Cinta Sendiri

Cinta Sendiri
80. Syarat


__ADS_3

Setelah kepergian Leonard dan Dandy, Gita kembali menangis.


"Maafkan aku, Le! Sebaiknya kita memang harus berpisah, sampai kapanpun seorang anak laki-laki adalah milik ibunya. Aku tidak ingin kamu memilihku dan durhaka pada ibumu. Mungkin ini adalah jalan terbaik untuk kita. Semoga engkau bahagia..." gumam Gita di sela isak tangisnya.


Gita terpaksa mengatakan belum bisa menerima Leonard sepenuhnya. Dia tidak ingin memisahkan ibu dari anaknya. Gita yakin jika mereka berjodoh pasti bersatu. Oleh karena itu, dia memilih menjauh dari Leonard. Dia juga berencana resign dari rumah sakit tersebut. Dia akan mencari rumah sakit yang lebih kecil untuk mempraktekkan ilmunya.


Gita tertidur setelah lelah menangis. Pagi harinya dia terbangun dengan mata bengkak karena terlalu lama menangis.


Gita langsung membersihkan dirinya, kemudian memanaskan sisa rendang dan gudeg untuk sarapan.


Selesai sarapan, Gita langsung membuat surat pengunduran diri. Setelah itu dia mengirimnya via email.


Gita mulai mencari daftar rumah sakit yang ada di sekitar kampus dan apartemennya. Dia memutuskan untuk menjauh dari Leonard seperti keinginan nyonya Elisabeth.


Siang harinya, Dandy datang ke apartemen Gita. Dia hendak pamit pulang ke Jakarta. Dandy harus segera kembali karena tiba-tiba sang ayah masuk rumah sakit.

__ADS_1


"Anggi, aku pulang! Jaga dirimu baik-baik di sini. Cepat selesaikan masalahmu dengan Leonard! Aku ikhlas kamu memilih dia. Jodoh di tangan Tuhan, dia tidak bisa ditukar ataupun ditawar. Jadi, berbahagialah dengan laki pilihan kamu! Aku akan selalu mendo'akan yang terbaik untukmu."


"Maaf jika kedatanganku membuat kamu dan Leonard bermasalah. Aku ke sini karena merindukanmu. Kita sudah bertemu, saatnya kita berpisah lagi. Ada pertemuan berarti ada perpisahan. Kalau kamu menikah nanti jangan lupa undang aku!" Dandy berkata panjang lebar sebelum meninggalkan apartemen Gita.


"Sebenarnya a-aku..." Gita mengehentikan kata-katanya untuk mengambil napas sebanyak mungkin untuk memenuhi rongga paru-parunya yang mulai sesak.


"Sebenarnya aku sudah dijodohkan dengan paribanku. Begitu juga dengan Leonard, dia sudah dijodohkan dengan orang pilihan keluarganya. Jadi, kehadiranmu sangat membantuku lepas dari Leonard. Terima kasih, Sahabat!" ucap Gita akhirnya.


Gita bisa tersenyum lagi setelah mengeluarkan apa yang selama ini menjadi ganjalan hatinya. Dia juga tidak ingin Dandy merasa bersalah karena kesalahan terletak pada dirinya.


"Selamat jalan, Dan! Maaf aku tidak bisa mengantar ke bandara. Aku sedang mencari lowongan pekerjaan." Gita tersenyum dan mengangguk begitu Dandy menatap wajahnya.


"Tidak pernah kurang! Berlebih malah. Aku bekerja hanya untuk menambah pengalaman dan mengisi waktu luang," jawab Gita masih dengan senyum manisnya.


"Oo, kirain kurang. Kalau kurang aku bisa bantu," sahut Dandy sambil mengulum senyum m

__ADS_1


"Asik! Beneran nih, mau bantu?" tanya Gita semangat empat lima.


"Tapi ada syaratnya!"


"Apa syaratnya? Sebutkan, mana tahu aku bisa!"


"Beneran nih? Syaratnya gampang kok!" ucap Dandy.


"Apaan? Cepat katakan!" desak Gita sudah tidak sabar.


"Kamu janji dulu, kalau aku bilang syaratnya, kamu tidak marah!"


"Janji! Aku tidak akan marah apapun syaratnya. Tapi... kalau syaratnya aku tidak sanggup, aku boleh menolaknya 'kan?" tanya Gita penasaran.


"Kamu boleh menerima atau menolak kok. Aku tak akan memaksa!" ucap Dandys serius.

__ADS_1


"Makanya kalau gitu cepetan bilang apa syaratnya! Keburu ketinggalan pesawat kamu nanti," desak Gita tidak sabar.


"Syaratnya adalah..." Kata-kata Dandy terhenti karena suara dering telepon di ponsel yang ada di saku celananya.


__ADS_2