Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Suami Posessif


__ADS_3

Terdengar suara pintu diketuk. Aul yang sudah setengah sadar, membuka mata dan segera membuka pintunya pelan-pelan.


"Kok, malem banget?" keluhnya pada Shandy.


"Biasanya pagi, cerewet."


Shandy masuk, tanpa memperdulikan Aul yang tertunduk diam karena sergahannya. Ia melangkah naik masuk ke kamarnya.


Aul mengunci pintunya kembali, lalu naik masuk ke kamarnya dan mengistirahatkan dirinya yang begitu lelah.


Ia tak pernah tidur selarut ini, karena akan berimbas pada jam bangun dan kondisi kepalanya yang sering sakit. Tapi kali ini, Ia mulai harus terbiasa dengan semua itu.


***


"Sayang, bangunlah. Hari sudah semakin siang."


Iam membuka hordeng, dan mentari tepat mengenai wajah Lila yang masih dengan selimut tebalnya. Ia menggeliatkan tubuh, dan mulai membuka matanya. Menatap Iam yang rupanya telah rapi dengan jas dan tengah memakai dasinya sendiri.


"Loh, Mas kok udah rapi?"


"Iya, ada rapat pagi hari ini."


"Kenapa ngga bangunin Lila? Lila belum masak, belum apa. Mas nyiapin baju sendiri."


"Ngga papa, sesekali mandiri. Ngga tega, lihat kamu begitu lelap dengan mimpi yang indah." goda Iam dengan mengedipkan matanya.


"Ish, gombal. Lila siapin sarapan sebentar, ya?"

__ADS_1


Lila bangun, mengikat rambutnya asal-asalan dan mengenakan blezernya. Melangkahkan kaki menuju dapur dan membuat sarapan dengan bahan seadanya. 


Iam datang menghampiri, duduk dengan santai menunggu sarapannya di hidangkan. Menatap sang istri yang cantik alami meski tampak berantakan.


"Ini, sarapan dulu seadanya. Nanti Lila belanja bulanan buat isi kulkas, ya?"


"Sendiri?"


"Ya, sama siapa lagi? Masa mau ganggu Aul, kasihan Mas."


"Nanti aku pulang sebentar, buat antar kamu. Tunggu aja, dan jangan kemana-mana."


"Huuutffzz, Iya..." Lila menghela nafas panjang dengan ke posessifan suaminya.


Iam menghabiskan sarapannya, sebuah roti tawar panggang dengan isian keju di dalamnya. Memang kesukaan Iam sejak dulu, dan Aul yang memberitahunya pada Lila.


Lila hanya mengangguk, lalu mengantarnya kedepan pintu. Dengan pakaian seksi seperti itu, Iam melarangnya keluar. Hanya sebatas pintu, dan Ia harus mengganti pakaian ketika bepergian.


Iam pergi. Lila masuk kedalam dan mulai melakukan segala aktifitas kesehariannya. Ia pun mandi setelah selesai lalu sarapan.


"Sesekali, ajak Ibu kesini ngga papa 'kan? Bosen tauk." gelisahnya sendirian.


***


Mobil terparkir di halaman kantor. Iam keluar, tepat ketika Papa Wira dan Dona sampai pula disana.


"Hey, baru sampai?" tanya Papa Wira dengan ramah.

__ADS_1


"Ya, baru saja." jawab Iam dengan wajah datarnya.


Dona hanya tertunduk, menyilakkan rambutnya. Tak berani menatap Iam karena masih terbayang kelakuan Mama dan Adiknya. Ia pun menggandeng Papa Wira dengan begitu erat, seolah begitu takut ditinggalkan..


"Dona, kau sehat?"


"Ehm, Ya... Aku sehat." jawab Dona kikuk. Tak di sangka, Iam menyapanya terlebih dulu pagi ini.


"Iam, belum bisa memanggilnya Mami?"


"Maaf, belum. Doakan saja, lain kali bisa." jawab Iam, lalu berjalan meninggalkan mereka berdua.


"Anak itu...."


"Mas, jangan. Biarkan saja dulu. Jangan paksa Dia untuk saat ini." lerai Dona.


Papa Wira hanya mengangguk, lalu membawanya masuk ke dalam ruangan mereka.


Dalam beberapa pekerjaan, Dona memang dapat diandalkan. Kecerdasan, dan ketegasannya menjadi aset penting dalam perusahaan. Ia telah bekerja Tiga tahun disana, sebelum menjadi Nyonya Wira seperti saat ini.


"Selamat pagi, Pak."


"Pagi, Siska. Siapkan bahan rapat pagi ini. Segera selesai, dan aku segera menjemput istriku."


"Kemana?" tanya Siska.


"Mengajaknya belanja bulanan. Aku tak mau melepasnya pergi sendirian."

__ADS_1


__ADS_2