
Betapa terkejutnya Gita, saat membuka mata tidak ada cahaya di kamarnya. Gita pun mera ba nakas di sebelah ranjangnya. Mengambil ponsel kemudian menyalakan lampu flash, untuk menerangi ruangan yang ditempati saat ini.
"Haa? Sudah jam delapan malam! Ternyata aku tertidur cukup lama tadi. Huh!" gumam Gita dengan da da berdebar kencang karena terkejut. Kepala Gita tiba-tiba sakit. Sehingga dia kembali memejamkan mata sebentar sebelum bangun.
"Aduuhhh! Kenapa lagi ini kepala? Tiba-tiba sakit kepala, sakit kepala tiba-tiba! Bikin bengek aja!" gerutu Gita sambil memukul-mukul kepalanya pelan.
Gita memutuskan untuk membersihkan dirinya, dia pun beranjak ke kamar mandi dan memulai ritualnya. Selesai mandi, Gita pun keluar untuk mencari makan. Sebenarnya sudah terlalu malam untuk makan, akan tetapi seharian berkurung di dalam rumah membuat Gita bosan.
Gita pergi ke kafe yang ada di lantai dasar bangunan apartemennya. Dia memesan vegetarian burger dan secangkir kopi untuk mengisi perutnya malam ini.
Gita yang sedang asik menikmati burgernya sendirian tidak menyadari jika ada seseorang sedang memperhatikan dirinya.
"Kamu pasti berbohong 'kan semalam? Kalau kamu berkata jujur pasti keadaanmu saat ini baik-baik saja. Sebenarnya apa yang terjadi denganmu? Kenapa kamu tiba-tiba menjauh dariku?"
Leonard menghela napasnya berat, bingung dengan sikap Gita.
"Huhhhh... aku lihat kamu tidak dalam keadaan yang baik. Ada apa, Honey? Apa yang mengganggu pikiranmu?"
Leonard sejak tadi siang mengawasi apartemen Gita, setelah mendapat laporan dari pihak HRD jika Gita mengundurkan diri. Saat Gita memeluk Dandy dengan isak tangisnya pun tak luput dari pengamatan Leonard. Hal ini membuat Leonard semakin yakin jika ada yang tidak beres dengan kekasih hatinya itu.
__ADS_1
Melihat keadaan sang pujaan hati yang tidak baik, membuat hati Leonard berdenyut nyeri. Sakit. Ingin rasanya dia mendekati Gita, akan tetapi sejak tadi pagi dia mencoba menghubungi wanitanya itu tidak bisa. Leonard curiga jika nomornya sudah diblokir oleh Gita.
Leonard hanya ingin mengawasi dari kejauhan, dia akan mencari sendiri penyebab berubahnya sikap Gita pada dirinya.
Setelah habis makanan yang dipesannya, Gita pun keluar dari kafe, kembali ke apartemennya. Tanpa sepengetahuan Gita, Leonard mengikutinya hingga pintu kembali terkunci. Leonard pun meninggalkan bangunan itu, dia ingin bertemu seseorang yang bisa membantunya mencari penyebab perubahan sikap Gita.
*
*
*
Gita pergi ke layanan telepon umum yang tidak jauh dari gedung apartemennya. Tempat dimana ia dulu menghubungi keluarganya untuk memberi kabar. Dia sudah memantapkan hatinya untuk mengakhiri hubungannya dengan Leonard.
"H-hai!" ucap Gita terbata begitu sambungan terhubung.
"Halo, ini siapa?" tanya Leonard.
"I-ini aku..."
__ADS_1
"Anggita? Honey, kamu dimana sekarang?" cerca Leonard panik.
"Aku tidak jauh dari tempatmu. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu, semoga kamu tidak marah nanti..."
"Honey, are you okay?"
"Sebaiknya kita sudahi saja hubungan kita ini. Maaf aku belum bisa menerima kamu di hatiku. Maaf." ucap Gita dengan air mata berderai.
"Tidak! Aku tidak mau. Kamu katakan sebenarnya ada apa! Kenapa kamu tiba-tiba menjauh dan sekarang memutuskan hubungan kita? Tunggu aku! Tetap disana, aku akan segera datang!" jawab Leonard lantang, dia langsung berlari keluar ruanganya.
Saat itu, Gita mengakhiri panggilannya dan pergi meninggalkan tempat itu.
Saat Leonard sampai di lobi, sang ibu, nyonya Elisabeth menghampirinya.
"Ikut Mommy sekarang juga!" paksa nyonya Elisabeth sembari menarik tangan Leonard menuju limousin mewah miliknya.
"Aku tidak bisa, Mommy! Aku masih ada urusan penting," tolak Leonard tetap bertahan berdiri di tempatnya.
"Tidak ada yang lebih penting dari urusan Mommy saat ini!" sahut nyonya Elisabeth masih berusaha menarik badan kekar anaknya itu hingga akhirnya Leonard masuk ke dalam limousin mewah itu.
__ADS_1
"Kamu kenapa tidak datang tadi malam? Kamu tahu, Daddy dan Mommy sangat malu karena kamu tidak memberi kabar sama sekali. Sekarang kamu ikut Mommy untuk makan siang bersama keluarga Winston!" serang nyonya Elisabeth tampak kekesalan di wajahnya.
"Leonard tidak ingin dijodohkan dengan siapapun, Mom! Seharusnya Mommy tahu, Aku tidak suka dipaksa," bantah Leonard kesal.