
Setelah sekian lama tidur, akhirnya Lila sadar. Ia meregangkan otot nya, tapi terhalang rasa sakit yang luar biasa dari bagian perutnya.
"Aaakkh, sakit." lirihnya. Ia memegangi perutnya yang sudah kembali mengempis, menatap lingkungan yang Ia tempati sekarang, adalah sebuah kamar VVIP Rumah sakit. Ada Iwan yang duduk dengan mata terpejam, dan ada Dinnar yang tengah mengerjakan shalat asharnya.
" Mba, Mba Dinnar?" panggilnya. Dinnar langsung menyaut, karena memang hanya tinggal melantunkan doanya.
"Lila, sudah bangun? Mba panggilin dokter, sebentar." tapi tangannya di tarik Lila, menahannya agar tetap tinggal. "Kok, perut Lila kempes? Bayi Lila mana? Kok udah di keluarin, kenapa?"pertanyaan Lila begitu banyak, hingga Dinnar sulit untuk menjawabnya dengan baik.
Iwan terbangun. Ia mengucek mata, dan sadar ketika istrinya mulai bingung disana. Akhirnya, Iwan pun pergi perlahan dan memanggiloan dokter untuk Lila. Dan Dinnar, tetap disamping Lila dan mempersiapkan segala jawabannya.
"Mba boleh nanya?" ucap Dinar, dibalas Lila dengan tatapan sendunya. "Tadi, Lila abis minum apa, sampai Lila ketiduran dan ngga bangun-bangun?"
"Lila, minum apa? Cuma minum vitamin, yang Mami Dona kirim itu aja. Apa, ada yang salah?" Lila masih linglung, karena kelamaan tidur. Ditambah dengan obat bius, ketika Ia melakukan operasi. Semua di lakukan darurat, demi janin yang akhirnya juga tak dapat tertolong. "Bayi Lila mana, Mba? Lila mau Lihat!" rengeknya.
__ADS_1
"Lila, meski ini berat, tapi kamu harus tahu yang sebenarnya. Nanti, dokter akan kesini dan beritahu."
"Engga, maunya sekarang, dari Mba Dinnar. Ada apa?" tukas Lila. Dinar menghela nafas panjang akhirnya memberanikan diri untuk bicara.
"Minuman yang Lila minum tadi, mengandung obat tidur dalam dosis tinggi. Itu sangat berbahaya bagi janin. Dokter sudah berusaha, Mba tahu itu. Tapi... Bayi Lila udah ngga bisa selamat."
"Mas Iam mana? Mas Iam dimana, Mba? Udah lihat anaknya belum? Kenapa Lila ngga dibangunin? Mass, mana anak kita, Mas?" Lila menangis sejadi-jadinya, dan Mba Dinnar langsung mendekapnya dengan erat. "Tenang, Lila, kamu masih sakit."
"Hey, Iam tadi sekuat hati dan tenaganya, memakamkan anak kalian. Anak Lila laki-laki, ganteng sekali. Mirip, sama kalian berdua." puji Mba Dinnar, masih dalam pelukan untuk Lila. "Iam, sedang mengurus semuanya. Kamu disini, luapkan semua rasa sedih dan kecewa kamu sama Mba. Nanti ketika Iam datang, sambut dia dengan senyuman. Karena dia, tengah memeperjuangkan keadilan buat kamu dan anakmu." ucapnya di rambut Lila.
Lila masih terisak, rasa sakit bekas operasinya, tak sesakit hatinya saat ini. Untung saja, Dinnar selalu ada untuk menguatkan dia, bersama Iwan yang selalu di sampingnya. Dokter pun begitu. Ia terus memberi dukungan moril pada Lila, di titik terlemahnya. Lila menghela nafas, membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur, meski masih begitu gamang dengan keadaan dirinya saat ini.
***
__ADS_1
Papa Wira masih di kantor polisi. Ia berusaha meminta keringanan, dengan terus menelpon Mami Dona dan Shandy. Ia mencari tahu, akan info mengenai Lila padanya.
"Eh, kenapa nelpon?" Shandy tak menghiraukannya, tapi tanpa sadar mengangkat panggilan itu.
"Shandy, bagaimana keadaan Lila saat ini? Kamu sudah dapat info?" tanya Oma Nia. Shandy yang tengah bersiap pergi, tengah asyik di meja riasnya.
"Bodo amat sama Dia. Yang jelas, dengan keguguran Lila, Mba Dona akan pergi karena Mas Wira jadi tersangka. Kalau dia pergi, balik ke kita, kita dengan mudah carikan pria kaya buat dia." ucapnya. "Rugi, Ma. Cantik begitu dapet tua bangka, ngga punya apa-apa."
Papa Wira masih disana, di tempatnya dan mendengar semua obrolan mereka. Wajahnya tampak begitu syok, dan sakit mendengar semua kenyataan yang Ia dengarkan saat ini.
"Shandy!" pekiknya.
"Astaga, Ma. Ini kenapa teleponnya diangkat? Ah, dia dengar dong?" paniknya, kelabakan mematikan telepon yang masih menyala.
__ADS_1