
"Lila, Iam... Kalian masih lama di kamar? Ibu sudah masakin makan malam buat kita."
Bu Marni mendadak membuka pintu kamar, dan membuat Iam terkaget karenanya.
"Ibu, kapan datang?"
"Tadi... Ayo, beberes diri. Ibu tunggu di ruang makan." Bu Marni lantas pergi meninggalkan mereka berdua.
"Kenapa ngga bilang, kalau Ibu kesini?"
"Maaf, Lila lupa." tawa nya genit.
"Dah, mandi dulu. Baunya kecut, tapi suka." kecup Lila di ketiak sang suami.
Iam hanya menatapnya heran, karena prilakunya sedikit aneh kali ini. Tapi, Dia suka karena pasti Lila akan lebih manja dan bergantung padanya.
Lila keluar, membantu sang Ibu mempersiapkan makan malam. Hingga Iam keluar dari kamar, dan Bu Marni memintanya mengobrol berdua di sofa.
"Ibu bukan ngga suka. Tapi, nantinya kamu sendiri yang akan repot. Dia ngga akan puas."
"Tapi, Bapak ngga akan berani datang setelah ini."
__ADS_1
"Darimana Iam yakin?" tanya Bu Marni.
"Iam, membuat sebuah perjanjian dengannya. Jika dia masih berani mendekat, maka Bapak akan dituduh mencuri dan langsung masuk ke dalam penjara. Dengan, hukuman yang sangat berat."
Bu Marni tampak terkejut, dan mengelus dada dengan keterangan itu. Dan Lila, hanya menghela nafasnya panjang.
" Maaf, Iam terlalu tegas. Tapi, Iam juga tak bisa tinggal diam, ketika kalian selalu ditindas. Apalagi, Lila hamil, jadi butuh ketenangan."
"Ya, Ibu mengerti. Dan Ibu faham, akan semua keputusan yang kamu buat. Terimakasih, ya_Nak? Kamu memang pengertian pada kami." ucap Bu Marni, yang memang begitu baik dimatanya.
Iam telah membebaskan dirinya dan Lila, dari bayang-bayang dan teror Pak Hari yang begitu mengganggu. Meski Ia akhirnya harus berkorban begitu banyak untuk saat ini.
Iam mengajak mertuanya makan malam bersama. Dengan begitu ceria, dan penuh canda tawa. Tak jarang, Iam terlihat mengusap perut sang istri yang masih rata itu dengan penuh perhatian.
"Belum," geleng Lila.
"Besok, Ibu tolong temenin Lila periksa, ya? Iam, udah terlanjur ada janji rapat soalnya."
"Iya, besok Ibu temani. Ibu akan disini beberapa hari, untuk membantu Lila. Nanti, kalau ternyata hamilnya aman, baru Ibu pulang." ujar Bu Marni.
Lila hanya tersenyum renyah, sembari bersyukur atas orang-orang yang selalu menyayanginya.
__ADS_1
***
"Mami, Papa..." panggil Aul, yang turun dari kamarnya.
"Ya, sayang? Kok lari-lari gitu? Nanti jatuh loh." tegur Mami Dona.
"Aul ada kabar bahagia, Mam. Kak Lila, positif." riangnya, menunjukkan foto yang dikirim Lila barusan.
Mami Dona memperhatikan hasil terstpacknya, dan menghela nafas bahagia dengan kabar yang diberikan.
"Masyaallah, Mamu akhirnya punya cucu." ucapnya, dengan penuh syukur.
Tiba Papa Wira menghampiri mereka. Ia tak kalah bahagia dengan kabar itu. Hanya, Ia merasa bersalah pada Dona, karena belum dapat memberikan keturunan ada istrinya itu.
"Maaf, Mungkin Mas memang sudah tua dan..."
"Haish, sudah lah. Tak usah membicarakan itu dulu. Kita bahagia seperti ini, dan biarkan dulu begini. Masalah anak, kita harus tetap berserah diri pada yang kuasa, Mas. Kalau pun tidak, masih banyak jalan lain nanti."
"Maksudnya, adopsi?"
"Ya, sama saja, bukan? Dia akan tetap kita rawat dan kita besarkan." ucap Dona, melipur lara suaminya.
__ADS_1
"Baiklah, apapun yang akan membuat kamu bahagia. Mas akan mendukungnya."
"Cieee, romantisnya. Cepet-cepet bikin adek ya, buat Aul. Kalau bisa cewek, biar bisa main bareng." goda Aul pada keduanya.