
"Apaan? Cepet ngomong!" bentak Gita begitu Dandy memasukkan ponselnya ke saku celananya.
"Nggak sabaran banget jadi orang, Neng! Syaratnya kamu harus jadi istriku dulu, baru semua kebutuhan kamu aku tanggung. Tidak hanya kuliah saja, semuanya!" jawab Dandy sambil memainkan alisnya dengan senyum terkulum.
"Ogah!" teriak Gita kesal, ternyata dia hanya dikerjai oleh Dandy.
"Jangan marah! Aku hanya bercanda. Semoga kita segera dipertemukan dengan jodoh kita, sehingga persahabatan kita tetap terjalin. Aku harus segera pulang, perusahaan keluarga kami sedang butuh aku karena ayahku masuk rumah sakit." ucap Dandy serius. Dalam hatinya selalu berharap dirinya berjodoh dengan Gita.
"Tenang aja! Aku nggak marah kok. Kamu hati-hati! Salam buat keluarga kamu di sana. Terima kasih sudah mau jadi sahabatku dalam suka dan duka," jawab Gita dengan senyum terukir di bibir.
"Boleh aku memeluk kamu?" tawar Dandy ragu, takut permintaannya ditolak Gita.
Tanpa menjawab pertanyaan Dandy, Gita memeluk Dandy dengan erat. Mata beningnya berkaca-kaca, penuh dengan embun air mata.
__ADS_1
"Jangan menangis! Aku tidak bisa melihatmu menangis," bisik Dandy ketika terdengar Isak tangis Gita, bahkan pelukan Gita sangat erat seolah enggan lepas.
Isak tangis Gita malah semakin keras, entah kenapa setiap bersama Dandy, Gita selalu bisa menunjukkan apapun keadaan dirinya saat itu. Berbeda dengan Leonard, Gita lebih tampak tegar dan tak tersentuh.
Gita menangis karena kembali merasa sendiri di perantauan. Gita dan Dandy datang ke Melbourne di waktu yang hampir sama. Mereka kenalan dan menjadi teman dekat bak keluarga. Walaupun Dandy sempat pulang setelah lulus sarjana, akan tetapi dia kembali lagi untuk mengambil magister di kampus yang sama.
Gita dan Dandy kuliah dengan jurusan yang berbeda, namun mereka bisa dekat dan akrab. Setelah Dandy lulus magister, Gita menjadi lebih dekat dengan Leonard. Kini, dia harus menjauhi Leonard. Selain itu juga, Dandy harus segera pulang karena keluarga dan perusahaannya lebih membutuhkan dia.
"Sudah! Kamu harus segera ke bandara agar tidak ketinggalan pesawat. Aku baik-baik saja," ucap Gita setelah tenang.
Gita mendorong punggung Dandy sambil memaksakan senyumnya. Gita terus mendorong tubuh kekar itu tanpa mau mendengar suara Dandy.
"Baiklah. Jaga dirimu, kalau ada apa-apa segera hubungi aku atau keluargamu! Aku pergi," pamit Dandy seraya melangkahkan kakinya meninggalkan apartemen sederhana milik Gita.
__ADS_1
"Kalau kamu seperti ini, aku semakin berat untuk meninggalkan Melbourne. Setelah selesai urusanku, aku janji akan segera ke sini. Tapi, kamu diam dulu. Senyumlah! Wajahmu tidak cocok dipenuhi air mata." Dandy melepaskan pelukannya kemudian menatap wajah Gita yang sendu.
"Tatap mataku! Percayalah apapun keadaanmu, aku selalu mencintaimu. Aku tidak ingin melihat orang yang aku cintai menangis. Walaupun kamu bukan milikku saat ini, aku tetap ingin melihat kamu bahagia. Air matamu adalah sakitku, dan tawamu adalah bahagiaku," perintah Dandy dengan memohon.
Setelah itu, Dandy meninggalkan Gita sendiri yang masih terisak.
"Aku kenapa tidak mau kehilangan kamu, tidak mau jauh darimu. Anehnya lagi kenapa bersamamu aku merasa sangat nyaman. Aku merasa terlindungi. Berbeda dengan Leonard, setiap hari pasti bersitegang karena beda pendapat."
Gita mengambil oksigen sebanyak mungkin hingga memenuhi rongga paru-parunya, dan menghembuskan perlahan untuk menghentikan tangisnya.
"Aku sendiri lagi, sekarang! Tidak ada teman untuk bersandar. Kembali seperti saat baru tiba di tempat ini, saat belum begitu akrab denganmu. Saat itu aku sendiri tanpa teman sampai suatu saat kita bisa berbincang akrab. Kemudian hadir Leonard yang ikut mewarnai hariku di sini. Sepertinya mulai sekarang aku harus membiasakan diri untuk sendiri. Tidak berharap pada manusia agar aku tidak kembali kecewa."
Gita beranjak dari duduknya kemudian masuk ke kamarnya. Tak berapa lama, akhirnya Gita pun mengarungi dunia mimpi di siang menjelang sore hari. Lelah menangis membuatnya tidak bisa membuka mata hingga siang berganti malam.
__ADS_1