Cinta Sendiri

Cinta Sendiri
71. Main Dokter-dokteran


__ADS_3

Brandon menyelinap masuk ke ruang ICU dimana Kia, istrinya dirawat. Begitu sampai di samping ranjang Kia, Brandon menghela napasnya berat.


"Kia, bangun! Jangan mati dulu, aku belum puas menyiksamu!" bisik Brandon di telinga Kia dengan posisi menunduk.


Brandon melakukan hal itu setelah mendapat penjelasan dari dokter yang menangani Kia. Sebenarnya Kia dalam keadaan sehat, hanya saja alam bawah sadarnya tidak ingin bangun lagi. Sehingga dia membutuhkan suara dari yang saat ini berada dalam pikirannya.


Mulut pedas Brandon ternyata tidak pernah berubah. Dokter menyarankan dirinya agar memberi semangat pada istrinya agar segera tersadar.


Brandon melihat tidak ada respon dari Kia. Ia pun kembali mema ki Kia.


"Bangun! Lo masih punya utang penjelasan sama Gue. Lo belum jawab pertanyaan Gue waktu itu. Gue ulangi pertanyaan Gue sekali lagi, apa alasan Lo ngejebak Gue? Jawab!" ulang Brandon dengan menambah volume suara dari yang tadi.


"Kalau dia nggak bangun juga, akan aku suruh dokter melepaskan semua alat bantu ini."


Beberapa menit kemudian, tangan Kia tampak bergerak perlahan. Sayangnya, Brandon tidak melihat pergerakan itu. Dia langsung meninggalkan ruangan itu begitu saja setelah mengancam Kia. Brandon malas bertemu dengan mertuanya jika terlalu lama di tempat itu.

__ADS_1


Tak ada orang di ruangan itu lagi kecuali Kia. Sehingga tidak ada yang mengetahui jika Kia mulai menunjukkan tanda-tanda kesadaran.


*


*


*


Leonard mendatangi ruangan Gita. Banyaknya anak-anak yang memadati ruang tunggu di depan ruangan Gita, sebagai tanda bahwa saat ini Gita sedang sibuk.


"Siang, Dok! Saya mau diperiksa terlebih dulu, sudah tidak tahan lagi, Dok," ucap Leonard sembari mengulum senyum menahan tawanya.


Gita yang saat itu sedang memeriksa pasien pun terkejut dan langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Eh, ada pasien termuda rupanya!" sahut Gita mengikuti sandiwara Leonard.

__ADS_1


"Iya nih, Dok! Butuh penanganan segera," ujar Leonard tersenyum.


"Silahkan antri dulu ya, Nak! Dokter masih menangani pasien yang datang duluan," sahut Gita dengan lembut seolah-olah dihadapannya saat ini seorang anak kecil yang sakit.


"Siap, Dokter cantik!" seru Leonard menirukan suara anak kecil.


Perawat yang mendampingi Gita tertawa melihat dua dokter di depannya itu. Dua orang dokter yang sedang main dokter-dokteran, terlihat lucu di matanya.


Leonard tidak meninggalkan ruangan itu, dia duduk di kursi yang biasa dipakai oleh perawat.


Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya pasien yang diperiksa Gita selesai diperiksa dan keluar ruangan setelah diberikan resep obat.


"Ada apa? Kamu tahu sendiri 'kan pasienku hari ini banyak, kenapa masih mengganggu? Apa tidak ada lagi pekerjaan? Sehingga kamu duduk manis di ruanganku dan mengganggu orang bekerja," sembur Gita kesal, sudah terlalu sering Leonard mengganggunya saat bekerja seperti saat ini.


"Nggak! Nggak ada kerjaan lagi, pasienku cuma sedikit hari ini. Lagian aku heran, kenapa kamu belum juga istirahat padahal waktu istirahat sudah lewat. Sebaiknya istirahat dulu, paling tidak minum dulu jus ini!" jawab Leonard panjang lebar yang berujung perintah pada Gita.

__ADS_1


"Terima kasih atas perhatian kamu! Apa yang kamu lakukan ini akan mengundang kecurigaan karyawan atau dokter lain. Sebaiknya jangan terlalu sering mendatangi ruangan ini. Jika ada perlu lebih baik telepon atau bertukar pesan saja. Ini demi kebaikan kita. Aku tidak ingin menjadi bahan gunjingan di rumah sakit ini" tutur Gita panjang lebar mengungkapkan apa yang menjadi ganjalan hatinya selama ini.


__ADS_2