
Akhirnya pesanan mereka pun datang. Dandy membantu waiters mengantarkan pesanan Gita dan Brandon.
"Lho, Dan? Kok kamu yang antar pesanan, gak sibuk?" todong Gita saat mendapati Dandy yang menyusun makanan di meja.
"Harus berapa kali aku bilang, apapun akan aku lakukan untukmu! Kamu jangan sungkan, lagian di sini kamu sebagai raja karena pembeli di kafeku. Sedangkan aku adalah pelayan yang akan melayani sang ratu hingga puas," sahut Dandy dengan bercanda.
Candaan Dandy membuat Brandon dilanda kecemburuan tingkat tinggi.
"Ekhemm!" Brandon sengaja berdehem untuk menghentikan rayuan gombal Dandy pada Gita.
Dandy langsung menoleh ke arah Brandon.
"Eh, ini siapa Gi? Abangmu ya." tanya Dandy tapi belum sempat dijawab sudah dijawabnya sendiri.
"Oh, iya! Kenalin ini Bang Brandon. Bang, kenalin teman Gita. Dia pemilik kafe ini, namanya Dandy!" Gita memperkenalkan mereka.
Brandon dan Dandy pun bersalaman. Setelah itu keduanya duduk.
Brandon menaikkan alisnya dan tatapan tajam melihat Dandy ikut duduk bersama mereka. Gita yang menyadari itupun memulai obrolan.
__ADS_1
"Bang, ini teman terbaik Gita selama di sini. Dia yang selalu siap sedia jika Gita butuh bantuan. Masih ada satu orang lagi selain dia, saat ini orangnya sedang sibuk mengurus pernikahannya. Jadi aku belum bisa memperkenalkan dia dengan Abang," ucap Gita sambil mengaduk makanan dihadapannya.
"Oh, terima kasih sekali kalau begitu. Kamu sudah menjaganya selama ini. Sekali lagi terima kasih!" sahut Brandon sembari menyendok makanan lalu disuapkan ke mulutnya.
Dandy hanya tersenyum menanggapi perkataan Brandon.
"Apapun akan saya lakukan, Bang! Bagiku kebahagiaan Anggita yang utama," tutur Dandy tegas menyatakan jika kebahagiaan Gita menjadi prioritasnya.
Brandon merasa memiliki saingan berat untuk mendapatkan Gita. Brandon tahu, sangat tahu malah. Jika banyak laki-laki yang tergila-gila pada Gita. Hanya dirinya saja yang bodoh, terlambat menyadari perasaannya.
*
*
*
Setelah selesai mengikuti Gita menuju klinik tempatnya bekerja, Brandon dihubungi oleh pemilik apartemen incarannya. Brandon pun langsung bergegas menuju bangunan yang dimaksud.
Setelah beberapa jam melalui pembicaraan yang cukup alot, akhirnya apartemen itu berpindah tangan menjadi milik Brandon. Setelah mendapatkan surat-surat serta kartu akses masuk, Brandon segera check out dari hotel dan berpindah ke apartemen.
__ADS_1
Pagi harinya...
"Hai, pagi tetangga!" sapa Brandon begitu dibuka oleh Gita.
Mata Gita terbeliak kaget mendapati seseorang yang pernah bertahta di hatinya berada di depan pintu.
"Pa-pagi, Abang kenapa sudah ada di sini?" sahut Gita terbata.
Brandon pun masuk ke apartemen Gita walaupun belum dipersilakan. Brandon membawa sepiring makanan buatan sang mami, sambal pecel. Brandon membeli sayuran dan menyiramnya dengan sambal pecel. Walaupun tampilannya berbeda dengan pecel di Indonesia, akan tetapi bisa menghilangkan rasa rindu akan makanan bersaus kacang itu.
"Apa itu, Bang?" tanya Gita penasaran.
"Buka aja, terus langsung makan mumpung masih baru dibuat!" sahut Brandon seraya menyerahkan piring berisi sayur berbumbu saus kacang itu.
Gita pun mengambil piring tersebut dan membuka tutupnya.
"Waahhh... pecel sayur! Terima kasih, Abang. Tahu banget Gita sudah lama pengen makanan ini." Gita sangat bergembira mendapat makanan khas Indonesia.
Bagi Gita, tidak ada yang bisa membuatnya bahagia selain makanan khas Indonesia selama tinggal di Melbourne. Lidah Gita sudah terbiasa dengan masakan Indonesia, sehingga awal tinggal di kota ini, dia susah menyesuaikan diri.
__ADS_1
"Kamu suka?" tanya Brandon ikut mengembangkan senyuman saat melihat wajah Gita yang ceria mendapat makanan.
"Banget!" jawab Gita sambil mengangguk, bibirnya mengembangkan senyuman yang tiada henti.