Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Hanya berusaha melawan trauma


__ADS_3

Sebuah bucket mawar putih tekah bersandar disebelah Iam. Sengaja Ia mampir ke toko bunga langganannya, dan membelikan bunga untuk sang istri. Hanya melihat dari kebiasaannya, yang selalu meletakkan mawar putih di vas meja ruang tamu, Iam sudah menduga jika Lila menyukainya.


Dari kejauhan, tampak Lila dan Bu Marni tengah duduk berdua. Bu Marni duduk di atas, menyisiri rambut Lila yang duduk santai di lantai keramik putih itu. Tanpa alas, namun begitu nyaman untuknya.


Iam membunyikan klakson beberapa kali dan Lila langsung tersenyum, berdiri untuk menyambutnya.


"Masss..." Lila merentangkan tangan.


Iam memberikan bunga itu, lalu mengecup kening sang istri dengan begitu hangat. Tak perduli, kanan dan kiri dari rumah Bu Marni terdapat CCTV yang memantau dengan kekuatan ganda.


"Bu..." Iam mencium tangan Bu Marni.


"Iam baru pulang?"


"Ya, langsung kesini."


"Tapi jangan pulang dulu, ya? Kita makan sama-sama." ajak Bu Marni..


Iam mengangguk, masuk kedalam rumah lalu membuka jasnya. Para CCTV itupun kembali duduk dengan manis di pos masing-masing.


"Lila, ngga bawain Mas baju ganti?"


"Ada, Mas mau mandi?"


"He'em, gerah." Iam terus mengipasi tubuhnya dengan tangan. Tampak memang, bulir-bulir keringat mengalir dari dahinya.

__ADS_1


Lila meletakkan bunganya, membuka satu persatu kancing kemeja Iam hingga semuanya tanggal. Tampak, dadanya yang bidang di hiasi otot-ototnya yang kekar. Apalagi lengannya yang begitu mantap ketika menggenggam.


Jujur, baru kali ini Lila memperhatikan dengan sedetail ini.


"Kenapa, suka?"


"Hmm? Pantes, Lila ngga bisa melawan waktu itu. Ternyata, yang Lila lawan memiliki otot sekekar dan sesempurna ini," usapnya di lengan Iam yang penuh kenangan itu.


"Sudah berani mengingatnya?"


"Berusaha melawan trauma. Toh, yang membuat trauma sedang berusaha menyembuhkannya dengan segala ketulusan yang diberikan."


Iam tersenyum begitu sempurna. Ia menyibakkan rambut panjang Lila ke belakang telinganya. Mengecup kening Lila, turun ke pipi hingga bibirnya. Sayangnya, panggilan Bu Marni membuyarkan konsentrasi mereka.


"Ibu manggil." ucap Lila manja.


Selepas Lila keluar, Iam pun segera masuk kamar mandi. Membersihkan dirinya hingga menjadi begitu segar. Rambutnya pun Ia basahi, karena cream rambut yang Ia pakai membuatnya menjadi kusam.


" Kok udah siap? Ini belum waktunya makan malam." tanya Iam yang keluar dengan mengusap rambutnya dengan handuk.


"Kalau disini, kapan lapar ya makan. Ngga terpaku sama waktu." jawab Bu Marni.


Lila menggandengnya duduk, kemudian menyiapkan lauk di piringnya. Memang tak terpaku waktu, seperti yang sering Iam terapkan dirumah. Tapi kebersamaan itu, membuat makanan yang terhidang menjadi lebih nikmat.


*

__ADS_1


" Bu, Lila pulang dulu. Kapan-kapan, Lila nginep sini." pamitnya pada sang Ibu.


"Iya, ngga papa. Ibu ngerti kok, kan Lila udah punya rumah sendiri. Eh, apa namanya? Pertemen?"


"Apartemen, Bu. Besok, Lila bawa Ibu kesana."


Bu Marni mengangguk, tersenyum melepas Lila yang harus kembali pergi meninggalkannya. Ia sedikit penasaran, apakah Lila akan menceritakan kejadian tadi siang atau tidak pada Iam.


"Semoga, apapun yang terjadi, kalian selalu terbuka dengan semuanya." harapnya.


Bu Marni kembali masuk, dan menunggu tokonya.


"Ada apa, Sayang?" tanya Iam, ketika Lila kembali melamun.


"Bapak tadi dateng."


"Hmmm, lalu?"


"Minta duit, terus Lila kasih. Semua duit yang Lila bawa. Yang dikasih sama Mas kemarin. Ngga papa?" liriknya penuh tanya.


"Mintanya gimana? Kasar apa lembut? Itu kan udah jadi hak Lila, yaudah, pakai aja. Toh, udah dikasih. Tapi seperti yang Lila suka bilang, kalau Bapak sekali dikasih, akan keterusan."


"Iya sih, Lila takutnya gitu. Uang toko, juga diambil. Kasihan, Ibu."


"Lah, kenapa ngga bilang? Tau gitu, Mas ganti uang modalnya. Kalau begitu, Ibu kebingungan dong?"

__ADS_1


Lila hanya terlupa, karena begitu senang dengan kepulangan suaminya. Tapi, Ia pun tak enak hati jika lagi-lagi harus merepotkan. Meski itu adalah haknya.


__ADS_2