
"Pokoknya Gita gak mau dijodohkan! Gita masih ingin sekolah. Kalau Gita dijodohkan kemudian cepat menikah pasti Gita nggak bisa jadi dokter anak. Gita nggak mau cepat-cepat menikah, Gita mau menikmati masa muda Gita!" Gita menolak rencana perjodohan itu. Bahkan dia juga mengancam tidak akan pernah pulang ke Indonesia jika perjodohan itu tetap dilaksanakan.
"Gita sayang, Boru sakkibung Mamak! Jangan marah-marah macam kerbau melihat kaos warna merah! Kami hanya ingin yang terbaik untuk kau. Saat ini umur kau sudah dua puluh lima, banyak kawan-kawan sekolahmu yang sudah memiliki anak. Kami pun ingin menimang cucu. Kau tahu sendiri, Abang kau itu dipanggil Tuhan setelah menikah. Belum sempat dia kasih cucu ke Mama, sudah diambil saja sama Tuhan," bujuk mama Hotma.
Boru sakkibung \= anak perempuan satu-satunya yang menjadi kesayangan keluarga.
Saat ini mereka melakukan panggilan video, sehingga bisa melihat dengan jelas bagaimana kondisi masing-masing lawan bicaranya.
"Kau itu Gita! Dicarikan jodoh yang mapan, jelas asal-usulnya. Pas kali lah si Rizal ini sama engkau! Dia anak pertama, engkau anak terakhir pasti berjodoh. Sudahlah, pulang saja kau setamat kuliah yang ini!" sahut ompung Norma menimpali perkataan anaknya.
"Kalau Ompung tetap memaksa menjodohkan Gita, Gita gak akan pulang ke Indonesia lagi. Anggap saja aku sudah mati!" ucap Gita kesal, dia belum kepikiran untuk menikah. Jangankan untuk menikah, untuk membuka hati untuk lawan jenis saja dia tak mau.
"Gita ingin seperti Kak Ary! Menjadi dokter yang terkenal karena ketelatenannya merawat pasien. Walaupun saat ini dia memilih untuk pensiun dari dokter, akan tetapi masih dikenal banyak orang. Bahkan mereka rela mendatangi rumah Kak Ary hanya sekadar berobat."
__ADS_1
"Gita juga ingin menjadi dokter anak yang terkenal sangat menyayangi pasiennya. Dan, itu masih membutuhkan waktu sekitar dua tahun lagi. Setelah kuliah, nanti Gita mau mengabdi pada rumah sakit dimana Gita bekerja. Jadi, Mama, Papa dan Ompung tidak perlu repot-repot mencarikan jodoh untukku." tolak Gita lagi, dia sudah kesal sejak kemarin malam. Kesal karena mendengar rencana perjodohan itu.
"Ya sudah, kalau kamu tidak mau. Mau bagaimana lagi, yang menjalani pernikahan nanti juga kamu. Kami hanya ingin yang terbaik untukmu," ucap pak Chandra akhirnya.
Tak lama kemudian sambungan video call pun terputus.
"Papa ini gimana sih? Masak sama anak kalah! Nggak jadi punya bebere ustadz dong kita," amuk mama Hotma pada suaminya.
Gita selama ini hanya mendengarkan nasehat ayah dan abangnya, berhubung si abang sudah tiada. Kini Gita lebih menurut pada Ary dibandingkan dengan mama Hotma.
"Sudahlah, Ma! Kalau Gita nggak mau karena alasan sekolah itu bisa dimaklumi. Mana tahu setelah lulus kuliah dia bisa menerima perjodohan ini," jawab pak Chandra dengan sabar.
"Nunggu Gita lulus kuliah, keburu Rizal dapat bini lagi kek hari itu. Kesempatan untuk besanan sama Bang Parlindungan Harahap, pupus sudah," gerutu mama Hotma.
__ADS_1
"Siapa yang bilang gak bisa besanan sama bang Parlin? Aku kenal sekali bagaimana kehidupan mereka selama ini. Jadi jangan terlalu cepat ambil kesimpulan!" Pak Chandra tidak habis pikir dengan jalan pikiran istrinya itu.
"Gimana mau besanan? Anak kita satu-satunya aja tidak mau dijodohkan sama dia. Mau jadi besan dari mana? Jonggol?" Mama Hotma semakin marah karena tak ada kejelasan hubungan diantara mereka.
"Hah, biarkan saja dia mau apa! Si Gita kutengok tak pernah dekat dengan cowok manapun. Apa itu tidak akan ada pengaruh psikologi? Jadi curiga!" potong ompung Norma.
"Ibu, tenang saja! Aku yakin lambat laun, seiring berjalannya waktu Gita pasti bisa kok menerima perjodohan itu,"
*
*
*
__ADS_1
Maaf jika ada typo atau ada kata-kata yang kurang, sehingga ceritanya nggak dapat feel. Authornya tukang ngantuk soalnya...
Mauliate godang buat para readers 😘😘😘