Cinta Sendiri

Cinta Sendiri
85. Maaf, Aku Tidak Bisa Mencintaimu


__ADS_3

Perasaan Gita rasanya tidak karuan. Tadi saat di depan Brandon dia bisa bersikap baik-baik saja. Sekarang setelah sampai di apartemen, jantung Gita berdetak kencang seperti habis lari maraton. Padahal tadi dia berlari tak jauh, hanya beberapa meter saja.


Tidak jauh beda dengan Gita, jantung Brandon pun juga berdebar-debar seolah ingin keluar. Brandon pikir hanya dengan melihat Gita, sudah bisa mengurai rasa rindunya. Akan tetapi hati dan pikirannya tidak sejalan. Rindu itu semakin dalam.


Tanpa Gita sadari saat dia tertawa bersama Brandon tadi, Leonard mengamatinya dari kejauhan. Leonard juga mengikuti Gita pulang hingga tiba di apartemennya. Leonard sudah mengetahui kenapa Gita tiba-tiba menjauh darinya. Sang ibu yang tidak memberi restu.


Leonard menekan bel berulang kali. Menunggu beberapa saat baru pintu terbuka.


"Sorry, tadi aku ke kamar man... di!" ucap Gita sembari membuka pintu, betapa terkejutnya ia ketika dilihatnya Leonard yang datang.


Tanpa dipersilakan masuk, Leonard langsung menerobos pintu dan duduk di ruang tamu.

__ADS_1


"Bisa kamu jelaskan kenapa?" tembak Leonard tanpa basa-basi. Dia merasa cemburu melihat Gita tertawa bersama Brandon di dermaga tadi.


"Apa yang kenapa? Sudah aku bilang tempo hari, aku belum bisa menerimamu. Ternyata hatiku masih miliknya. Aku masih terlalu mencintai dirinya. Itulah kenapa aku ingin pergi darimu, agar kamu bisa bahagia dengan wanita lain yang bisa mencintaimu sepenuh hati. Apa masih kurang jelas?" jawab Gita dengan suara yang cukup tinggi sehingga membuat Leonard terkejut.


"Kamu bohong. Tatap mataku, biar aku cari sendiri alasanmu meninggalkanku!" perintah Leonard dengan suara tak kalah tinggi. Keduanya sama-sama dikuasai oleh emosi.


Gita pun memaksakan diri untuk menatap Leonard. Dia terus mengingat kejadian tadi di dermaga, saat bersama Brandon. Hal ini ditujukan untuk mengingat betapa besar cintanya pada Brandon saat itu. Dan itu berhasil karena Gita dengan tenang menatap mata Leonard.


Akhirnya Leonard pun percaya jika Gita tidak mencintainya. Walaupun sebenarnya ragu, akan tetapi dia berusaha menghormati keputusan wanita yang telah mencuri hatinya.


Tanpa Leonard tahu, kedekatan mereka berdua telah mewarnai kehidupan Gita. Sehingga tidak mudah bagi Gita untuk melepas. Seperti pepatah yang mengatakan cinta karena biasa. Itulah yang Gita rasakan. Akan tetapi ancaman nyonya Elisabeth membuat Gita harus membuang perasaan itu.

__ADS_1


"Baiklah. Terima kasih atas perhatianmu selama ini. Terima kasih sudah mau berusaha mencintaiku," sahut Leonard dengan hati yang hancur.


Leonard pun pergi meninggalkan apartemen Gita. Dia berjalan dengan lunglai. Sebenarnya dia ingin mengajak Gita memperjuangkan cinta mereka. Akan tetapi melihat Gita menyerah dia pun tak ingin memaksa. Apalagi sejak awal dia yang memaksa Gita untuk menerima cintanya.


Dulu Leonard pernah berjanji, jika Gita tetap tidak bisa mencintainya. Leonard akan melepaskan Gita. Tidak akan memaksa Gita untuk menjalani hubungan tanpa dilandasi cinta oleh kedua pihak.


Sepeninggal Leonard, Gita menangis meraung-raung seperti anak kecil yang kehilangan mainannya. Gita menjerit untuk melepaskan beban di hatinya. Satu persatu orang terdekatnya pergi meninggalkan dirinya sendiri.


"Kenapa harus aku yang merasakan semua ini? Baru saja aku belajar membuka hati, mencoba mencintainya. Sekarang harus terpisah karena terhalang restu."


"Tuhan, apa begitu hinanya diri ini sehingga harus mengalami sakit berulang kali? Apakah aku tidak pantas untuk dicintai? Atau aku yang terlalu tinggi menempatkan diri sehingga orang pun malas menggapaiku?"

__ADS_1


Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikiran Gita dengan air mata yang terus mengalir dengan derasnya. Dia tidak pernah menyangka jika akhir kisah cintanya bersama Leonard akan memberikan luka yang tidak kalah sakitnya dengan luka mencintai sendiri.


__ADS_2