Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Pssssst!


__ADS_3

"Ayo, pulang." Iam mengulurkan tangannya untuk menggendong sang istri.


"Bentar lagi," mohon Lila.


"Nungguin apa? Nunggu ada pak Satpol razia? Terus mau lari sama-sama?"


"Ih, kok tahu kalau disini suka razia?" Lila mengedipkan matanya. "Sering kesini, ya? Hayo, ngaku."


"Eh, mana ada. Ayo pulang, udah mau maghrib. Pamali, maghrib di luar."


"Iya," pasrah Lila, lalu menjatuhkan diri dalam gendongan sang suami.


Iam menghidupkan motornya, dan Lila duduk dibelakang dan memeluknya erat. Persis, seperti dua anak muda yang masih manis-manisnya dengan cinta.


Mereka pun berjalan, menembus jalur sore hari yang padat dengan para anak muda yang juga nongkrong disana.


"Besok, Papa pulang." ucap Iam. Lila sedikit melepas pelukannya, tapi Iam menahannya.


"Kok, cepet?"


"Ya, daripada terjadi lagi, perselisihan Ibu dan Dona. Hanya ingin kita damai."


"Tapi, Lila...."

__ADS_1


"Bersikaplah sewajarnya. Senyum, bila diperlukan. Jangan terus Lila yang mencari keramahan. Biar saja, mengalir apa adanya." genggam Iam di tangan Lila.


"Iya," angguknya, dengan menopangkan dagu di bahu sang suami.


Mereka tiba di rumah, tepat menjelang adzan maghrib. Lila turun dan langsung masuk, untuk membersihkan dirinya. Tak lupa, mengajak Iam shalat maghrib bersama.


"Lila mau makan apa?" Iam berusaha mencari selera istrinya.


"Entah. Belum ada selera, Mas."


"Jangan ngga seleraan. Inget Baby di dalam tuh, nanti kekurangan gizi." tegur sang suami, yang melipat sajadah nya dengan rapi.


"Engga," geleng Lila, lalu berlari kebawah mencari asam manis buatan Mami Dona untuknya.


"Mas, ini boleh?" panggil Lila. Iam pun turun, memperhatikan yang Lila bawa.


"Enak," pujinya, pada masakan itu.


"Itu, buatan Mami mantan." Lila menjulurkan lidahnya.


"Lilaaaa," tatap Iam dengan tajam. Lila hanya tersenyum, sembari mengangkat teflon untuk menghangatkan makanan itu. Perutnya sekarang sering kembung, hingga perlu sering makan makanan hangat agar lebih nyaman.


Lila menyiapkan nasi di meja, sedangkan Iam mengaduk makanan yang tengah di panaskan. Mereka kompak berdua, karena Mba Tatik hanya mengurus rumah yang besar itu, dan sesekali mengurus pakaian jika Lila kelelahan.

__ADS_1


"Sayang, ini mau anget aja apa panas?" panggil Iam. Lila menghampirinya segera, dan meminta satu sendok untuk Ia cicip kembali.


"Mana?" pinta Lila. "Nanti kalau kepanasan, lidah Lila bisa melepuh."


Iam mengambilkan dengan sebuah sendok. Memberikan nya pada Lila. Tapi, ketika Lila hendak menerima. Bukan sendok berisi kuah yang sampai di bibirnya. Melainkan, bibir Iam yang justru mengecupnya.


"Eh, katanya nyuruh makan?" tepuk Lila di bahu suaminya.


"Itu dulu, bentar aja."


"Engga," tolak Lila.


"Ayolah, sini. Dikit aja, dikit, serius."


Lila hanya melirik, ketika Iam menggodanya. Kecupan, belaian, semua diterima Lila dengan manis. Membalasnya sedikit dengan senyum manja yang selalu Ia sukai. Bahkan, Iam dengan kuatnya mengangkat tubuh Lila duduk diatas meja kompor yang terbuat dari marmer itu.


Bibir mereka kembali bertemu dan bermain disana. Dan tangan Iam yang selalu dibuat gemas dan candu dengan setiap jengkal tubuh sang istri. Sayangnya, semua terhenti tatkala perut Lila dengan kuatnya berbunyi.


"Kan, laper." Iam hanya mengulur senyum, dan kembali menurunlan tubuhnya. Lalu, duduk berdua di meja makan. Bak menikmati sebuah dinner istimewa, tapi dengan menu seadanya.


"Pssst..." kode Iam pada sang istri.


"Apa?"

__ADS_1


"Udah kenyang?"


"Nanti lah, masih begah perutnya." ucap Lila, yang menyandarkan tubuhnya di bahu kursi.


__ADS_2