
Mobil telah terparkir di halaman rumah utama. Aul turun dengan rantang yang Ia bawa dari Lila untuk Maminya. Dan Iam turun dengan vitamin yang Ia beli atas saran Lila. Mereka masuk bersama, mencari Mami Dona yang sepertinya ada di dalam rumah.
"Mam, Mami... Mami di mana?" panggil Aul dengan kuat. Hingga Ia membuka pintu kamar Papanya dan Mami Dona ada disana.
"Mam, Kok tumben jam segini udah tidur?" Aul menghampirinya.
"Aul udah lama, sayang? Maaf, Mami rasanya lelah sekali. Jadi Mami istirahat."
"Udah makan? Ini, Kak Lila bawain makanan dari sana." ucap Aul. "Ayo, Aul temenin makan. Ada Kak Iam juga di luar." ajaknya.
Mami Dona mengangguk, dan beranjak dari tempat tidurnya. Wajahnya tampak pucat, dan tubuhnya begitu lemas. Efek stres, lelah, dan semua bercampur menjadi satu saat ini.
"Hay Dona, kamu baik-baik saja?" sapa Iam padanya.
"Ya, seperti yang kamu lihat. Tak dapat dikatakan baik, tapi aku berusaha kuat." jawabnya. Mami Dona tahu, Ia tak dapat berbohong dengan Iam yang begitu mengenalnya sejak lama.
__ADS_1
"Ini, vitamin untukmu. Lila memintaku membelikannya." Iam memberikan sekantung plastik pada Mami Dona.
"Lila... Bagaimana?" tanya Mami Dona, dengan mata nanar. "Aku rindu padanya." isaknya.
"Kenapa kau malah menangis? Jika rindu, tinggal datang kerumah dan jenguk dia. Dia pun rindu padamu."
"Entah. Aku.... Aku sudah kehilangan muka dengannya. Aku bahkan tak berani menampakkan wajahku di depannya. Walau hanya sekelbat bayang." isaknya.
"Mam, sudahlah. Kak Lila bahkan sudah tak pernah membahas itu lagi. Bahkan Kak Lila, sudah tak mau mengingat lagi masa sakitnya. Meski, masih sering teringat." bujuk Aul dengan makanan di piringnya.
Aul menyuapi Maminya, meski sang Mami makan dengan begitu tak berselera."Besok, Aul temenin Mami periksa ke dokter. Mami belum pernah periksa sama sekali 'kan?"
"Iya, sayang, terimakasih." ucap Mami Dona, dengan segala pengertian dari anak sambungnya.
Iam kemudian pamit. Ia tak bisa berlama-lama karena isi kepalanya hanya ada Lila saat ini. Bahkan, Ia menyetir dengan kencang agar segera tiba di appartemen mereka.
__ADS_1
" Assalamualaikum, " ucapnya, dan langsung mendapat sambutan dari sang istri.
"Kok cepet?"
"Lah, ngapain aku lama-lama disana? Emang ngga cemburu?" goda Iam dengan mencolek dagunya.
"Meski kadang cemburu itu ada, tapi rasa yakin terhadap suami lebih besar."
"Sebesar apa?"
"Apa ya? Lila ngga tahu. Mungkin, sebesar buket bunga yang tadi Mas kasih." jawab Lila. Ia kemudian menggandeng lengan suaminya untuk bersama masuk ke kamar.
Iam mengganti pakaiannya dengan piyama. Begitu juga Lila dengan pakaian tidurnya. Sengaja memakai daster biasa, agar Iam tak tergoda dengannya yang biasa memakai lingerie. Tapi, bukan Iam namanya kalau tak usil dengan tubuh istrinya. Ia tak hentinya mengusap punggung Lila ketika mereka tidur berhadapan.
Tangannya menelusup ke dalam daster dan bergerak tanpa henti. Hingga akhirnya Ia tidur sendiri, setelah Lila tidur duluan karena pengaruh obat yang baru saja Ia minum.
__ADS_1
"Oh, tidur juga, rupanya. Untung hanya sebatas itu. Jika engga, bahaya." gumam Lila. Lalu Ia mengecup bibir Iam, yang tangannya masih tetap berada di tempatnya yang nyaman.