
Gita mematung melihat pemandangan di depannya. Terkejut. Itulah yang dirasakan oleh Gita saat ini. Ternyata selama ini dugaannya salah. Ia selalu berpikir bahwa Brandon masih tetap sendiri karena cinta yang begitu besar pada mantan kakak iparnya. Sehingga tidak ada satupun wanita yang dapat mengisi hati dan pikiran Brandon.
"Ehemm... seperti inikah kelakuan seorang pimpinan?" ucap Ary sambil melenggang ke ruangan itu tanpa canggung sama sekali.
"Tadi itu hanya ada insiden kecil, Ary! Aku bisa jelasin semuanya ke kamu." ucap Brandon dengan perasaan khawatir Ary akan membenci dirinya.
"Tag name dia terjatuh tepat di pangkuanku.
Berbeda dengan Ary, badan Gita panas dingin. Campuran rasa syok dan tidak percaya atas apa yang dilihatnya saat ini.
Setelah tahu ada orang lain di ruangan tersebut, Lala menurunkan kakinya dari atas kursi yang diduduki oleh Brandon. Kemudian langsung keluar dari ruangan itu dengan kepala tertunduk.
"Ini tidak seperti yang kalian pikirkan!" ucap Brandon begitu sang sekretaris keluar dari ruangannya.
"Memang kamu tahu apa yang sedang kami pikirkan? Kenapa bisa kamu mengatakan hal itu pada kami?" Ary menghela nafas sejenak.
"Iya juga tidak apa, toh kalian sudah dewasa. Hal itu sudah biasa bukan? Seorang pimpinan perusahaan memiliki afair dengan sekretarisnya." ejek Ary, memandang rendah seorang Brandon. Dia tidak pernah berpikir akan serendah itu seorang Brandon yang dingin dan datar, yang yang selalu menjaga jarak dengan wanita manapun. Ary berpikir Brandon berbeda dengan pimpinan lainnya, ternyata sama saja. Takluk pada selang kangan wanita.
Tanpa Ary dan Brandon sadari, Gita memperhatikan wajah sang sekretaris seksi yang baru saja dari ruangan itu.
__ADS_1
"Wajahnya mirip sekali dengan Kak Ary. Bedanya dia versi tidak berhijab. Pantas saja Bang Brandon dan dia memiliki hubungan."
"Kami ke sini bukan untuk melihat adegan tadi ataupun mendengar alasan kamu melakukannya. Kami ke sini untuk membahas kepemilikan saham Rend's Comp. Jadi, bisa kita mulai sekarang?" ucap Ary seraya duduk di sofa yang diikuti oleh Gita.
"Baiklah sambil menunggu pengacara datang, kalian ingin minum apa?" Brandon menawarkan minum pada tamu istimewanya.
"Aku apa saja mau, yang penting bukan racun. Iya nggak, Ta?" sahut Ary asal seraya memindahkan tasnya ke meja.
"I-iya, Kak! Apa saja yang penting bukan racun. Gita masih muda, masih ingin menjadi dokter yang terkenal seperti Kak Ary." jawab Gita gugup, merasa heran mendengar kata racun.
"Nggak mungkin 'lah aku kasih para wanita cantik ini minum racun. Kalaupun aku kasih racun, aku juga minum racun. Jadi kita ke surga sama-sama. Hahaha!" canda Brandon dengan tawa renyah.
Sementara itu di sebuah hotel berbintang lima tak jauh dari kota, seorang laki-laki berkebangsaan Victoria sedang gelisah menunggu kedatangan wanita pujaan hatinya.
"Kenapa lama sekali dia kasih kabar? Apa jangan-jangan dia lupa lagi, atau mau menghindar seperti di Melbourne?" gumam Leonard sambil mondar-mandir di kamarnya.
"Ah, sebaiknya aku hubungi saja dia! Dari pada menduga terus tanpa kepastian."
Akhirnya Leonard menghubungi Gita lagi, selang dua jam dari pertama kali dia menghubungi Gita.
__ADS_1
"Gita, ponsel kamu sedari tadi bunyi terus tuh!" celetuk Ary sambil menyenggol lengan Gita.
"Oh, iya." Gita langsung mengambil ponselnya dan menjawab panggilan itu.
"Iya, Le?" ucap Gita begitu panggilan terhubung.
Terdengar suara seorang laki-laki dengan bahasa Inggris yang fasih dan sesekali Gita menjawab sambil meringis karena malu telah melupakan janjinya pada orang tersebut.
"Kak, aku pamit ya. Aku ada janji dengan teman dari Melbourne. Dia tadi malam sampai di Yogya, sekarang ingin aku temani jalan-jalan." ijin Gita masih tetap meringis menahan malu.
"Pacar kamu, Ta? Kenalin sama Kakak dong!" goda Ary.
"Hanya teman, Kak!" sahut Gita sambil cemberut.
Urusan mereka baru saja selesai, dengan keputusan akhir, Gita mau menerima saham hanya sepuluh persen saja. Akhirnya Ary menyetujui dari pada Gita tidak menerima sama sekali.
"Iya, iya! Kakak percaya. Sekarang mau Kakak antar ke hotel tempat dia menginap atau bagaimana?" ucap Ary sambil tersenyum.
"Ke hotel tempat dia menginap aja deh!"
__ADS_1
"Ok!" jawab Ary.
Kemudian mereka berdua pamitan pada Brandon dan pengacaranya. Brandon tampak memaksakan senyum ketika Gita menyalami dia. Ada rasa yang mengganjal di hati Brandon. Akan tetapi dia tidak tahu apa.