
Mata Iam terpejam memeluk Lila yang membelakanginya. Begitu erat, hingga membangunkan sang istri dari tidur lelapnya.
"Mas?"
"Ya?"
"Mas kenapa?" tanya Lila.
"Aku, tak bisa seperti ini. Aku tak bisa menahannya, apalagi ketika di dekatmu. Mencium aroma tubuhmu, dan menikmati setiap lekuk tubuhmu. Tapi...."
"Mas, menginginkannya?" Lila menggenggam tangan Iam dengan begitu erat.
"Aku... Hanya takut jika kau masih trauma denganku. Tatapan matamu yang mengatakannya."
Lila membalik tubuhnya, menghadap Iam dan mengusap wajahnya.
"Aku hanya belum terbiasa. Aku hanya masih asing dengan keadaan ini. Memang, kejadian malam itu masih menyisakan trauma. Tapi, itu kamu sendiri. Pria yang sekarang menjadi suamiku. Aku, harus terbiasa, bukan?"
Iam mulai mengulum bibir Lila, memainkan lidahnya disana dan tangannya aktif melepas kimono yang Ia pakai. Hanya pakaian dalam tipis yang membalut tubuhnya sekarang. Dan Iam, semakin bersemangat dengan permainannya.
__ADS_1
Lila kembali menggeliatkan tubuhnya dengan liar. Meresapi setiap sentuhan yang Iam berikan. Apalagi, Iam menelusuri setiap jengkal tubuh Lila dengan sesapan hangatnya. Lila menggelinjang hebat, ketika bibir Iam menelusup ke miliknya yang memang telah menunggu sesuatu yang lebih.
Sayangnya, ketika Lila terpejam dengan segala sentuhan Iam, Ia seketika ingat kejadian malam itu. Ia menahan bahu Iam sejenak, dan Iam menghentikan aktifitasnya.
"Kau, sakit?" tanya Iam.
"Ehm, tidak... Lanjutkan." Lila berusaha membuang jauh-jauh semua rasa takut itu, lagi dan lagi.
Iam mulai perangnya. Pergumulan semakin panas kali ini. Lila tak lagi menahan suaranya, dan melampiaskannya dengan erotis. Membuat malam itu semakin panas. Apalagi, ketika Iam mengubah posisi Lila untuk duduk diatasnya. Posisi favorit sepertinya, karena Iam dapat menatap semua tantangan yang ada dihadapannya.
Gerakan di percepat. Lila berkali-kali mengerang dengan merapikan rambutnya yang berantakan. Disertai hentakan demi hentakan nikmaat yang semakin hangat. Hingga keduanya lepas, dan terkulai bersama dengan begitu puas.
"Khalila... Terimakasih." Iam mengecupi punggung Lila yang polos.
"Padahal, aku sudah mengajakmu pergi jauh." batin Iam.
Ia pun terus memeluk Lila, hingga Ia sendiri terlelap dalam semua mimpinya yang begitu indah.
***
__ADS_1
Iam kehilangan Lila ketika Ia bangun dari tidurnya. Ia mencari, bahkan ke kamar mandi. Lalu, keluar mengenakan celana pendeknya.
" Lila dimana?" panggilnya, namun tak juga mendapat jawaban.
Tercium aroma masakan yang begitu lezat, dan Iam pun menghampirinya ke dapur. Ya, Lila tengah memasak sarapan pagi di sana. Ia pun sepertinya sudah membersihkan diri, harum dan mengikat rambutnya memperlihatkan lehernya yang jenjang dan penuh kismark bekas pertempuran semalam.
Iam memeluknya dari belakang, tapi Lila terkejut dan memukulkan sebuah terong ke arah belakang, tepat di dahi Iam.
"Aaakkhh!"
"Eh, Mas? Maaf, Lila kagetan." ucapnya membalik badan.
"Terong? Kenapa harus terong?" tanya Iam, meraih terong ungu yang masih Lila genggam erat di tangannya.
"Ma-mau Lila goreng, buat lalapan." ucapnya.
Genggaman itu tampak begitu mantap, membuat fikiran Iam melayang dan menerawang begitu jauh hanya karena sebiji terong ungu.
"Kamu, begitu menggemaskan, sayang." kecupnya lagi, di bibir sang istri.
__ADS_1
"Masss, masih pagi." Lila berusaha menyingkirkan tubuh Iam darinya.
"Tapi, hasrat ini selalu seperti ini ketika melihatmu. Kamu, adalah candu untukku. Beruntung aku bisa mengejar, dan mendapatkanmu." kecupnya bertubi-tubi di pipi sang istri, bahkan menggigitnya dengan bibir karena begitu gemasnya.