
Seminggu telah berlalu, Ary masih meratapi kepergian suaminya. Pekerjaannya setiap hari hanya memandangi foto Rendy. Makan pun kalau tidak dipaksa tidak makan. Penampilannya pun kacau, dia juga tidak bekerja. Setiap hari mengurung diri di dalam kamar peninggalan suaminya.
Gita yang melihat bagaimana keadaan Ary menjadi iba. Tak ayal dia pun kadang ikut menangis melihat Ary terpuruk. Walaupun Ary dan Rendy tidak kenal lama tapi cinta mereka kuat. Ary yang lebih tua dari abangnya memiliki cinta yang tulus.
"Aku ingin seperti kak Ary, tidak hanya memiliki wajah yang cantik tapi juga akhlak yang baik. Benar-benar wanita idaman setiap laki-laki." batin Gita.
Sejak saat itu apa yang menjadi keputusan Ary maka Gita akan dengan patuh menurut. Bagi Gita, Ary adalah sosok panutannya.
Gita harus pulang ke kampung halamannya karena akan menghadapi ujian semester. Berat sebenarnya meninggalkan kota Yogya, akan tetapi kewajibannya sebagai seorang siswi mengharuskan dia kembali sekolah.
Gita pulang bersama ompung Norma karena semua kerabat yang hadir sudah pulang setelah tiga hari abangnya meninggal. Kini tinggal kedua orang tua dan kakak iparnya yang menempati rumah peninggalan Rendy.
Gita dan ompung Norma ke bandara diantarkan oleh papanya. Sebenarnya Gita ingin diantar oleh Brandon tapi perusahaan yang ditinggalkan Rendy sedang membutuhkan penanganan segera.
__ADS_1
*
*
*
Setiap liburan sekolah, Gita selalu berkunjung ke Yogya. Dia selalu ingin bertemu dengan sang pujaan hati. Walaupun sikap Brandon selalu dingin padanya, Gita tak kunjung menyerah. Gadis remaja itu semakin penasaran untuk menaklukkan hati Brandon.
Sifat Gita dan Rendy memiliki kesamaan, harus mendapatkan apa yang diinginkannya. Apapun itu, siapapun orang itu harus jadi miliknya. Mereka berdua sudah terbiasa dituruti sehingga tidak ada kata tidak dalam kehidupan mereka.
"Abang, kenapa tidak mau menjemput Gita di bandara?'' tanya Gita pada Brandon.
"Kamu lihat sendiri 'kan kalau Abang banyak kerjaan. Kamu sudah biasa pulang pergi Medan - Yogya sendiri, lagian kamu sudah besar sudah hafal jalan. Seharusnya kamu bisa mengerti," jelas Brandon panjang kali ditambah tinggi mengutarakan alasannya tidak mau menjemput Gita.
Sebenarnya Brandon enggan berurusan dengan yang namanya makhluk bernama perempuan. Kalau bukan karena wasiat sahabatnya, mungkin dia akan mengusir dan menjauhi Gita dan Ary. Akan tetapi semua itu tidak mungkin, Ary saat ini mulai menggantikan posisi Rendy di usaha mereka walaupun tidak setiap hari terlibat.
"Iya, Gita lihat sendiri banyak pesanan komputer yang harus segera diselesaikan dan dikirim pada konsumen. Maaf." jawab Gita sambil menunduk dengan air mata siap menetes.
__ADS_1
Gita sebenarnya tidak cengeng hanya saja sejak abangnya meninggal dia mudah sekali meneteskan air mata.
"Gita boleh di sini 'kan, Bang?" tanya Gita sambil duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
"Boleh asal tidak menggangu." sahut Brandon singkat, padat dan jelas sehingga membuat Gita memanyunkan bibirnya beberapa Senti ke depan.
Brandon hanya melirik sekilas pada adik sahabatnya itu, kemudian menggelengkan kepala saat tertangkap oleh matanya bibir manyun Gita.
Brandon tetap melanjutkan pekerjaannya, sedangkan Gita duduk manis sambil melihat Brandon yang bekerja. Terlalu lama duduk melihat orang bekerja membuat Gita mengantuk dan akhirnya tertidur di sofa.
"Ck, anak ini!" ucap Brandon sambil menggelengkan kepalanya melihat Gita yang tidur di atas sofa.
Posisi tidur Gita saat ini kepala di bantalan tangan dengan wajah menunduk, sebelah kaki di atas sofa dan satunya lagi turun ke lantai. Sebelah tangannya menggantung bebas. Sudah dapat dipastikan badannya akan sakit semua jika terbangun nanti.
Melihat posisi tidur Gita seperti itu, membuat Brandon merasa terketuk, untuk membetulkan posisi tidur Gita.
Dengan sangat hati-hati Brandon membetulkan posisi tidur Gita. Badannya agak ditarik agar kepala Gita sejajar dengan tubuhnya. Kaki dan tangannya dinaikkan sehingga semua badan Gita berada di atas sofa.
__ADS_1
Setelah membetulkan posisi tidur Gita, Brandon kembali bekerja kembali tanpa menoleh ke arah Gita tidur. Sebenarnya tidur Gita terusik saat Brandon membetulkan, hanya saja dia pura-pura tidur agar Brandon melanjutkan perhatiannya.