
"Rendang? Tahu saja kamu, kalau aku suka rendang!" ucap Gita excited ketika melihat rendang dalam wadah yang dibawa oleh Dandy.
"Iya, ini rendang Solo bukan rendang Padang. Cocok dimakan sama gudeg Jogja. Apalagi kalau ada kerupuk, tambah maknyus!" sahut Dandy sembari membuka semua wadah makanan yang dibawanya. Ada rendang, gudeg dan sambal krecek.
"Yaa, aku gak ada kerupuk nih! Ini aja pasti enak banget. Aku cobain ya?" tanya Gita sembari mengambil masing-masing masakan khas Jogja tersebut.
Dandy pun mengikuti apa yang dilakukan oleh Gita. Mengisi piringnya dengan nasi dan semua lauk yang dibawanya tadi.
"Hmm... enak banget! Perpaduan rasa yang sangat pas, ada manis dan gurih dari rendang serta gudegnya. Terus pedas sambal kreceknya pas banget. Komplit rasanya ada manis, gurih dan pedas." puji Gita dengan mulut penuh sembari mengunyah makanannya.
"Jangan banyak bicara! Telan dulu makannya, nanti tersedak!" Dandy mengingatkan Gita agar tidak berbicara saat makan.
Gita hanya mengacungkan jempolnya sambil terus menyuapkan makanan ke mulutnya. Dia makan dengan lahap.
Gita yang hobi kulineran membuat Dandy gampang mendekatinya. Dandy tahu apa yang menjadi kesukaan Gita, oleh karena itu tidak susah rasanya saat mendekati Gita.
__ADS_1
"Alhamdulillah, kenyang banget!" ucap Gita setelah mereka selesai makan dan mencuci piring.
"Kamu kek nggak makan setahun tahu, iya nggak?" ejek Dandy sambil tertawa.
Dandy melihat bagaimana tadi saat Gita yang dengan semangat menghajar makanan. Gita bukanlah gadis yang suka jaim di depan para lelaki, Gita adalah gadis yang apa adanya. Tingkah lakunya selalu apa adanya, tidak pernah dibuat-buat ataupun ditutupi. Gita selalu bersikap seperti inilah aku adanya.
"Biarin, wlek!" sahut Gita cepat.
"Enak kok dilarang makan banyak!" sambungnya kemudian.
"Masak sih? Kok aku nggak ngerasa ya?"
"Dasar! Makan itu untuk hidup, bukan hidup untuk makan. Makanya makan itu secukupnya saja, jangan berlebihan!" nasehat Dandy dengan suara lembut.
"Iya, iyaa! Pak ustadz ceramah mulu," ledek Gita sambil tertawa.
__ADS_1
"Dibilangi juga, malah ngeledek! Udah bandel, masih berani ngeledek lagi. Hhh..." Dandy berucap sembari menggelengkan kepalanya.
*
*
*
Brandon masih menginap di hotel, rencananya dia akan membeli apartemen yang dekat dengan Gita. Akan tetapi sampai saat ini, dia belum mendapatkan apartemen kosong yang satu flat dengan Gita. Sebenarnya ada satu yang kosong, tepat di depan apartemen Gita. Hanya saja pemiliknya masih ada urusan di luar negeri. Minggu depan baru pulang.
Brandon sudah berulang kali menghubungi pengurus apartemen itu. Akan tetapi, orang itu tidak berani melepas apartemen tersebut tanpa kehadiran pemilik sebelumnya. Brandon pun mencoba menanyakan apartemen yang satu lantai di bawah Gita. Akan tetapi semua sudah terisi, sehingga mau tidak mau, Brandon harus bertahan di hotel sampai bisa melakukan transaksi jual beli apartemen itu.
"Susahnya buat dapetin hatimu, padahal aku sangat yakin kamu masih mencintai aku. Apakah kesalahanku tidak termaafkan, sehingga kamu tega mengingkari perasaanmu sendiri?" gumam Brandon seraya menghembuskan asap rokok dari mulutnya.
Brandon bingung mencari cara mendekati seorang perempuan. Dia bahkan belajar dari Mbah Gugel. Dia mencari artikel yang berkaitan dengan jatuh cinta dan cara mengungkapkannya. Lagi-lagi artikel itu tidak memberinya ilmu.
__ADS_1
"Besok alasan apalagi ya, biar tidak bertemu tanpa drama seperti tadi. Penasaran banget, pengen tahu tentang kehidupannya di sini seperti apa. Apa aku sebaiknya mengikuti aktivitas dia secara diam-diam?"