! Sudah tua masih seperti anak kecil saja. Heran aku!!!" tegur ompung Norma dengan suara yang cukup keras, sehingga pasangan suami istri yang sudah berusia hampir setengah abad itu terdiam dengan sendirinya.
"Begini saja, Nak Brandon. Sebaiknya saya hubungi dulu anak kami. Nak Brandon masih sabar menunggu 'kan? Nanti setelah tahu jawabannya dari Gita. Baru nanti kita rembug lagi. Bagaimana?" saran pak Chandra memberi nasihat pada lelaki gagah di depannya itu.
"Kalau masalah menyakiti dan memaafkan itu adalah hak masing-masing orang. Jadi, kita tunggu bagaimana keputusan Gita nantinya," lanjut pak Chandra.
__ADS_1
Mama Hotma duduk diam mendengarkan percakapan antara suami dan sahabat anaknya. Dia merasa curiga, ada yang tidak beres antara Brandon dan Gita. Mama Hotma pun berniat akan menanyakan langsung pada Gita nanti.
"Baik, Om. Kalau begitu saya pamit undur diri, siang ini juga kami akan kembali ke Medan," pamit Brandon seraya menyalami orang tua Gita. Dimulai dari pak Chandra kemudian ke ibunya dan terakhir ompung Norma.
"Baiklah, kalau begitu. Hati-hati di jalan, Nak Brandon. Nanti bila sudah ada kepastian dari Gita, Bapak pasti akan menghubungi Nak Brandon," balas pak Chandra sambil menepuk pundak Brandon.
"Saya tunggu kabar baiknya, Om, Tante!"
Brandon pun akhirnya meninggalkan rumah itu setelah mengutarakan maksud kedatangan ke kota tersebut.
"Pa, apa Papa nggak curiga? Selama ini Gita tidak pernah lho bercerita jika memiliki suatu masalah. Papa?" ucap mama Hotma begitu tamunya sudah menghilang dari pandangan.
.
__ADS_1