
Gita yang akan berangkat kuliah menjadi uring-uringan setelah mendapat telepon dari ayahnya, Pak Chandra. Moodnya hancur seketika, sehingga pelajaran hari ini tidak ada yang masuk ke otaknya.
Hari ini kebetulan Gita harus memulai kerja di sebuah klinik kecil tak jauh dari kampus. Walaupun moodnya buruk, Gita tetap harus bekerja.
"Semoga nanti ketemu pasien anak-anak yang gemesin. Jadi bisa mencharge mood booster aku," gumam Gita sembari melangkahkan kakinya menuju klinik itu.
Sesampainya di klinik kecil tersebut, dia disambut oleh seorang satpam dan suster.
"Siang..." sapa Gita dengan wajah riang dan senyum merekah yang dipaksakan.
"Siang, Miss! Silakan, Miss sudah ditunggu owner," ucap seorang satpam yang berdiri di di dekat pintu masuk klinik.
Satpam dan perawat itu telah ditunjukkan foto Gita, sebelum menyambut kedatangan Gita di pintu masuk klinik. Sehingga mereka langsung dengan mudah mengenali Gita yang bukan penduduk asli kota itu.
Gita diantarkan ke sebuah ruangan yang berada di sudut bangunan. Ruangan itu terpisah dari bangsal-bangsal pasien rawat inap yang jumlahnya hanya beberapa.
"Siang!" sapa Gita begitu memasuki ruangan itu.
Betapa terkejutnya Gita, ternyata pemilik kliniknya adalah salah satu dosen pengajarnya. Dosen killer yang tidak peduli apapun alasan yang dikemukakan saat melanggar aturannya.
__ADS_1
"Siang, silakan duduk!" sahut pemilik klinik dokter Smith.
"Ah, iya. Terima kasih." Gita gugup karena dokter Smith adalah dosen yang dibencinya saat kuliah.
Setelah Gita duduk mereka pun berbincang mengenai pekerjaan. Dokter senior itu melontarkan beberapa pertanyaan pada Gita. Termasuk alasan Gita memilih klinik kecil itu. Gita mampu menjawab semua pertanyaan dengan lugas dan jelas. Sehingga sang dokter pun menyukainya, yang awalnya tegang kini bisa mencair karena kepandaian Gita.
"Sekarang silakan ke ruangan anda, sebentar lagi jam kerja anda dimulai. Selamat bergabung, semoga betah dan nyaman bekerja di sini!" ucap dokter Smith mengakhiri obrolan mereka.
Gita pun meninggalkan ruangan itu dan mencari ruangannya. Tak lama setelah memasuki ruangan, ternyata sudah banyak pasien menantinya di ruang tunggu.
*
*
*
Brandon membuka galeri di ponselnya. Dia menatap foto Gita beberapa tahun silam. Foto saat Gita baru saja memulai kuliah di Yogya.
__ADS_1
"*Bodohnya aku dulu! Tidak bisa melihatmu. Padahal kamu selalu ada di setiap waktuku. Sekarang saat aku menyadari, kamu seolah tak tergapai. Menjauh dan enggan untuk kembali."
"Maafkan aku yang dulu yang begitu tega menyakitimu! Maafkan aku yang mengambil kehormatanmu. Awalnya aku hanya ingin menakutimu, akan tetapi begitu menyentuhmu. Aku tidak bisa berhenti, hingga akhirnya aku*..."
Brandon menangis sambil mengusap ponselnya yang memperlihatkan foto Gita. Dia sungguh menyesal telah menyakiti Gita selama berada di Yogya.
Dulu dia telah dibutakan oleh kekagumannya pada janda sahabatnya yang sangat sempurna. Sehingga dia tidak bisa melihat berlian di depan mata.
Terdengar suara pintu diketuk dari luar ruangan.
"Masuk!" teriak Brandon seraya menghapus air mata di pipinya. Dia berulangkali mengambil napas dan membuangnya untuk menutupi kesedihannya.
"Pak, ada tamu di depan. Beliau memaksa bertemu dengan Bapak. Apakah diijinkan masuk?" tanya karyawan tersebut.
"Siapa?"
"Ilwan Tambunan, Pak. Namanya!" sahut sang karyawan.
Brandon pun berusaha mengingat nama tersebut. Setelah bisa mengingat, kemudian mengangguk tanda setuju menemui tamunya.
__ADS_1
Ilwan Tambunan adalah salah satu investor di cabang Medan. Dia yang mengusahakan beberapa lahan untuk pembangunan kantor cabang dan gudang. Saat ini dia ingin menawarkan lahan perkebunan pada Brandon.