
Iam tiba di kantornya. Langsung memasuki ruangan yang sudah hampir Dua minggu Ia tinggal dalam pelarian. Sang sekretaris, Siska. Ia datang dan langsung memberi beberapa laporan pada Bosnya itu
"Papa Bos nanya."
"Nanya apa?"
"Dari Bapak pergi, Beliau selalu nanya. Kenapa ngga masuk kantor, diamana tinggalnya? Diam-diam perhatian."
"Diam-diam juga telah merebut pujaan hatiku." jawabnya datar.
"Bapak 'kan udah nikah, harus nya Bapak sudah ikhlas."
"Tentu... Saya sudah ikhlas dia pergi. Tapi, saya tak akan pernah lupa perbuatannya pada saya. Terutama pada Mama."
"Sedendam itukah, kamu dengan Papamu ini, Iam?" Papa Wira mendadak masuk, dan menghampiri Iam di tempat duduknya.
Mereka berhadapan saat ini. Siska berada di tengah mereka, tapi Ia sendiri tak berkutik dan tak berani mengambil tindakan apapun.
"Aduh, aku tegang banget. Andai aku bisa lari." fikir Siska.
"Kenapa, begitu berat melepaskan Dona? Dia bahkan tak mencintaimu. Jelas-jelas, Dia pilih Papa dibanding kamu."
"Terserah dengan Dona. Iam hanya kecewa dengan Papa. Pria yang bahkan sanggup menelan ludah sendiri demi seorang wanita muda. Masih terngiang jelas ditelinga Iam, ketika Papa menangis diatas pusara Mama."
__ADS_1
"Papa pun, masih mengingatnya hingga kini." jawab Papa Wira.
"Tapi Papa tak pernah ingat, apa janji Papa kala itu." jawab Iam, masih dengan emosi yang sama.
Papa Wira hanya diam. Ia tak ingin beradu argumen lagi pada sang putra. Ia berusaha mencari bahasan, yang mengalihkan tema panas ini dari keduanya.
"Dimana istrimu?" tanya Papa, berusaha ramah.
"Di apartemen. Kenapa?"
"Kenapa tak kau ajak pulang ke rumah?"
"Rumah siapa?"
"Jangan mulai, Iam." tegurnya dengan nada keras.
"Itu rumah Mama dan papa!"
"Lalu kenapa mengajak wanita itu tinggal disana?"
"Dia Mamimu...."
"Dia istrimu, bukan Ibuku." sergah Lim.
__ADS_1
"Papa Bos, Siska bawa keluar yuk. Nanti Papa Bos jantungnya kumat kalau disini." bujuk Siska.
Sekretaris senior itu lalu membantu Papa Wira berdiri. Ia kemudian membawanya keluar ruangan, dan mengembalikannya ke ruangannya sendiri.
"Papa Bos, sabar. Pak Iam itu masih kalut." bujuk Siska.
"Dia, semakin keras. Pendiriannya semakin kuat. Apa karena wanita itu?"
"Papa Bos. Nyonya baru itu bahkan baru mengenal Pak Iam. Mana bisa memperngartuhi sampai ke masalah itu. Bahkan mungkin, silsilah keluarga Wiratama pun belum tahu." Siska meminumkan obat yang menenangkan jantungnya.
"Sebentar lagi, Mami Bos datang menjemput. Papa Bos tenang saja disini, ya?" ucap Siska.
Ia kemudian berjalan lagi menuju ruangan Iam. Menenangkan Bosnya yang masih galau itu.
"Tenang tampaknya. Tapi, dia bagai gunung berapi yang siap meletus kapan saja. Menyimpan dendam yang teramat sangat." batin siska.
Iam mulai fokus pada semua dokumennya. Begitu menumpuk, karena memang Ia yang memegang semua proyek saat ini.
"Aku bertahan disini, demi perusahaan. Meski atas nama Papa, tapi Mama ikut andil mendirikannya. Tak akan ku beri kesempatan, dia mengambil alih Hak Mama disini."
"Pak, jangan terlalu suudzon. Bu Dona baik kok, ngga pernah macem-macem diperusahaan. Malah dia dengan telaten ngurus Papa Bos." tegur Siska.
"Baru awal, Siska. Kita ngga tahu nantinya. Saya hanya tak ingin ambil resiko."
__ADS_1
"Ya, terserah Bapaklah." jawabnya.
Siska kemudian merapikan dokumen yang ada dimeja. Mengumpulkan dan menyusun sesuai dengan isi dalam mapnya. Apalagi untuk jadwal meeting. Semua harus tertunda hanya gara-gara huru hara yang terjadi belakangan ini.