
Hari telah berganti pagi, Lila membangunkan Iam yang tidur tepat di sebelahnya. Tak lama, Perawat pun datang untuk mengecek kondisi Lila saat ini.
"Hay, Bu Lila. Bagaimana, masih ada yang sakit?"
"Bekas luka operasinya, Sus. Masih sedikit nyeri. Wajar juga, karena baru kemaren siang." jawab Lila dengan ramah.
"Saya periksa dulu, ya?" pamit sang perawat. Ia kemudian memeriksa semua tanda-tanda vital Lila, dari tekanan darah hingga pendarahan yang Ia alami.
"Suster?" panggil Lila, sesekali menoleh pada Iam, takut suaminya terbangun.
"Iya, kenapa?"
"Rahim saya, masih sehat 'kan? Saya, masih bisa punya anak?" tanya Lila, dengan mata berkaca-kaca. Perawat hanya tersenyum sembari membereskan semua alatnya.
"Rahim anda masih sangat sehat. Untungnya, kamarin segere diatasi, meski masih harus menelan korban. Yaitu bayi anda sendiri. Disarankan, jangan hamil dulu selama setahun ini. Karena takutnya belum siap."
"Tapi, melayani suami, masih bisa?"
__ADS_1
"Ya jelas bisa. Setelah ini, setidaknya setelah nifas. Kalian bisa bulan madu lagi, dan kembali menikmati masa pacaran. Selalu ambil sisi positif, dari apa yang terjadi. Meski sebenarnya begitu sakit." ucap sang suster. Ia pun meninggalkan Lila, dan memintanya membersihkan diri setelah ini.
" Assalamualaikum, " Dinnar masuk, sendirian tanpa ditemani Iwan yang sudah berangkat bekerja."
"Lila, udah bangun?" sapa nya. Lila mejawab salam itu, lalu meminta Mba Dinnar membantunya mandi.
"Ini masih pagi banget, air hangat belum ada. Mba carikan dulu, ya?"
"Ngga usah, Mba. Air dingin aja. Keramas, biar seger. Rasanya, badan Lila lengket semua. Kalau Mas Iam bangun, maunya daritadi." bujuk Lila.
Dinnar hanya menghela nafas panjang, lalu membantu Lila membuka semua pakaiannya. Ia membawanya ke kamar mandi, dan mulai mengguyur tubuh Lila dengan air dingin. Sedikit demi sedikit. Tetap hati-hati, karena Lila belum diperbolehkan terlalu banyak bergerak.
"Ngga sakit, Mba. Tapi, malah kayak ngga kerasa apa-apa." jawab Lila pada nya.
Lila selesai dengan mandinya. Mengganti baju dengan yang Mba Dinnar bawakan, dan duduk cantik di sofa yang ada disana. Rambutnya dibiarkan terurai karena masih basah, Mba Dinnar pun mengoles sedikit parfum disana.
" Lihatlah dia," tatap Lila pada Iam. "Dia tampak lelah sekali, seperti habis menghajar puluhan orang diluar sana. Tidur begitu lelap, seperti bayi. Sangat manis." pujinya.
__ADS_1
Tanpa Ia tahu, bayi besarnya itu nyaris saja menghilangkan nyawa orang, kemarin. Demi dia, sang kekasih hati yang teramat sangat Ia cintai.
Tampak Iam meregangkan ototnya. Matanya perlahan terbangun, dan mencari sosok istri di sampingnya, "Lila disini, Mas." panggil Lila, dengan senyum ramahnya.
"Hey cantik, sudah mandi?" tatap Iam, dengan penuh perhatian pada istrinya.
"Udah, tadi. Dibantu Mba Dinnar." jawab Lila, tersipu malu dengan panggilan Iam padanya.
Iam menghampiri, mengecup kening, pipi dan bibirnya berulang kali. Tampak begitu gemas, dan sangat merindukan senyum Lila yang memeng begitu manis untuknya.
"Iiiih, bau. Mandi dulu, sana. Terus cari sarapan," Lila mendorong lembut wajah Iam dari hadapannya. Menghindari bibir Iam yang sudah mendekat dan monyong ke bibirnya.
"Dikit aja, please," bujuk Iam.
"Mandi dulu, ngga mau kalau bau." tukasnya.
Iam hanya menghela nafas, dan menundukkan kepalanya. "Baiklah, aku akan mandi." jawab Iam.
__ADS_1
Lila mengusap pipinya, dengan tangan kanan yang masih terpasang infus itu. Ia pun sudah lapar, dan menunggu jatah makanan dari Rumah Sakit untuknya.