Cinta Sendiri

Cinta Sendiri
105. Maukah?


__ADS_3

Mereka pun makan sesekali diselingi obrolan untuk menambah kedekatan. Menikmati masakan yang cukup lezat, mengingat keduanya masih sama-sama belajar.


Brandon dan Gita memang masih dalam tahap belajar memasak, berbeda dengan Dandy yang sudah jago masak sejak masih duduk di bangku SMA.


"Ternyata masakan kita tidak kalah enak dengan masakan Dandy!" ucap Brandon sela makannya.


"Semua makanan itu kalau disyukuri pasti rasanya enak, Bang! Tergantung kita menilai masakan itu sendiri. Kalau kita tidak bersyukur, seenak apapun masakan itu pasti rasanya hambar." jelas Gita sembari meletakkan sendoknya karena sudah selesai makan.


"Betul banget! Apapun itu jika disyukuri pasti nikmat. Seperti ujian cinta kita. Kita syukuri, mungkin kita harus lebih bersabar lagi."


Gita menaikkan sebelah alisnya mendengar kata-kata Brandon.


"Perasaan Abang habis makan deh! Kenapa mengigau?" celetuk Gita kemudian, membuat mood Brandon untuk melamar Gita ambyar.


"Anak ini! Pinter banget ngobrak-abrik moodku," batin Brandon sedikit kesal.

__ADS_1


"Hhhh..."


Brandon menghela napasnya berat. Bingung harus memulai dari mana dia akan melamar sang pujaan hati. Saking bingungnya dia menjadi gugup dan keringat dingin sudah mulai keluar dari pori-pori kulitnya.


(Ayo kita ketawain Brandon bersama, masak mengajak perusahaan besar untuk kerjasama bisa tenang. Sedangkan mau melamar pujaan hati malah keluar keringat dingin 🤦🤦🤦)


Akhirnya Brandon pun mengerahkan seluruh keberaniannya untuk melamar Gita.


"Gi, Abang bukanlah manusia sempurna. Banyak sekali kekurangan dan kesalahan Abang. Akan tetapi Abang akan selalu berusaha memperbaiki semuanya, agar Abang pantas mendampingimu."


"Abang bukanlah orang yang romantis. Abang juga tidak memiliki pengalaman dengan lawan jenis. Karena itulah Abang tidak bisa menyadari perasaan Abang selama ini. Yang Abang tahu, Abang hanya menginginkanmu di sisi Abang."


Gita tidak menyangka sama sekali jika hari ini dia akan dilamar oleh lelaki yang selalu memenuhi hati dan pikirannya. Walaupun Gita sudah berusaha menepis dan menyangkal, akan tetapi rasa itu selalu singgah.


"A-abang?"

__ADS_1


"Will you?" Brandon berdiri dengan salah satu kakinya ditekuk, dengan buket bunga dan kotak cincin di tangan.


Gita speechless, dia tidak tahu harus menerima atau menolak. Jujur saja dia takut melawan orang tuanya. Kata-kata sang ayah waktu itu masih diingatnya sampai sekarang. Sehingga Gita tidak bisa menentukan sikap.


"Gita takut Papa tidak merestui..." Akhirnya ada kata-kata yang terlontar dari bibirnya.


"Aku tanya kamu, bukan Papa. Yang akan aku nikahi itu kamu bukan Papa kamu!" sahut Brandon gemas melihat pujaan hatinya yang malu-malu tapi mau.


Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya Gita menjawab dengan anggukan kepala.


Brandon merasa sangat bahagia, jawaban Gita menandakan setuju. Tinggal menaklukkan hati orang tuanya.


"Abang tidak bisa menjanjikan apapun, tapi Abang akan berusaha dan terus berusaha untuk memperbaiki diri. Agar kedua orang tua kamu memberi restu."


"Kita akan memohon restunya bersama-sama. Kita berjuang bersama. Asal kita selalu bersama, pasti bisa melalui ujian. Cinta kita sedang diuji, Sayang," sahut Brandon sembari merengkuh tubuh Gita agar masuk ke dalam pelukannya.

__ADS_1


Brandon mengusap punggung Gita dan sesekali mencium pucuk kepalanya. Mereka saling memeluk erat seolah tak ingin terpisah.


Cieee... yang lamarannya diterima. Pasti seneng banget 🤭


__ADS_2