Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Prasangka buruk


__ADS_3

"Selamat pagi, Pak." sapa Siska, yang menyambut Iam di luar kantor.


"Pagi. Eh, siang, Siska." tegur Iam padanya.


"Ya, tumben Bapak setelat ini. Darimana?"


"Nemenin Ibu Bosa, cek kehamilan." jawab Iam. "Kamu tahu, saya baru saja menyapa anak saya. Tampan, berhidung mancung, dan begitu menggemaskan."


"Laki-laki?" tanya Siska, mengiring bosnya menuju ruangan.


"Ya, pasti akan jadi lelaki yang perkasa seperti saya." Bangganya, dengan berkacak pinggang di hadapan sang sekretaris.


"Ya, memang sepertinya terlalu perkasa," Siska mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Maksudmu?" lirik Iam. "Tidak, tak apa. Mari, pekerjaan kita begitu banyak hari ini." tunduk Siska padanya.


Iam hanya sebentar masuk ke dalam ruangannya. Menandatangani beberapa dokumen yang tertunda. Setelah itu, Ia mengikuti Siska untuk pergi ke ruang rapat, dimana semua orang menunggunya. Termasuk Mami Dona. Ia segera pergi, setelah Papa Wira selesai cek up jantungnya di Rumah sakit yang sama dengan Lila. Ia tampak lelah, tapi Ia masih bisa membagi fokus nya dengan baik.


"Kau, ke Rumah sakit, barusan?" tanya Iam, yang mendekatinya.

__ADS_1


"Ya, Lila cerita? Maaf, atas kelakuan Papamu. Jujur, sekarang aku sulit mengontrolnya. Aku tak tahu, doktrin darimana yang membuatnya seperti ini." ucap Dona, dengan segala sesal dimatanya.


"Ya, Lila cerita akan perlakuan Papa padanya. Aku pun bingung, kenapa sampai seperti ini."


"Iam," panggil Mami Dona padanya. Iam pun menoleh, dan semakin mendekat. "Boleh aku jujur?"


"Ya, silahkan." ucap Iam.


"Aku lelah. Aku tulus, tapi tulusku seolah tak di hargai. Jujur, Papamu masih saja berhubungan dengan Mama dan Shandy." ucap Mami Dona.


Mata Iam tampak menatapnya tajam. Tak menyangka, dengan semua pernyataan itu. Ingin menyambung pembicaraan, tapi harus di tunda karena rapat telah di mulai.


" Kita lanjutkan nanti." ucap Iam, menjauh dari Mami Dona, dan mulai fokus kembali ke rapatnya.


"Mba Dinar?" panggil Lila, selama perjalanannya pulang ke apartemen.


"Ya, ada apa? Lila mau sesuatu?"


"Engga, cuma mau nanya." balas Lila. "Mas Iam, memberitahu tentang siapa saja yang harus di hindari. Apakah, Bapak Lila juga termasuk?"

__ADS_1


"Mas Iam memang memberi beberapa foto. Papa, Mami, dan adik serta Mamanya. Mba lupa namanya, tapi inget wajahnya. Dan Bapak Lila, sepertinya Mas Iam ngga menunjukkan fotonya. Kenapa?"


"Dan, apakah ngga ada yang berusaha menjenguk Lila, setelah itu?"


"Ngga ada, Lila. Cuma Aul dan Ibu. Bahkan, Mas Iwan ingin menjenguk pun, Mba ngga bolehin."


"Kenapa?" tanya Lila, memiringkan kepala dan memicingkan matanya.


"Mas Iwan perokok parah. Rentan buat Lila, jadi Mba larang. Dia kirim salam aja."


"Oh, iya, Mba. Salam balik dari Lila. Jujur, dari awal, Lila agak risih dengan pandangannya sama Lila." ucapnya, sedikit tak enak hati.


"Hhh, sebenarnya, Lila itu ada kemiripan, dengaj adik Mas Iwan. Perempuan, rambutnya, cerianya, dan ramahnya. Kadang, kalau lihat Lila, seperti langsung berhadapan dengan mendiang."


"Mendiang? Adik Mas Iwan, sudah meninggal?"


"Iya, meninggal Dua tahun lalu. Kecelakaan, meninggal di tempat. Kaget banget dia, waktu lihat Lila pertama kali." jelas Mba Dinar.


Lila mengangguk. Ia telah salah sangka selama ini. Ia telah berfikir buruk dengan sosok Iwan, yang dinilainya aneh. Padahal, tatapan itu adalah tatapan kerinduan Iwan, pada adiknya yang telah tiada.

__ADS_1


" Lagi-lagi, menilai orang hanya dari tampak luar. Astaga, kenapa seperti ini terus? Dan yang ku kira baik, rupanya membenciku sampai ke ubun-ubun." fikir Lila, dengan segala prasangkanya.



__ADS_2