Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Pak Hari mengamuk.


__ADS_3

Om Agung dan Bu Marni tiba ditempat yang mereka tuju. Sebuah Rumah Sakit khusus pasien gangguan jiwa, yang terletak dipinggiran kota. Bu Marni menggandeng lengan Pak Hari dengan erat, ketika memasuki gerbangnya. Bukan karena masih cinta, tapi hanya agar Ia merasa tenang dan tak melawan selama perjalanan.


"Kenapa kemari?" tanya Pak Hari, yang tak terlalu memahami tempat apa itu. Fikirannya sudah tak fokus lagi, hanya tetap menggenggam tas hitamnya yang berisi uang banyak.


"Ada seorang dokter, Dia memiliki ruko. Nah kita diskusi disini, tunggu ya?" Bu Marni mengajaknya duduk bersama di kursi tunggu, sementara Om Agung mendaftarkan Pak Hari untuk konsultasi.


Mereka membawanya ke poli, untuk konsul pada psikiater terlebih dahulu. Mereka berharap, ini tak terlalu parah hingga dapat di rawat jalan saja. Om Agung akan membawanya pulang ke kampung. Istrinya bersedia dengan ikhlas, jika harus merawat Kakak iparnya. Asalkan, tak terlalu parah.


Panggilan untuk Pak Hari, mereka menggandenganya kembali masuk. Psikiater mulai mengajaknya berbincang, dan sesekali memancing seberapa parah kadar stresnya kali ini. Beliau hanya menggeleng, ketika bahkan Pak Hari mampu memukul orang yang mau menyentuh tas uangnya.


"Ini, memiliki resiko kekerasan. Halusinasinya juga sudah parah, meski tak terlalu tampak saat ini. Tapi, ketika sendiri, Ia akan semakin parah nantinya."


"Jadi, harus bagaimana, Dok?" tanya Om Agung. "Apakah, Kakak saya harus di rawat?"

__ADS_1


"Ya, harus di rawat. Tapi untuk awalan ini, Beliau masih. Harus di tampung di ruang isolasi.. Maaf, ruangannya seperti penjara. Apa, kalian bersedia?"


Om Agung hanya tertunduk lemah. Ingin menolak, tapi Ia juga tak mampu mengurus jika separah itu. Jika di rawat intensif, Pak Hari akan terkontrol, dan Ia dapat menjenguknya, minimal seminggu sekali.


"Kalian fikir aku gila? Kalian yang gila? Pasti kalian akan mengambil uangku, kan?" Pak Hari terpekik, ketika kesadaran masuk ke dalam otaknya. Ketika Ia sadar, Ia di dalam Rumah Sakit jiwa sekarang.


"Mas, ini demi kebaikanmu." Om Agung menggenggam tangannya, agar tak mengamuk dan kabur.


" Lepaskan! Saya tidak gila! Mereka yang gila karena mengincar harta saya! Mereka yang jahaaaaat!!!" Pak Hari meraung-raung, ketika Ia diseret masuk ke dalam sebuah ruangan. Om Agung hanya terduduk lesu, bahkan tak mampu menatap sang Kaka dengan kondisi saat itu.


" Setidaknya, disini kondisinya terkontrol, Gung." Bu Marni menepuk, dan mengusap bahu mantan adik iparnya itu.


"Sejahat dan seburuk apapun dia, dia tetap Kakakku, Mba. Keluarga ku satu-satunya, sejak Ayah dan Ibu meninggal. Kamu bahu membahu, menghidupi diri kami sendiri sejak remaja."

__ADS_1


"Ia, Mba sangat tahu itu. Fokuslah ke keluargamu disana. Disini, Mba akan bantu mengawasi dan menjenguk dia beberapa hari sekali. Kamu tahu sendiri, pekerjaan Mba juga banyak."


Om Agung hanya mengangguk, dan kembali berdiri untuk mengurus segala administrasi yang diperlukan.


***


Pintu ruangan dibuka. Seorang perawat keluar, untuk menjelaskan keadaan Lila pada Iam. Ia pun langsung berdiri menghampiri sang suster dengan penuh rasa cemas.


"Bagaimana istri dan bayi saya?" tanya Iam padanya.


"Sangat beruntung, karena bayi masih bisa diselamatkan. Tapi, untuk kedepan, Ibu harus bedrest total selama beberapa minggu. Takutnya, yang di dalam masih ringkih dengan trauma barusan."


Iam menghela nafas begitu lega. Ia mengangguk, dan akan menuruti semua yang dokter perintahkan padanya. Tak berapa lama kemudian, Lila dibawa keluar dengan brankarnya. Masih begitu lemah, bahkan dengan selang oksigen dihidungnya. Iam langsung menghampiri, dan membantu mendorong hingga tiba diruangan rawat inap yang telah disediakan.

__ADS_1


__ADS_2