
"Mas, hari ini pulang, ya?" rengek Lila, setelah menghabiskan sarapannya.
"Heh, belum boleh? Luka masih basah."
"Tapi bosen," Lila tertunduk lesu.
"Nanti, aku minta Ibu kemari. Patuh, ya? Semua demi kebaikanmu. Kalau sudah pulih benar, akan ku bawa kau liburan."
"Kemana?"
"Kemana Lila mau? Ke dalam, keluar negeri. Atau, hanya dirumah saja. Berdua," kedip mata Iam dengan genit padanha.
"Maaasss, lukanya belum kering" omel Lila. Iam hanya tertawa, sembari menghabiskan sarapan yang Dinnar berikan padanya.
"Canda, sayang." tawa Iam. "Hari ini, aku banyak pekerjaan. Tapi, jika ada sesuatu, langsung hubungi saja. Minimal Siska yang angkat. Ngga papa, ya?" usap Iam di rambut Lila.
Lila hanya mengangguk, dan berusaha berdiri untuk mempersiapkan semua keperluan Iam. Meski Iam terus menolak dan nyaris mengomelinya.
__ADS_1
" Ngga papa, Mas. Lukanya ngga sakit. Malah ngga kerasa apa-apa. Lila, bahkan udah bisa pargoy." ucapnya, dengan memperagakan beberapa gerakan. Iam melotot, langsung berlari dan memeluk tubuh Lila agar berhenti dengan gerakannya.
"Nanti lukanya sobek. Ngga sembuh-sembuh, loh." sergahnya.
"Ngga papa, ngga sakit. Coba deh, ayo joged." ajak Lila padanya. Tapi, Iam terus memeluknya dengan erat. "Ngga mau. Ngga boleh, dan jangan lakukan." ucapnya jutek.
"Iya, sayang," ucap Lila, membalik tubuh dan merapikan pakaian Iam. Sedangkan Mba Dinar, tengah mengurus sesuatu mengenai terapi yang harus Lila lakukan secara mandiri.
"Hey, kalian sedang apa?" tanya Mba Dinnar, yang datang menghampiri keduanya.
"Tak apa." jawab Iam. "Aku permisi. Tolong jaga Lila dengan baik. Dan seperti biasa, jangan biarkan siapapun masuk kemari. Dokter dan perawat, hanya ku izinkan beberapa yang menanganinya."
Iam pun pergi, setelah mengecup kening Lila. Mba Dinnar membukakan pintu untuknya, lalu menutupnya kembali dengan rapat.
"Mba, apa pesan nya tadi?" tanya Lila.
"Hmm? Tak ada. Seperti biasa saja, bahwa jangan ada yang kemari, kecuali Ibu dan Aul."
__ADS_1
"Apakah, Mami Dona benar-benar....."
"Hey, sudahlah. Jangan fikirkan itu dulu. Nanti, kalau sudah sembuh total, pertanyakan saja pada Iam, yang sebenarnya."
"Aah, baiklah. Kadang terlalu kepo, justru membuat diri sendiri sakit. Meski, ada begitu banyak yang ingin ditanyakan." celoteh Lila.
Mba Dinnar membereskan beberapa pakaian. Memisahkan yang kotor dan yang bersih, lalu meminta orang laundry untuk segera menjemputnya. Lila duduk santai, menikmati beberapa cemilan yang di hidangkan untuknya.
" Kadang, begitu perihnya hidup, harus tetap disyukuri. Beruntung, dia selalu ada di dekatku. Tanpa pernah pergi sedikitpun." pujinya, pada sosok suami yang Ia lihat dari atas tempatnya di rawat. Berjalan dengan segala wibawa yang Ia punya, dan menjadi pusat perhatian setiap orang yang melihatnya.
"Aku bahkan tak pernah punya rencana, akan memiliki suami seperti apa dan bagaimana. Semua ada resiko nya. Seperti sekarang, kaya raya dan punya segalanya. Tak hanya harta, tapi musuh yang tak pernah kamu duga sosoknya."
Lila mengusap perutnya yang sudah kembali rata. Ia terpejam, meski tak dapat membayangkan sosok anak yang pergi tanpa pernah bisa menatapnya. Malaikat yang selalu ingin Ia peluk, tapi bahkan tak pernah dapat Ia genggam tangan mungilnya.
*****
Hay gaesku,. 😍😍 Hari ini otor cuma bisa up 1bab.,🙏🙏 dan sekarang baru sempet umumin give away kita. Maaf ya, baru sekarang. Maklumin, karena masih dalam suasana idul fitri.
__ADS_1
Bagi 3 nama yang ada di rank atas, mohon segera hubungin author. Chat langsung, atau hubungi via IG. Erna surliandari. Ditunggu ya🙏