Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Selalu emosi, ketika melihat Papa


__ADS_3

Petualangan dimulai. Iam mengajaknya ke sebuah pusat perbelanjaan. Ia ingat, ketika Aul membawanya untuk membeli perlengkapan seserahan.


"Ambil lah, apa saja yang kau mau."


"Temenin." rengek Lila, menggenggam ujung kemeja Iam.


"Beli saja apa yang kau mau, aku tunggu disini dan nanti membayarnya.."


Tapi Lila bergeming. Ia justru menundukkan kepala tanpa bergerak sama sekali.


"Ah, baiklah. Ayo..." gandeng Iam padanya.


Lila mulai memilih, beberapa pakaian yang Ia sukai. Tentunya di bantu Iam, karena menyesuaikan dengan seleranya dan pergaulannya.


Tak boleh terlalu seksi, terbuka, tapi harus tetap anggun dan elegan. Itu mau Iam padanya. Lila tak terlalu sulit menyesuikan diri, karena Ia suka gaya itu. Hanya kantongnya saja yang tak dapat menyesuaikannya.


"Beli tas?"


"Mas yang nawarin Loh."


"Iya, aku menawarkan. Demi kau bahagia." coleknya di dagu Lila.


Sayangnya, dipertengahan jalan Ia bertemu dengan Papa dan Mami Dona. Seketika hening, hanya Lila yang berusaha ramah dengan memberi salam. Ingin mencium tangan, tapi Papa Wira justru menyembunyikan tangannya.

__ADS_1


" Bahagia, telah berbelanja begitu banyak?" tanya Papa Wira pada Lila.


Lila hanya mengangguk, bahkan tak berani menjawab. Menatap matanya saja, tak berani. Iam menarik lengan Lila, dan menyembunyikan nya dibelakang.


"Bukannya, Papa perlu istirahat?" tanya Iam.


"Papa, minta refreshing sedikit, katanya." jawab Dona.


"Tempat ini terlalu ramai untuk pria tua. Pulanglah, atau cari tempat yang lain." tukas Iam.


"Papa mengawasi mu, Iam. Bahkan Papa tahu semua pengeluaranmu."


"Terus saja menjadi penguntit. Yang ku pakai, adalah hasil kerja kerasku sendiri. Bukan hasil pemberian Papa." Iam pun berjalan, meniggalkan Papa wira dan Dona.


"Mas, Mas jangan kenceng-kenceng jalannya." pinta Lila, yang kesulitan mengikuti langkah Lim.


Iam Akhirnya berhenti, dan berbalik menatap Lila.


"Kenapa?" tanya Iam.


"Kenapa apanya? Mas yang kenapa? Kenapa berubah seperti itu, setelah ketemu Papa?"


"Lila, tolong jangan bicarakan itu."

__ADS_1


"Lila cuma tanya, Karena Lila ngga tahu apa-apa. Apakah, semua gara-gara Lila?"


Lim langsung mendekapnya erat. Meminta maaf atas segala sikapnya pada sang istri. Ketika melihat sang papa, apalagi bersama Dona, Mood Iam seketika berubah. Untung ada Lila, sebagai peredam emosinya.


" Pulang?" tanya Lila.


" Baiklah." kecup Iam di keningnya.


Mall itu memang sangat luas, tapi mereka tak ingin mengulangi ketidak sengajaan yang sama.


"Jangan terlalu sedih dengan kejadian tadi. Aku dan Papa, sudah sejak lama seperti itu." ucap Iam yang sedang fokus menyetir.


"Tapi, lebih parah sejak kita menikah?"


"Tidak... Itu bukan salahmu." genggam tangannya dengan mesra.


Mereka telah kembali ke appartement. Masuk dan segera menuju kamar mereka. Tak lupa, Lila mengganti pakaian tidurnya. Sebuah gaun tidur dengan kimono tipisnya, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang begitu indah. Apalagi, bagian dadanya yang tampak semakin padat dan berisi, karena ukurannya pas dengan tubuh Lila yang mungil.


"Masih mau sesuatu?" Lila duduk tepat di sebelah Iam, dan mengikat rambutnya dengan asal. Semakin menambah indah pemandangan yang ada.


"Mas, kenapa? Kok ngelamun?"


"Ehm, ngga papa. Kamu capek kan? Tidurlah."

__ADS_1


"Aku menginginkanmu, Lila. Tapi, aku tahu jika kau masih memiliki sedikit rasa trauma padaku. Aku melihatnya, meski kau berusaha menutupinya." batin Iam.


Tatapan yang memang tak dapat di bohongi dari seorang wanita. Ia yang sudah menerima dengan ikhlas, tapi akan tetap ingat kejadian yang baginya memilukan. Iam faham, dan Ia tak ingin terlalu memaksa Lila dengan segala keinginannya.


__ADS_2