Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Kamu anggap Bapak sudah mati?


__ADS_3

Dikamar yang kecil, tanpa Ac dan tempat tidur mewah. Lila merebahkan diri dan memejam kan matanya sejenak. Setelah mendapat sebuah panggilan video dari sang suami, rasanya semakin tenang dan tak ada lagi tanya dalam benaknya.


Namun, istrihat itu terganggu dengan suara berisik yang datang dari luar. Ia membuka mata, dan mulai menganalisa suara yang Ia dengar.


"Bapak? Kenapa datang kesini?" lirihnya.


Ia pun perlahan melangkahkan kakinya keluar. Langkah demi langkah pelan, menghampiri sumber suara.


"Jangan diambil semua. Itu sebagian juga untuk modalku nanti. Kau bahkan tak berkontribusi apapun dengan toko ini." Bu Marni sedang mencoba merebut uang yang ada ditangan mantan suaminya.


"Heleh, ini juga milikku. Hanya karna kau yang mengelola, jangan kau fikir ini milikmu." Pak Hari tengah menghitung beberapa lembar uang yang ada di tangannya.


"Ku dengar, Lila sudah bekerja. Berarti, dia bisa membiayai hidupmu yang renta. Toko ini, jadi milikku saja."


"Mana mungkin? Toko ini menjadi satu dengan rumah."

__ADS_1


"Nah, kau tahu. Makanya untukku. Aku, masih harus menafkahi Tiga anak dari Nurul. Mereka masih sekolah." jawab Pak Hari.


"Itu urusanmu, tanggung jawabmu sebagai Bapaknya. Apa hubungannya dengan kami?" sergah Bu Marni.


"Ya, kau kan bisa dengan Lila. Tinggal dikontrakan saja berdua 'Kan cukup."


Bu Marni menatapnya nanar. Ia memang faham betul watak mantan suaminya itu. Tapi, sampai sekarang bahkan tak ada perubahan sama sekali darinya justru, terasa semakin egois.


"Kau mengorbankan aku dan Lila, untuk mereka? Bahkan, sedikit tanggung jawabpun tak pernah kau berikan pada Lila!" amarahnya memuncah.


Lila masih diam, tak menangis dan bahkan tak merasakan apapun. Ia memegangi dadanya, hanya sedikit sesak tapi masih bisa teratasi.


" Jangan pernah kamu campuri urusan pribadinya. Dia punya jalan hidupnya sendiri." Bu Marni mengancam.


" Tapi, segala sesuatu yang berhubungan dengannya, harus atas restuku. Oh iya, kemarin dia datang bersama seorang pria miskin. Minta dinikahkan, aku tak sudi. Biarkan saja, jadi perawan tua pun masa bodoh." ucap Pak Hari dengan sombongnya.

__ADS_1


Kaki Lila semakin gemetar, keringat dingin pun keluar membasahi dahinya. Tapi, Ia teringat akan Iam kala itu. Bukan untuk meminta tolong, tapi Ia ingat pelukan yang diberikan. Dan Ia pun segera mempraktekannya disana.


" Tenang Lila, tenang. Dia hanya toxic yang tak perlu kau fikirkan." lirihnya.


Akhirnya Ia memberanikan diri keluar, menatap sang Bapak dan membela Ibunya. Untuk pertama kali, Ia berani melakukan itu setelah sekian lama.


"Lila ngga perlu wali dari Bapak. Lila udah menikah dengan Mas Iam."


Pak Hari menoleh, matanya melotot sebesar biji jengkol. Urat wajahnya keluar, seolah ingin mencengkram Lila dan menghajarnya hingga puas.


"Lancang! Kamu menganggap Bapak sudah mati?" pekiknya.


"Kenyataannya ada. Tapi, rasa itu sudah hilang. Harapan, kasih sayang, bahkan khayalan tentang kasih sayang Bapak pun Lila sudah lupa. Yang Lila inga hanya, pukulan yang sering Bapak berikan sama Lila. Lalu, apa gunanya Bapak? Jika bukan karena Ibu, Lila juga ngga akan kesana."


Air muka Lila memerah. Tampak menahan emosi yang begitu besar saat ini. Bu Marni, hanya mengusap bahunya dan berusaha menenangkan.

__ADS_1


" Tenang, Lila. Ngga usah diladenin. Biarkan dia pergi bawa uang itu. Ibu ikhlas." bujuk sang Ibu padanya.


__ADS_2