Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Kebohongan demi kebahagiaan


__ADS_3

Lila perlahan menoleh, membuka mata dan menyambut Iam dengan senyumannya. "Bayi kita?" tanya nya dengan suara yang begitu lembut. "Dia selamat, dia kan kuat, kayak Maminya." ucap, dan usap Iam di perut Lila..


Beberapa perawat datang, bersama Dokter yang sejak awal menangani Lila. Mereka semua mulai memeriksa kondisi Lila dengan teliti, dan tingkat kesadaran yang sudah di capai kali ini. Iam mundur, dan menarik Dinar agar ikut dengannya.


"Lihat foto ini," Iam membuka Hp, dan memperlihatkan foto Papa dan Mami Dona padanya. "Mereka adalah Papa dan Mami tiri saya. Perhatikan fotonya, ingat, dan jaga. Jangan sampai, mereka masuk ke dalam ruangan ini." pinta Iam.


"Lalu, siapa yang boleh masuk?" tanya Dinar, memilah yang boleh dan yang tidak boleh di lakukan. Iam kembali memperlihatkan beberapa foto, Bu Marni, dan foto Aul. "Mereka boleh masuk. Mertua dan Adik kandung saya." ucap Iam.


"Rasanya, ingin ku hancurkan semua yang menyakiti Lila. Tapi, daripada membuang tenagaku untuk mereka, lebih baik ku pakai untuk mengurus istriku. Dia lebih butuh aku." gumam Iam, yang terus berusaha meredam emosinya. Ia terus berusaha tersenyum, apalagi didepan istrinya.


" Tuan Ilham?" panggil perawat padanya. Iam menghampiri, dan langsung berbicara dengan dokter di ruangan itu juga. "Ada apa, Dok?" tanya Iam, dengan wajah yang tak dapat di sembunyikan, jika Ia benar-benar tegang kali ini.

__ADS_1


"Nyonya Lila, benar-benar harus bedrest total setelah ini. Setidaknya seminggu, tanpa bangun dari tempat tidur. Apa ada yang akan melayaninya?"


"Ya, dia punya perawat sendiri, sekarang." jawab Iam, melirik Dinar yang merapikan Lila saat ini.


"Baiklah, mungkin besok boleh pulang. Malam ini, kita observasi dulu semalam. Dan... Stresnya, tolong dikurangi. Tampak sekali banyak tekanan saat ini." pinta sang dokter padanya. Iam mengangguk, karena memang sebelum diperintah, Ia sudah menjaga nya agar tak terpancing stres lagi.


" Mas," panggil Lila, menjulurkan tangannya pada sang suami. Iam menghampiri dan menyambut tangan tersebut, lalu menciumnya. "Ya, ada apa?"


"Baiklah, bentar lagi, Ibu juga dateng. Tunggu Ibu, bentar lagi, ya?" senyum terurai dari Iam. Sangat berbeda, ketika Lila belum sadarkan diri, tadi. Dinar hanya menggrleng, dan menghela nafas melihat betapa cinta Iam pada Lila.


Tak lama kemudian, pintu di buka. Bu Marni masuk dan menghampiri Lila dengan wajah khawatirnya. Dibelakangnya ada Om Agung, yang membuat Lila sedikit bertanya kenapa Ia ada disini.

__ADS_1


"Oh, Om cuma ada urusan sedikit tadi. Lagi mampir ngopi ke rumah Ibumu, malah dapet kabar. Jadi ikut aja." jawabnya. Hela nafas Iam begitu lega, karena Om Agung bisa diajak kerjasama. Meski harus terus berbohong untuk menutupi keadaan yang ada..


Iam kemudian pamit, karena harus menyelesaikan banyak tugas di kantornya. Sebenarnya memilih mendampingi sang istri, tapi semua perlu Ia kerjakan. Apalagi, mengenai peralihan yang baru Ia rencanakan. Sedikit, hanya untuk memberi peringatan pada Papanya. Ia juga tak mau, keluarga semakin hancur gara-gara hal ini. Karena masih ada Aul yang harus Ia fikirkan.


***


"Pak Wira, Ilham pengajukan pemisahan harta warisan pada anda." ucap sang pengacara, yang mendadak menghampirinya. Ia pun memberikan beberapa lembar kertas yang terbungkus rapi di dalam mapnya. Papa Wira langsung meraih dan membacanya dengan teliti.


"Semarah ini kah, Iam padaku? Bukankah, bayinya selamat?"


"Seperti rasa kecewa tak beralasan yang Anda ucapkan pada Lila. Iam pun merasakan hal yang sama saat ini. Hanya, kekecewaan Iam, selalu memiliki alasan dan bukti yang kuat." jawab pengacara itu, dengan tegas dan lugas.

__ADS_1


__ADS_2