
Seperti yang telah direncanakan, Iam mengantar Lila dan Aul pulang kerumah Papa Wira. Tanpa pemberitahuan, dan mungkin akan mengagetkan semua orang disana.
"Mas, masuk dulu, ya? Ngga enaklah, kalau Mas ngga masuk sama sekali." bujuk Lila.
Iam hanya menghela nafas, akhirnya. Pasrah untuk turun bersama mereka. Masuk kedalam rumah itu lagi pada akhirnya, dan mungkin akan bertemu lagi dengan orang yang paling Ia benci.
" Assalamualaikum... " ucap Lila. Tampak Mami Dona keluar, dan menyambutnya dengan sebuah pelukan hangat.
"Kalau Lila bilang, Mami aja yang jemput Aul tadi. Mami fikir, Aul nginap disana."
"Lila yang mau nginep, Mam. Mau bantu Aul kerjain tugasnya." Lila memberi alasan.
"Kamu bahkan tak kuliah, bagaimana bisa membantu Aul?" Papa Wira datang menghampiri.
"Bisakah, jangan bahas itu? Kenapa selalu membahas mengenai Lila? Apakah seru ketika melihat Lila terpojok?" sergah Iam.
"Mas, udah...." lerai Lila.
Papa Wira hanya diam, duduk dimeja kerjanya dengan laptop yang masih menyala.
"Mam, meski Kak Lila ngga kuliah, tapi Kak Lila faham dengan yang Aul kerjakan. Sengaja ngga kerjain di apartemen, karena ada sesuatu yang tertinggal disini." jelas Aul.
__ADS_1
"Its okay, sayang. Mami ngga permasalahin itu. Kan, memang Lila belum pernah tidur dirumah ini." Mami Dona mengusap rambut putri kesayangannya itu.
Lila sesekali melirik. Mengitari seisi rumah yang tampak sepi, tanpa bau-bau huru hara disana.
"Oma sama Shandy, mana, Mam?" tanya Lila.
"Oma sudah tidur. Dan Shandy, mungkin bentar lagi. Iam nginep juga?"
"Engga, Aku pulang." Iam menghampiri Lila dan mengecup keningnya untuk berpamitan.
"Kalau ada apa-apa, panggil aku segera."bisiknya.
Lila mengangguk, lalu Iam pun bergegas pergi dari rumah itu.
Lila masih saja membuka mata, sembari terus berbalas pesan dengan Iam. Lebay, tapi memang ini kali pertama Iam jauh dengan wanita yang telah berstatus istirnya itu.
"Kamu memang candu, buatku." ucap Iam, dengan emoticon lovenya.
"Memabukkan dong? Awas kalau main kemana-mana."
"Aku langsung pulang." kirim Iam lagi, berserta fotonya yang duduk di ranjang mereka.
__ADS_1
"Kasihan suamiku." tawa Lila dengan emotnya yang lucu.
Memang terasa lain, ketika Ia sudha mulai terbiasa dengan dekap hangat Iam padanya. Mencium aroma tubuhnya, dan hembusan nafasnya. Memang cinta selalu hadir tanpa rencana, bahkan dengan semua hal yang tak pernah dapat di duga sebelumnya.
Bunyi Hp Aul di dengar Lila. Ia membukanya lagi, dan membaca semua pesannya.
"Bukain pintu, sekarang." pinta Shandy pada Aul, dan itu tepat pukul Satu dini hari.
Lila datang menghampirinya di luar, melihatnya dari jendela kaca sebelah pintu.
"Loe, kenapa disini?" tanya Shandy, dengan mata melotot super besar.
"Kenapa? Masalah?"
"Aul mana? Bukain pintu gue."
"Pintu itu? Ini, kuncinya..." Lila memamerkan kunci yang telah Ia cabut dari pintu itu.
"Hey, bukain! Kenapa malah Loe cabut? Buka ngga? Atau....."
"Apa? Tidur diluar." cibir Lila, meninggalkan Shandy yang masih sendiri di luar rumah.
__ADS_1
"Heeeey, bukaiiin!"
Shandy berteriak, sampai lelah dan tidur sendiri disana. Sementara Lila, tidur dengan begitu nyenyak di kamarnya dengan Aul.