
Papa Wira terduduk dengan map di tangannya. Ia tak melakukan apapun, hanya diam dan menunggu Iam datang untuk meminta sebuah penjelasan padanya. Dan Ia segera berlari, ketika mendengar Iam disambut dan masuk ke dalam ruangannya.
"Iam, Papa mau bicara sebentar sama kamu." ucap Papa Wira, bernada memaksa.
"Katakan saja," jawab Iam, tanpa mau menatap wajah Papanya sedikitpun. Ia lebih memilih menap file yang ada di depan matanya, dan menunggu untuk segera dikerjakan dengan baik.
"Kamu sudah tak menghormati Papa lagi, Iam. Papa mu ini masih hidup, dan Aul... Aul masih butuh semuanya."
"Bahkan jika tega, Iam juga bisa mengambil hak Aul dari Papa. Tapi, Iam masih memikirkan dia agar tak ikut tegang seperti kita berdua." Iam berbicara dengan begitu tenang kali ini. Berusaha tak menambah kerusuhan, yang nantinya akan berakibat fatal untuk kenyamanan perusahaan yang mereka gawangi.
__ADS_1
" Seharusnya, Papa berfikir dengan bijak sebelum melakukan tindakan. Iam sudah banyak diam dan mengalah, tapi jika Lila yang Papa jadikan sasaran. Iam tak akan tinggal diam."
"AKU AYAH KANDUNGMU, ILHAM!!" bentak papa Wira. Bahkan tangannya membanting meja dengan begitu kasar.
"Tak ada yang pernah menyangkal, jika Papa adalah Papa kandung Iam. Tapi, bersikaplah sebagai Papa kandung, seperti yang seharusnya. Apalagi, dengan menantu yang sama sekali tak tahu apa-apa dengan masalah kita. Mungkin ini, maksud Mama memisahkan harta kita. Untuk menghindari perebutan, dan ambisi salah satu diantara kita." balas Iam, dengan tatapan tajam nya.
" Dia hanya istri yang mau memanfaatkan hartamu. Begitu banyak bukti yang Papa temukan mengenai..... " Iam berigsut dari tempat duduknya, seketika menarik kerah baju Papanya. Tatapannya semakin tajam, menembus jantung kaca Papa Wira yang akan semakin retak.
"Hey, kalian apa-apaan? Ini kantor, ngga sepatutnya bertindak seperti itu. Keterlaluan!" Mami Dona melepas cengkraman Iam dari Papanya. "Iam, biar bagaimanapun, ini Papa kandungmu. Tolong, jangan seperti ini."
__ADS_1
"Aku sangat sadar dengan semua tindakanku. Jika aku goyah, mungkin akan lebih parah dari ini. Mengancam istriku ketika aku pergi, mengikuti kami, dan mengirim orang untuk mengwasi kehidupan kami. Dan yang ini? Ini sudah mempertaruhkan nyawa anakku. Apa aku harus tinggal diam? Sabar mana lagi yang harus ku kuatkan Dona!"
" Aaaakh, sakit!" Papa Wira memegangi dadanya dengan kuat, wajahnya pun tampak pucat. Dona semakin cemas, hingga menangis sejadi-jadinya disana.
"Jangan merasa jadi korban, Pa. Karena disinilah, Papa tersangka sesungguhnya. Anggap saja, sakit itu setimpal dengan sakit yang Lila rasakan."
Dalam segala rasa kcewanya, Iam bersimpuh dan memberikan punggungnya untuk sang Papa. Meski dengan tatapan yang begitu dingin, Ia meminta sang Papa naik dan akan membawanya ke Rumah sakit."Ya, Aku anakmu. Aku tak akan mungkin mengorbankan salah satu dari kalian."
Mami Dona membujuk suaminya agar naik, dan Papa Wira menurutinya. Dona membantu Iam berdiri, dan berjalan beriringan membawa Papa Wira ke Rumah sakit. Tapi, Rumah sakit yang berbeda dari tempat Lila berada.
__ADS_1
" Maafkan, Papa, Iam." ucap Papa Wira, dengan suara yang tertahan di dalam tenggorokannya. Iam hanya diam, melaju dengan sedikit cepat. Semua karyawan menyaksikan mereka dengan tatapan yang begitu haru, mendoakan yang terbaik untuk semuanya.
"Kembalilah bekerja, demi mereka." pekik Siska, yang mereka tahu adalah tangan kanan Iam.