Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Perawat pribadi Lila


__ADS_3

"Mas, bangun, Mas," Lila memainkan pipi Iam, menekan-nekannya dengan gemas. Iam menggeliat, meregangkan ototnya. Matanya langsung melotot, ketika melihat Lila tengkurap ketika membangunkannya. Ia seketika membalik tubuh yang masih basah dengan kepala di lilit handuk itu.


" Mas, kenapa? Ini masih pagi, masa mau...."


"Hsssst! Aku bukan ingin lagi. Tapi, kamu. Kenapa tengkurep? Udah dilarang, juga." omelnya, dengan wajah cemberut kali ini.


"Maaf, Lila lupa." ucapnya penuh sesal. Iam beranjak dari dirinya, lalu melangkah ke kamar mandi dengan handuk di pundaknya.


Lila yang tengah sensitif, tak enak hati ketika melihat ekspresi Iam padanya. Yang biasanya membuka mata dengan penuh senyum, kali ini sedikit mendung karena salahnya. Memasak pun menjadi kurang semangat, karena tak rasa tak enak dalam hatinya.


"Gini ya, kalau suami ngambek? Ngga enak, serius," gumamnya, sembari mengiris wortel untuk sarapan mereka berdua.


"Sayang, bajunya mana?" panggil Iam yang baru saja keluar dari kamar mandi. Baju dan perlengkapan nya belum siap, dan Lila tak ada di kamar. Ia mencari, dan menghampiri sang istri di dapurnya. Memeluknya dari belakang, dan mengecupi pipinya dengan gemas. Tapi, Lila yang terkejut, justru mengenai tangannya dengan pisau.


"Aakkh, sakit," pekiknya. Dan Iam dengan sigap meraih tangan itu dan menyesap sedikit darah yang keluar.


"Mas, jangan," Lila berusaha menarik jari itu dari Iam. Iam melepas sesapannya, tapi bukan genggamannya. Di tatapnya Lila dengan tajam, tapi Lila berusaha menghindar darinya.

__ADS_1


"Lila kenapa? Kok ngga fokus?" tanya Iam, tapi Lila masih menghindari tatapannya. Matanya nanar, hingga Iam harus meraih dagunya agar bertemu pandang. "Hey, kenapa?"


"Mas marah, sama Lila?"


"Kenapa marah?"


"Tadi cemberut? Lila cuma belum terbiasa, dengan kehamilan, Lila. Perutnya masih rata, jadi masih suka lupa." jawabnya, mendongakkan sedikit kepalanya, agar dapat menatap mata Iam dengan sempurna.


Iam hanya menghela nafas. Ia faham, jika memang Lila tengah dalam keadaan yang sensitif. Apalagi, Ia jarang keluar dan tak memiliki teman hanya untuk diajak berbagi keluh kesah.


"Maaf, ya. Tadi, hanya terkejut. Bukan bermaksud memarahimu. Maaf," peluknya pada sang istri. Lila membalas pelukan itu dengan erat. "Maafin Lila juga,"


Iam kemudian melepas Lila, dan mencari seragamnya sendiri. Lila kembali memasak, dengan menu yang ada. Dan mereka sarapan seperti biasa, dengan wajah yang kembali ceria.


"Jadi, mau cari kabar tentang Bapak?" Lila menagih janji Iam semalam..


"Ya, udah dari semalam cari infonya. Tapi belum dapat kabar. Bapak ngga ada di rumah, dan semua tetangga nya sudah istirahat."

__ADS_1


"Hmm, iya. Makasih ya, Mas." Lila kembali mengulurkan senyumnya. Ia pun melepas Iam keluar dari Apartemen mereka, dengan kecupan mesra seperti biasanya.


"Eh, Mas Iam. Mau berangkat kerja?" sapa Dinar, yang juga keluar untuk membuang sampahnya.


"Ya," angguk Iam. Mereka turun bersamaan, dan sesekali Iam berusaha ramah dengan tetangganya itu.


"Mana Mas Iwan? Jarang kelihatan sekarang?" tanya nya pada Dinar.


"Mas Iwan, sekarang sering keluar kota. Pulang, paling seminggu sekali. Makanya, kadang saya sering nyamperi Lila. Sepi soalnya. Boleh, kan?"


"Ya, sangat boleh." jawab Iam dengan senyum manis, yang selalu bisa melelehkan hati siapapun. "Mba Dinar, sekolah lulusan apa?"


"Saya? Saya maunya perawat, tapi ngga lulus. Nyangkut di semestar Lima. Tanggung, Satu semester lagi KTI sama ujian. Tapi, sama Ayah disuruh nikah sama orang sana. Dulu, sebelum sama Mas Iwan." jelasnya dengan nada malu-malu.


"Baiklah, keluarlah dari Club."


"Hah?" Dinar memicingkan mata.

__ADS_1


"Ya, keluar dari sana, dan jadi lah perawat pribadi Lila. Gaji, akan saya bicarakan nanti. Saya kerja dulu, dan akan saya hubungi," Iam berjalan cepat menuju mobilnya. Meninggalkan Dinar yang masih diam seribu bahasa dengan ucapannya barusan.


"Memang, dia suka meninggalkan banyak teka teki." gumam Dinar.


__ADS_2