Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Hari pernikahan


__ADS_3

Telah duduk sepasang calon pengantin di kursi yang telah disediakan untuk proses ijab qabul.


Lila begitu cantik dengan kebaya putih, lengkap dengan mahkotanya yang begitu indah. Membuat Iam tak henti memuji dan menatapnya tanpa berkedip.


"Kamu cantik."


"Terimakasih..." angguk Lila yang tersipu malu.


Hanya tinggal menunggu Pak penghulu, yang katanya sedikit telat datang karena urusan yang begitu banyak. Maklum, pernikahan ini memang begitu mendadak, sehingga dokumen masih banyak yang harus diperiksa.


"Kak Iam..." panggil Aul, yang juga telat datang.


"Aul, kok telat?"


"Iya... Mami ikut, jadi nunggu dulu."


Dona pun keluar, tak kalah cantik dengan Lila yang menjadi pengantinnya. Mengenakan dres batik panjang, dan berkacamata hitam, Ia turun dari mobil sendirian.


"Maaf, Papa ngga ikut." ucap Aul.


"Kalian saja, sudah cukup. Dona, terimakasih." ucap Iam, yang belum sanggup memanggilnya Mami.

__ADS_1


Pak penghulu beserta rombongannya datang. Iam kembali ke tempat duduknya, yaitu di sebelah Lila.


"Maaf, saya telat. Masih sabar 'kan? Malam nya kan masih nanti, sabar lah ya?" ledek sang penghulu, untuk mencairkan suasana..


Setelah memcocokkan semua berkas, dan menjelaskan mengenai wali. Akhirnya Pak penghulu memulai Ijab qabulnya. Om Agung menjabat tangan Iam, dan meski jantungnya bergemuruh, tapi Iam dapat mengucapkan Ijab qabulnya dengan lantang. Hingga semua bersorak SAH pada pernikahan mereka.


Banjir air mata di pipi Lila dan Bu Marni. Karena akhirnya anak semata wayangnya yang gemar di juluki perawan Tua, akhirnya mendapatkan jodohnya.


"Semoga, Iam adalah lelaki yang tepat buat kamu, Sayang." gumam Bu Marni.


Iam memakaikan cincin kawin untuk Lila. Sebuah cincin berlian kecil, tapi cukup indah di jari manisnya.


"Maaf, karena hanya segini. Besok kita cari yang lebih besar, ya?"


Iam mengecup kening wanita yang telah bergelar istrinya tersebut dengan begitu lembut dan mesra.


Acara berlanjut dengan makan bersama. Karena memang tak ada acara hiburan lain disana. Hingga usai tengah hari, semua orang telah pulang ke kediamannya masing-masing. Menyisakan Aul dan Dona yang menemui Bu Marni dan keluarga besarnya.


"Maaf, jika hanya saya yang bisa datang kemari." ucap Dona dengan ramah.


"Tak apa... Malah saya fikir, tak ada pihak keluarga Iam yang datang. Tapi saya faham hal itu." jawab Bu Marni..

__ADS_1


"Saya kemari, mau memberikan hak untuk keluarga ini." Dona memberikan sebuah amplop untuk Bu Marni.


"Apa ini?"


"Dalam tradisi keluarga, jika istri itu di beli oleh suaminya. Meski hanya sebagai adat istiadat, tapi saya berusaha melestarikan itu. Tolong, diterima.".


Bu Marni tercengang. Amplop itu begitu tebal, bahkan Ia tak berani menerka-nerka berapa isinya.


"Tapi Lila, ngga pernah minta..."


"Sebaik-baiknya keluarga, adalah yang menghargai keluarganya yang lain. Kami menyambutmu, Lila." ucap Dona.


Tapi Iam hanya diam dan duduk dengan rokoknya. Entah, serasa datar mendengar apa yang diucapkan Dona pada mereka.


"Aku tak memintanya. Apa kau mau mencari perhatianku?" batin Iam.


"Setelah ini, kalian tinggal dimana? Pulang ke rumah?"


"Kami pulang ke apartemen. Kami akan berbulan madu disana. Wajar kan, pengantin baru?" Iam memotong ucapan Dona.


Meski sedikit tak enak hati, tapi Dona berusaha tetap tersenyum. Ia tahu, Iam masih begitu membencinya.

__ADS_1


"Sampai kapan, akan seperti ini, Am? Aku tulus, tak seperti yang kau bayangkan." batin Dona begitu perih.


__ADS_2