
"Udah, Mas, stop berprasangka." tegur Mami Dona, yang masuk menghampiri mereka.
"Tak berprasangka, karena beberapa memang datang dengan sendirinya. Semua hadir di depan mata, menguatkan semua dugaan yang ada." balas Papa Wira.
"Dah ah, Aul capek. Mau gantian jenguk Kak Lila. Di saat dia sakit begini pun, Kak Lila selalu nanyain Papa. Tapi Papa justru selalu suudzon sama dia." Aul membereskan dirinya, lalu menyandang tas selempang kesayangannya. Itu adalah hadiah dari Iam, pasca ulang tahunnya tahun lalu.
" Beritahu, bagaimana kabarnya setelah ini." pinta sang Papa.
" Mau buat apa? Terus, biar kenapa kalau Aul kasih kabar? Papa juga, ngga boleh dan ngga bisa kesana." ucap Aul dengan santai.
"Aul, mulai menentang Papa?"
"Engga. Hanya meminta Papa behenti mengurusi keluarga Kak Iam. Aul juga capek, seperti Mami. Bisa-bisa, kami pun pergi meninggalkan Papa karena lelah."
Aul tampak mulai tegas, mungkin karena beberapa pengalaman dalam hidupnya. Membimbingnya semakin menuju kedewasaan. Ia keluar, menghampiri mobilnya yang ada di parkiran. Ia menyetir, Menuju apartemen Lila dengan segenap rindu untuk sang Kakak Ipar disana.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Kak Lila?" panggilnya, yang masuk rumah dengan kunci cadangan yang Ia miliki.
"Waalaikumsalam, eh, adiknya Mas Iam, ya?" sapa Mba Dinar, yang kebetulan tengah membereskan rumah dan sekitarnya. "Perkenalkan, saya tetangga, plus perawat pribadi Lila."
"Oh, ini ya? Saya Aulia, adik Mas Iam. Kak Lila, mana?" tanya Aul, "Dikamar. Baru makan, dan sekarang sedang istirahat. Maklum, harus bedrest total."
"Oh iya. Tapi, Aul masuk ngga papa 'kan? Cuma mau lihat, keadaannya." pamitnya. Ia pun masuk, setelah mendapat izin dari Dinar yang kemudian lanjut bekerja.
"Kak, Kakak tidur?" tanya Aul, dengan suara begitu lirih. Lila pun terbangun, menyambutnya dengan senyuman manis meski tak dapat memeluknya seperti biasa.
Aul duduk di dekatnya, dan menggenggam tangannya dengan erat. "Ngga papa, Aul ngerti kok." jawabnya. Mereka pun bercengkrama seperti biasa. Keakraban yang terjalin memang luar biasa, seperti kakak dan adik kandung pada umumnya.
"Ini tehnya, Mba. Maaf telat, lihat rumah sebentar tadi." ucap Mba Dinar, dengan secangkir teh hangatnya.
***
__ADS_1
Di sela istirahatnya yang begitu tenang, Papa. Wira mendapat kunjungan dari Adik ipar dan mertuanya. Ia dengan senang hati menyambutnya, meski Mami Dona berwajah masam dengan keduanya.
" Hey, menantuku. Bagaimana kabarnya?" sapa Oma Nia.
"Sehat, Ma. Mungkin besok pulang. Bagaimana kabar Mama?"
"Ya, seperti ini. Bagaimana bisa dikatakan bahagia, jika tinggal dalam sebuah kontrakan sempit, dan hidup serba pas-pasan." lirik Oma Nia, pada Mami Dona.
"Suruh saja anak kesayangan Mama itu, untuk kerja. Kuliah juga ngga jelas, gimana akhirnya. Aul aja, tinggal ujian akhir. Bulan depan wisuda." sindir Mami Dona, pada sang adik.
Oma Nia hanya meminyirkan bibirnya, kembali pada sang menantu yang masih terbaring di sana. "Bagaimana kabar istri Iam? Katanya hamil?"
"Ya, hamil. Aku hanya takut, itu adalah anak mereka di luar nikah. Pastinya, adalah anak haram. Akan mengotori nama keluarga nantinya."
"Mas! Berhenti ngomong begitu. Kenapa terus suudzon sih? Capek tahu ngga, dengernya." tegur Mami Dona, untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
"Kalau males denger, ya Mba pergi aja dari sini." tukas Shandy. "Dan membiarkan kalian merencanakan sesuatu yang jahat? Enak aja. Kalian, yang harusnya keluar dari ruangan ini. Pergi sekarang!" usir Mama Dona, pada keduanya.