Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Wow, gede banget!


__ADS_3

"Bukan mau membuang. Hanya ingin Papa mengintrospeksi diri, akan semua kesalahan Papa."


"Sudah Papa bilang, Papa ngga ada sangkut pautnya dengan kematian bayi kalian. Itu semua kerjaan Shandy, dia sengaja memfitnah agar Papa pisah dengan Mamimu. Kenapa kamu selalu berfikiran buruk dengan Papa. Biar bagaimanapun, itu cucu Papa, Iam."


"Ya, seperti itulah. Seperti Papa memperlakukan Lila dengan segala rasa curiga Papa. Seolah Lila membuat kesalahan yang fatal bagi keluarga kita." jawab Iam. Sang Nenek hanya bisa diam, mendengar perdebatan dingin antara anak dan cucunya itu. Ia tak dapat berbuat apapun, dengan semua yang Ia lihat saat ini.


" Hentikan, Wira! Sudah lah, jangan diteruskan. Kamu sudah ketangkap salah, dan Iam sudah sangat lunak terhadapmu. Ayo, ikut Ibu pulang, Nak." rayu sang nenek pada putranya.


Iam menghela nafas panjang berkali-kali. Lalu mengambil sebuah amplop di dalam saku celananya dan memberikannya pada sang Nenek.


" Bulanan, akan selalu ku kirim sesuai hak Papa. Karena aku pun harus mengurus Dona disini. Lagi-lagi, aku harus bertanggung jawab dengan hal yang begitu berat."


"Kamu diuntungkan dengan tanggung jawab itu," Sergah sang Papa.


"Ya, semua ada timbal baliknya." Iam merapikan diri, lalu bergegas pergi dari sana. "Nanti, Siska akan kemari untuk mengantar kalian. Bersiaplah." Ia melangkahkan kaki keluar dari rumah itu.


Iam kembali menyetir. Fokusnya kembali kerumah dan menyambut Lila ketika bangun dari tidurnya. Ia membayangkan wajah manis itu dengan senyum yang seperti biasa ramah, setelah sempat hilang beberapa hari ini. Ia pun menyempatkan diri untuk mampir ke toko bunga, untuk memberikan Sebuah bucket besar mawar putih untuknya.

__ADS_1


"Yang ukuran mana, Pak?" tanya sang florist.


"Saya mau, ukuran yang paling besar disini. Untuk istri saya. Kami baru saja kehilangan bayi kami. Jadi, apapun akan saya lakukan untuk membuatnya bahagia." ucap Iam, dengan menyentuh setangkai mawar putih yang terpajang disana.


"Saya turut berduka cita, Pak. Baiklah, saya akan rangkaikan yang terbaik untuk anda." ucapnya.


Iam mengangguk, lalu duduk menunggu pesanannya siap. Lila tak pernah meminta apapun padanya, jadi Ia berusaha memberikan yang Lila suka tanpa pernah diminta.


"Pak, siap." panggil sang florist, dengan satu bucket bunga jumbo. Bahkan, tubuhnya tenggelam dengan rangkaian bunga itu. "Tulisannya apa, Pak?"


Enam puluh tangkai mawar putih, telah menjadi sebuah buket bunga yang begitu indah. Iam membawanya, dan menaruhnya tepat di sebelah Ia duduk menyetir.


"Iam Comming Baby," ucapnya dengan riang gembira.


Iam telah tiba di apartemen. Suasana tampak sepi, dan rupanya Bu Marni dan Aul tidur berdua di kamar yang satunya. Ia segera masuk ke kamar, tepat ketika Lila mulai membuka mata.


"Hello, Baby. Baru bangun?" Iam menghampiri Lila dengan bunganya.

__ADS_1


"Wow, gede banget?" kaget Lila, dengan matanya yang membulat menatap bunga besar itu. Bahkan, nyaris tak terangkat oleh tubuhnya yang kecil. Sudah dasarnya kecil, makin kurus karena semua derita yang Ia alami selama ini.


"Lila jadi pengen sesuatu." celetuknya.


"Apa?" tanya Iam, dengan membelai rambutnya yang lembut.


"Pengen itu, yang kayak orang-orang. Yang katanya, nginep di hotel terus tempat tidur nya ditaburin bunga mawar. Romantis banget, Mas."


"Ngga enak, sayang. Nanti mawarnya pada lengket di badan. Jadinya, kita ngga fokus, gimana tuh?"


"Hah, fokus apa?" tanya Lila, dengan menyipitkan matanya.


"Hadeeeh, kayak ngga tahu aja. Emang Lila kalau lihat video begitu, mereka dalam rangka apa, dan mau ngapain?"


"Lila ngga tahu, Lila cuma lihat aja." jawabnya dengan datar.


"Astaga, yaudah, ngga usah dibahas. Lagi puasa malah diajak bahas itu. Ngeselin." omel Iam. Sedangkan Lila hanya bengong melihat kelakuan suaminya yang tampak super sensitif sekarang.

__ADS_1


__ADS_2