Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Tetangga baru


__ADS_3

"Hay, perkenalkan... Kami tetangga baru disini. Pas disebelah itu."


"Oh, iya. Saya Lila, tinggal sama suami saya Ilham." Lila berusaha bersikap ramah, meski sedikit canggung..


"Saya Dinar, ini suami saya Iwan."


Mereka berjabat tangan sejenak. Dinar tampak begitu ramah, dan memberikan sekotak kue pada Lila. Hanya saja, Iwan berbeda. Sedikit pendiam, tapi memperhatikan Lila dari atas sampai bawah dengan tatapan nya yang sedikit mengganggu.


"Maaf, suami saya masih tidur. Nanti, saya akan bawa untuk menayapa kalian." ucap Lila.


Dinar mengangguk, "Baiklah, maaf karena telah mengganggu pagi-pagi."


Ia pun mengajak suaminya pergi, meski tatapan itu masih fokus pada Lila.


"Ih, apaan sih?" Lila bergidik, lalu kembali masuk kedalam.


"Siapa, Sayang?" Iam baru bangun dari tidurnya, dan langsung menghampiri sang istri.


"Tetangga baru, Mas. Ngajak kenalan, sama kasih ini." Lila membuka kuenya.


Tampak enak, sebuah cake keju dengan tampilan yang sempurna. Lila memotong untuk mencicipnya, tapi Iam merebutnya.


"Masss..."

__ADS_1


"Sebentar. Nanti kalau ada apa-apa gimana? Aku ngga mau, kalau sesuatu terjadi sama kamu."


"Lah, kenapa Mas makan?"


"Ya, biar aku duluan yang kena. Jadi kamu aman."


"Aaaaaahhh, bisa gombal pagi-pagi." Lila tersipu malu, sembari mencubiti perut Iam yang berotot.


"Nanti, kalau aku ngga papa sampai Lima belas menit, baru kamu boleh makan. Siapin bajuku dulu, mau mandi.".


"Siap, Suami." ucap Lila dengan penuh semangat.


Lila masuk ke kamar, melakukan aktfititasnya setiap pagi. Semua peralatan Iam Ia siapkan dengan rapi. Baju, celana, jas, rompi dan dasi. Semua tersusun rapi dan menunggu Iam keluar untuk membantunya mengganti pakaian.


"Ngga papa 'kan?" tanya Lila.


"Lila pengen kuliah." lirih nya.


"Hah?"


"Lila pengen kuliah, Mas. Lila pengen jadi berpendidikan, biar ngga di pandang rendah lagi sama Papa. Pengen, supaya Papa melihat Lila setara dengan Aul yang berpendidikan tinggi. Meski, masih enggan karena asal usul."


"Huuusssttt.... Jangan bicarakan dia pagi ini. Itu membuat moodku jelek."

__ADS_1


"Maaf." sesal Lila.


Iam menggandeng tangannya untuk sarapan, dan seperti biasa berjalan dengan begitu tenang.


"Kalau mereka datang lagi, gimana?"


"Siapa?"


"Tetangga baru. Katanya, mau nyapa Mas Iam."


"Tunggu aku pulang. Meski ramah, kamu harus tetap berhati-hati." Iam mengelap wajahnya dengan tisu. Lalu meminum air putihnya hingga tandas.


Lila tertunduk lesu, memainkan makanannya dipiring. Iam segera meraihnya, dan menyuapinya dengan begitu manis.


"Aku bukan ingin mengekangmu. Tapi, suasana masih seperti ini. Papa pun masih mengawasi kita. Atau malah hanya kau, dan aku tak tahu apa tujuannya."


"Gara-gara kita nikah cepet, setelah Mas ditinggal nikah. Jadi mereka curiga." Ucap Lila dengan mulut penuh makanan.


"Hhh, entahlah. Kecurigaan yang bodoh. Dia fikir apa, menikah kontrak, atau apa?" gerutu Iam.


"Mas, udah." pinta Lila, yang tampak kekenyangan.


Iam pun segera merapikan diri, lalu berangkat ke kantor seperti biasa..

__ADS_1


Sebagai ibu rumah tangga, Lila melakukan aktifitasnya seperti biasa. Menyapu, mengepel, mencuci dan semuanya Ia lakukan sendiri. Tawaran Iam mengenai pembantu ruma tangga, masih Ia tolak. Lila merasa belum memerlukannya saat ini.


"Nanti, kalau Lila hamil dan harus istirahat ekstra. Baru kita cari Bibik. Biar Lila sekarang menjadi ibu rumah tangga seutuhnya, melayani suami dan merawat rumah sendiri." ucap Lila kala itu.


__ADS_2