
Di sebuah Hotel mewah, sudah begitu banyak tamu berdatangan. Mereka adalah teman satu perkumpulan Iam, karena tampak dari mobil dengan warna hitam berjejer diparkiran, di beri stiker yang sama di belakangnya.
"Geng apa, Mas?"
"Geng? Enak aja, Geng. Ini komunitas, pecinta alam dulunya. Tapi, makin kesini makin jadi kompak dan merambat ke partner bisnis. Kami sering berkumpul jika. Ada salah satu sedang ada acara."
"Oh... Enak, ya? Temennya banyak. Bisa kumpul, akrab, main sama-sama."
"Lila ngga punya temen? Kalau diajak kumpul, ya berangkat aja. Aku izinkan." ucap Iam, yang menggandeng tangannya selama perjalanan naik menuju tempat pesta.
"Engga, males." gelengnya, dengan tangan kiri menggenggam salah satu sisi gaunnya yang panjang.
"Kenapa? Ngga baik menutup diri, apalagi memutus tali silaturahim."
"Ada kalanya, memutus tali silaturahim itu adalah cara terbaik agar hidup kita tetap damai dan tenang."
"Tenang dari apa, sayang? Aku ngga faham."
"Mas ngga akan pernah ngerasain. Circle Mas kaya semua. Ngga kayak Lila." tawanya. Iam hanya menatapnya dengan heran dan penuh tanya. "Aku, penasaran." fikir Iam.
__ADS_1
Seorang pelayan menghampiri. Ia yang telah faham dengan Iam, lantas membawanya ke ruang pesta. Dan benar, sudah begitu ramai para kalangan sosialita disana. Berdiri menikmati pesta dengan segelas minuman di tangan masing-masing.
" Lila jangan sembarang minum. Jangan sembarang terima pemberian orang. Jangan minum jika bukan dariku."
"Banyak banget aturannya?" keluh Lila. Padahal, Ia juga ingin menikmati pesta. Tapi, jika peraturan begitu banyak, makan nikmatnya akan berkurang.
"Nanti ku buatkan pesta sendiri untukmu. Tapi kali ini, turuti aku."
"Iya..." tunduk Lila pasrah. "Terus, makanan boleh? Lila laper, efek abis hamil, mungkin." elusnya di perut.
Iam meraih saku jasnya, diambilnya beberapa bungkus biskuit kesukaan Lila yang sengaja Ia bawakan untuknya. "Ngemil ini dulu, nanti ambilkan makanan. Maaf, harus protektif. Pengalaman itu guru yang berharga."
"Hey, Iam!" panggil salah seorang sahabat padanya.
"Hey, Bisma. Apa kabar?" sambut Iam. Mereka bersalaman, sembari menempelkan bahu masing-masing.
"Katanya, Loe udah nikah? Kok ngga undang?"
"Ya, ini istri Gue. Lila namanya. Pesta sederhana aja, besok gue adain pesta lagi buat kalian."
__ADS_1
"Cantik," puji Bisma pada Lila. Memang cantik, apalagi Lila dengan make upnya yang semakin menambah cantik dirinya. Lila tersenyum dan tersipu malu, sembari menggoyang-goyangkan tubuhnya. Iam menoleh padanya, menguatkan genggaman dan menariknya sedikit ke belakang tubuhnya.
Bisma menggelengkan kepala, melihat sahabatnya yang posessif berlebihan itu. "Baiklah, aku bergabung dengan yang lain dulu. Kau, nikmati saja pestanya."
Iam hanya mengangguk, lalu kembali memperhatikan istrinya yang masih senyum-senyum sendiri daritadi.
"Seneng?"
"Eh, apa? Gimana?" kaget Lila yang langsung menoleh ke suaminya.
"Itu," tunjuknya dengan bibir. "Seneng bener dibilang cantik sama pria lain."
"Cemburu, ya?" tanya Lila. Ia memiringkan kepalanya lalu berkedip-kedip genit pada suaminya.
"Hhh, cemburu? Emang aku pria apaan?" ucap Iam, sok tenang.
"Itu tadi?" tanya Lila. "Baiklah. Kalau emang ngga cemburu, jadi Lila bebas kalau ada yang dateng nyapa. Iya kan? Hayo.... Iya ngga?" Lila mencoleki dada Iam.
"Jangan bercanda... Ayo duduk disana." Iam menggenggam lagi tangan Lila, dan mengajaknya duduk disebuah sofa. Mereka menikmati malam disana, dengan pemandangan yang indah menuju arah pantai, dan dengan gemerlap cahaya bintang yang tampak. Karena konsep pestanya memang outdoor menghadap ke arah pantai yang ada disana.
__ADS_1