Cinta Sendiri

Cinta Sendiri
107. Ikuti Alurnya


__ADS_3

"Abang, bangunlah! Jangan terus seperti ini, nanti kaki Abang kram! Ayo bangun, kita bahas ini sambil duduk," ucap Gita lembut sembari menarik tangan Brandon agar mengikutinya duduk di sofa.


Brandon pun bangkit setelah berulang kali ditarik oleh Gita


Setelah keduanya duduk, Gita mengambil buket bunga itu. Tidak dengan cincinnya.


"Bunganya cantik! Gita ambil bunganya, Abang simpan cincin ini. Boleh?" ujar wanita berparas cantik itu seraya mengambil buket bunga dari tangan Brandon. Brandon pun mengangguk.


"Kita jalani saja semua ini seperti air yang mengalir. Tidak usah terburu-buru. Gita tidak akan menikah dengan siapapun kecuali atas ijin Allah dan orang tua. Gita tidak mau jadi anak durhaka. Oleh karena itu, sebelum mendapat restu orang tua, Gita tidak akan menikah." terang Gita dengan senyum menawannya.


Brandon hanya mendengar setiap tutur kata lembut yang terucap dari bibir pujaan hatinya.

__ADS_1


"Siapapun yang datang ke Papa, kemudian Papa dan Mama mengiyakan. Gita pun akan mengiyakan. Setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Jadi, kita harus mendapat restu kedua orang tuaku baru kita lanjut ke jenjang pernikahan." Gita bukan ingin mempersulit Brandon, akan tetapi hanya menginginkan restu orang tua.


"Mereka begitu membenci Abang, Gi. Apa Abang bisa meluluhkan hati mereka? Kamu tahu sendiri 'kan, bagaimana mereka saat Abang datang melamar kamu?" ucap Brandon putus asa.


"Abang, coba Abang belajar dari kisah cinta Kak Ary. Apa pernah dia memaksakan keinginannya untuk bersatu dengan cinta pertamanya? Dia ikuti saja skenario Tuhan. Menikah dengan Bang Rendy, kemudian dipertemukan kembali dengan cinta pertamanya yang sudah berstatus duda. Bahkan keduanya berbeda keyakinan."


"Walaupun mereka saling mencintai, tapi mereka tidak terlalu memaksa untuk bersatu. Mereka ikuti alurnya, sehingga tanpa mereka sadari akhirnya mereka berjodoh. Gita ingin seperti itu, tanpa perlu berpacaran tanpa perlu ambisi. Cukup merasakan cinta dan pasrah atas apa yang menjadi ketentuan Tuhan. Kita sudah berusaha dan berdo'a untuk kebahagiaan kita. Sekarang kita pasrahkan kembali pada Tuhan, biar Tuhan yang menentukan hasilnya."


Gita menjeda ucapannya sejenak kemudian tersenyum.


Gita mengakhiri ucapannya dengan senyum manisnya, yang membuat Brandon semakin terpesona.

__ADS_1


Brandon mulai mengerti arah ucapan Gita. Jalani, ikuti alurnya seperti air yang mengalir kemana dia akan bermuara. Seperti itulah mereka akan menjalani hubungannya nanti.


"Baiklah kalau memang seperti itu keinginanmu. Abang hanya ingin kamu tahu, Abang mencintaimu, dulu, kini dan masa yang akan datang. Abang akan menjaga hati Abang hanya untukmu. Semoga kamu juga akan menjaga hatimu hanya untuk Abang," ucap Brandon sambil menatap mata Gita.


Mereka saat ini duduk bersisian di sofa panjang depan TV di ruang keluarga.


Mereka saling menatap hingga lama, tanpa ada yang tahu siapa yang memulai. Tiba-tiba bibir mereka sudah saling bertaut dan saling bertukar saliva. Brandon terus mengeksplor rongga mulut Gita hingga terdengar suara cecapan di ruangan itu.


Tiba-tiba Gita melepaskan tautan ketika oksigen di rongga paru-parunya mulai menipis. Dia langsung menghirup oksigen sebanyak-banyaknya sampai memenuhi rongga paru-paru.


"Maaf..." Ucapan Brandon terpotong.

__ADS_1


"Abang tidak bersalah. Ini salah Gita yang tidak bisa menahannya," potong Gita sembari menunduk malu.


Keduanya sama-sama merasa malu dan wajah memerah.


__ADS_2