Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Pernikahan itu tidak sah!


__ADS_3

"Apa? Bapak mau apa sama Lila? Mau pukul lagi? Sini, sini pukul Lila. Lila udah ngga takut, bahkan Lila kasih pipi Lila sekarang." Lila menyodorkan pipinya, sambil menepuk-nepuknya dengan tangan beberapa kali.


"Kamu sudah berani melawan Bapak? Siapa yang ajarin, Ibu kamu?" bentaknya.


"Bapak sendiri yang ajarin Lila! Bapak yang tantangin Lila! Jangan pernah salahin Ibu lagi!" pekiknya histeris.


Pak Hari semakin melotot, melihat tingkah laku Lila yang semakin aneh baginya. Ia bahkan takut, ketika anak penurut yang dianggapnya lemah itu, berubah menjadi wanita yang dapat melawannya.


"Bawa uang itu. Bila perlu, Lila tambahin." Lila mengeluarkan semua uang yang ada di dompetnya, dan memberikannya pada Pak Hari.


"Kamu, punya uang sebanyak ini...." batin Pak Hari, terpukau meski belum tahu jumlahnya.


Nafas Lila terengah-engah, matanya berkaca-kaca menahan air matanya yang memang nyaris saja mengalir dengan deras.


"Kamu sudah melewati Bapak, Lila. Kamu ngga menghargai Bapak yang masih hidup. Pernikahan kamu, tidak sah. Jamin itu."


"Mau Bapak apa? Mau menuntut?" tantang Lila.


Pak Hari tak menjawab. Ia hanya tersenyum dan pergi keluar membawa semua uang itu. Menaiki motor kreditnya yang belum lunas, Ia pun pergi meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


Lila terduduk lemah di lantai. Entah kenapa, meski sakit hati tapi Ia lega. Lega karena dapat mengeluarkan semua uneg-uneg yang Ia pendam selama ini. Ia bahkan membaringkan diri nya di lantai yang dingin itu, setelah meminum air putih yang di berikan sang Ibu.


"Lila jangan tidur di lantai, nanti masuk angin."


"Bentar, Bu... Bentar aja. Dingin disini, enak." ucap Lila, setengah matanya terpejam.


***


"Iam, kamu yakin dengan semua rencana proyek itu?" Dona kembali mempertanyakan keputusan Iam mengenai rapatnya.


"Ya, bukankah kau sudah dengar keputusanku?"


Iam hanya duduk diam, dengan senyum diujung bibirnya. Bersama hampir Lima tahun, bahkan Dona tak pernah memahami tentang dirinya. Ia merasa sebagai pecundang, yang mampu berkorban tapi tak pernah Ia hargai.


" Jika Papa yang ada dihadapanku, Dia pasti akan meng'iyakan semua keputusan yang aku berikan. Seperti itulah biasanya."


"Tapi aku bukan Papamu, aku masih bisa menelaah semuanya."


"Kemampuanmu masih minim, Dona. Tak seperti aku dan Papa. Tapi, jika nanti Papa tiba-tiba menentangku, berarti bukan hanya Papa yang berfikir."Tatapan tajam Iam berikan pada Dona. Sebuah tatapan mengandung arti, hanya Dona yang faham akan hal itu.

__ADS_1


" Oke... Aku hanya ingin melindungi perusahaan ini. "


" Dari siapa? Dariku? Justru aku, yang sedang melindungi hak Mamaku disini."


"Iam....! Ah, sudahlah. Aku tak ingin berdebat sekarang."


"Apalagi aku. Aku hanya ingin segera pulang sekarang. Selamat tinggal, Dona." senyumnya masih bengis.


Dona memijit dahinya. Kemudian Rumi, sang asisten datang untuk membantunya berfikir.


"Ibu kenapa?"


"Entahlah. Hanya serba salah, ketika berhadapan dengan dia. Semua salah, meski aku begitu tulus padanya."


"Pak Iam, hanya masih kecewa."


"Apakah sedalam itu rasa sakitnya? Apa, itu tandanya dia bahkan belum bisa melupakan perasaannya padaku?"


Rumi hanya mengedikkan bahu. Ia tak menjawab apapun, meski sebenarnya ingin menjawab iya. Ia hanya tak ingin, menambah prasangka yang akan berujung masalah lebih rumit nantinya.

__ADS_1


" Aku tulus, aku tak mengharap apapun. Tak ada niat jahat dariku, bahkan menyakiti pun tak pernah terfikirkan. Bukankan, jujur itu lebih baik?" fikir Dona.


__ADS_2