Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Hot news di perusahaan


__ADS_3

Ruang pertemuan pun telah di bubarkan. Mereka kembali ke ruangannya masing-masing. Hanya Dona, menghampiri Iam dan Lila di ruangan mereka.


Pintu Ia ketuk, dan Iam mempersilahkan masuk. Ia tak lupa menutupi tubuh sang Istri dengan jas yang Ia pakai.


"Kenapa?" tanyanya, datar.


"Hanya ingin, mengetahui kondisi Lila." jawab Dona. Langkahnya tampak ragu, memperhatikan Lila yang masih duduk lemah.


"Lila, kamu ngga papa?" tanya Dona. Ia berusaha ramah, meski Iam masih saja memasang muka masam padanya.


"Lila ngga papa, Mi. Udah mendingan. Sebentar lagi, Lila pulang." jawabnya lemah.


"Mami antar, mau? Sekalian, Mami mau pulang. Jadi, Iam ngga bolak balik." Dona menawarkan bantuan dengan begitu tulus.


"Mas?" lirik Lila pada suaminya.


"Lila tanggung jawabku. Puluhan kali bolak balik pun, itu tanggung jawabku."


"Iam, pekerjaan mu banyak. Kau tak bisa mengerjakannya sesuka hatimu."


"Hanya karena kau menikahi Papaku, bukan berarti kau bisa bertindak seperti Mamaku. Tidak, Dona." sergah Iam.

__ADS_1


Emosinya tampak tenang kali ini, meski ucapannya masih tajam menusuk jantung. Tapi, Dona faham akan Iam. Pasalnya mereka juga sudah begitu lama dekat.


" Aku tak pernah mau menggeser posisi Mama mu. Tak akan pernah bisa, aku sadar itu. Tapi, aku istri Papamu yang setidaknya harus kau hormati. Kau juga harus sadar itu." ujar Dona.


"Lila, Mami pergi dulu." pamitnya pada sang menantu.


Lila hanya mengangguk, dan menggenggam tangan Iam yang tampak menggenggam kuat. Ia pun menggelengkan kepala, ketika Iam menatap Dona dengan penuh rasa benci yang mendalam.


"Ayo pulang." ajak Lila.


Iam kemudian menggendongnya keluar. Bahkan, Siska pun Ia ajak kerumah untuk mengantarkan keduanya.


"Untung saja, saya ini Multifungsi. Aman banget, kalau di panggil dalam keadaan kepepet." pujinya, pada diri sendiri.


"Engga, Aul udah di apartemen sekarang. Dia akan tunggu kamu, sampai aku pulang nanti."


Tak sakit, hanya kepalanya pusing. Ia. Menderita gangguan cemas sejak SMP, sejak Ia sering melihat Ibu dan Bapaknya beretengkar. Saat itu, kolong meja adalah tempat ternyaman untuknya. Tapi sekarang, peluk nyaman Iam menggantikannya.


Lila di papah untuk naik keatas. Dibantu Siska yang masih setia di belakang mereka. Hingga tiba di apartemen mereka, dan Aul menyambutnya dengan begitu cemas.


"Kak? Kakak ngga papa?"

__ADS_1


"Udah enakan sih, cuma berat aja."jawab Lila, memijat dahinya yang sakit.


"Mas, kalau mau balik kantor ngga papa. Udah ada Aul, Lila aman."


"Ya, aku berangkat." kecup Iam lagi.


Aul mengambil Lila dari Iam, lalu membawanya ke kamar. Ia pun membantu Lila menggantikan pakaiannya dengan yang lebih nyaman.


"Aul,"


"Ya, Kak Lila?"


"Masa lalu Mas Iam, gimana?" tanya Lila.


"Masa lalu yang gimana?" Aul mulai gugup.


"Waktu itu, Mas Iam pernah bilang. Kalau Dia sempet gagal menikah. Dia sendiri hancur, maka dari itu Dia ngejar Kakak, agar masa depan Kakak ngga hancur gara-gara Dia."


"Ehmmm... Iya, Kak Iam memang rencana nikah tahun ini. Tapi, rencananya gagal. Calon istrinya, nikah sama orang lain. Makanya, sakit banget sampai kabur agak lama. Menghindari, agar Ia tak datang ke pesta itu." terang Aul.


"Berarti, itu memang benar-benar baru terjadi. Dan belum begitu lama."lirihnya.

__ADS_1


Lila menghela nafas panjang, mengatur nafasnya agar tak kembali syok. Untuk apa? Padahal sebenarnya Iam sudah terbuka sejak awal. Tapi, Lila tak menyangka jika itu benar-benar berita heboh yang menjadi hot issue di perusahaan.


__ADS_2