
Lila hanya menyipitkan matanya, menatap bodoh ke arah sang suami yang menatapnya kesal. Akhirnya Iam menghampirinya, dan menyentil perut rata itu dengan jarinya.
"Aaaakh, sakit. Jahat!" Lila lalu menyingkir, dan menjauh dari sang suami.
"Kenapa panggilan ku ngga di jawab?"
"Lila ngga bawa Hp, Mas. Hp nya dikamar. Tadi ketiduran, abis ngobrol sama Ibu."
"Terus, Ibu mana?" tanya Iam, yang duduk di sampingnya saat ini..
"Pulang. Ibu ngambek, karena Lila belain Mami." jawab Lila, yang memulai kembai curhatnya. Ia menceritakan pasal Bu Marni yang makin posessif saat ini. Dan ketidaknyamanan nya dengan Mami Dona yang semakin dekat dengan mereka.
"Lila, udah ngga cemburu, kan?" tanya Iam, dan di jawab gelengan kepala Lila.
"Ngga cemburu, dan udah sangat terbiasa. Hanya saja, Ibu yang terlalu trauma. Padahal, Lila pun sangat sehat untuk saat ini."
Iam membuka jasnya, lalu merebahkan diri sejenak di sana. Tubuhnya terasa begitu lelah, dengan segala pekerjaan yang harus Ia lakukan. Lila pun tak diam, dan memijit lengan Iam meski tenaganya belum terlalu kuat saat ini.
" Apa, Papa kembali kemari saja?" tanya Iam. Lila melotot mendengarnya. Mendengar Iam menyebut nama itu saja, Lila sudah panas dingin dan gemetaran.
"Mas, serius? Tapi, Lila takut. Trauma Lila sama Papa, ngga seperti trauma bersama Mas, dulu. Ini beda." ucap Lila, menghentikan aksinya.
"Tapi, kalau Dona yang kesana. Dia akan lebih tertekan. Dia yang akan mengurus dua orang disana. Mana lagi hamil."
__ADS_1
Lila menghela nafas panjang, lalu menidurkan dirinya, tepat di atas tubuh Iam. Meletakkan telinga, tepat diatas degup jantungnya yang terdengar begitu merdu. Dan Iam mengusap rambut nya dengan lembut.
"Cuma takut, kalau Papa masih benci Lila. Baru saja hati ini tenang, Mas."
"Ya, maaf jika aku kurang bisa tegas." jawab Iam.
Lila mendongakkan kepalanya, merambat naik mendekati wajah sang suami.
"Apa?" lirik Iam padanya. Sementara Lila hanya menaik turunkan alisnya dengan begitu gemas.
"Jangan menggoda, aku belum mandi."
" Ayolah, Mas. Mandi dulu, Lila tunggu."bujuknya.
"Massss," kecup Lila di bibir sang suami dengan brutal.
"Kau mau apa, sore ini?"
"Duduk di pinggir jalan, menatap orang-orang yang lewat."
"Ngga ada kerjaan lain, Lila?"
"Masss, pengen. Daripada Lila minta, yang lebih susah." bujuknya lagi, dengan mengusap sekujur tubuh Iam, hingga suaminya itu kegelian.
__ADS_1
"Aaah, iya iya. Tunggu bentar, aku mandi." Lila pun langsung bergeser dan menggelinding menjauh dari suaminya. Terlentang tenang mengangguk menuruti perintah, dengan wajah yang riang.
"Jangan lama-lama mandinya." rengeknya.
Iam hanya berdehem, lalu keluar meninggalkan sang istri dengan tingkah nya yang makin aneh. "Untung sayang," gerutunya.
Mereka pun pergi, setelah Iam siap. Lila bahkan meminta Iam naik motor, karena ingin udara yang segar. Meski di kota besar, tak ada udara yang akan menyegarkan.
"Dimana nongkrongnya?" tanya Iam.
"Bentar, beli cemilan dulu."
"Kita mau lihat orang di jalan, bukan mau nonton bioskop, sayang."
"Pokoknya, cari cemilan. Titik!" dan Iam pun menurutinya. Membelikan beberapa cemilan, tak lupa dengan minuman dan Ice creamnya.
Lila mengarahkan tujuan, hingga akhirnya berhenti di sebuah trotoar jalan raya yang begitu ramai dengan kendaraan. Lila meminta Iam, untuk mengangkat nya duduk di pagar jalanan, sembari menikmati cemilan yang ada. Tak lupa, dengan pertunjukan yang lewat di depan mata.
"Lila tahu?"
"Apa, Mas?" tanya nya dengan santai.
"Aku merasa seperti cabe-cabean, yang hobi nongkrong di pinggiran jalan. Menunggu seseorang untuk menggoda dan mencolekku." jawab Iam, dengan ekspresi datarnya. Entah, apa perasaannya saat ini.
__ADS_1