
Bu Marni, tengah kebingungan sekarang. Ia berfikir setelah Burhan pulang, mengenai sang mantan suami dengan kondisi yang mengenaskan. Bukan masih sayang, hanya sebagai rasa kemanusiaan untuk dia yang akhirnya menjadi korban obsesinya sendiri.
"Tidak, tak boleh kesana hari ini. Cari tahu dulu kabarnya besok. Dan jika masih begitu, baru ku datangi dia. Ke Rumah Sakit jiwa pun, perlu wali." gumamnya, sembari mengurut dahi.
***
Hp Lila berdering lagi. Ini ke Empat kalinya Iam menelponnya, dan pertanyaannya pun sama.
" Mas, nanti kalau Lila mau sesuatu, Lila pasti bilang kok. Kalau begini, takutnya malah kerjaan yang terganggu."
" Engga, sayang. Kapan aku mau nelpon, pasti memang itu waktu buat kamu. Bentar lagi aku pulang, ya."
"Pengen keluar," Lila akhirnya mengucap keinginannya.
"Okey, nanti kita keluar. Kemanapun Lila mau, Mas antar."
"Siap," ucap Lila dengan perasaan yang riang gembira.
__ADS_1
Iam menutup teleponnya, dan menyelesaikan tugasnya yang terakhir. Dan Ia akan segera pulang setelahnya.
"Ini, yang hamil diem aja, malah suaminya yang ribet." Siska kembali meledek bosnya itu. Ia juga masih diruangan Iam. Masih bergumul dengan semua file yang harus mereka selesaikan secepatnya.
"Selagi saya bisa, Siska. Kadang saya berfikir, kapan saya bisa memanjakan Lila seperti ini. Takutnya, ketika dia yang ingin, saya justru tak dapat menurutinya." jawab Iam. Mereka memang tengah sibuk dengan cabang baru, yang sedang dalam pengerjaan. Tenaga dan fikirannya nyaris terkuras disana. Untung saja, masih selalu menyempatkan diri untuk sang istri.
Iam benar-benar telah menerima Duta dalam kantornya. Tapi dikantor utama, karena statusnya yang telah menikah. Karena di perusahaan baru nanti, Ia ingin para karyawannya fokus dengan perkembangan perusahaan mereka.
"Iam, kamu sibuk?" Papa Wira menghampirinya di ruangan.
Papa Wira mengode Siska agar keluar. Dan Siska segera mengangguk dan menuruti perintah itu tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Kenapa?" Iam mengulang pertanyaannya. Apalagi, melihat ekspresi yang aneh dari papa nya.
"Kamu, mengeluarkan uang sebanyak itu, untuk apa?" Papa Wira memperlihatkan sebuah rekening koran yang berasal dari keuangan Iam.
"Untuk keperluan Iam, kenapa?"
__ADS_1
"Untuk Bapak Lila? Atas dasar apa, dia meminta uang padamu? Salah satu yang membuat Papa berat dengan hubungan kalian, adalah ini. Ketika keluarganya berantakan, tapi masih selalu memanfaat kan keadaan. Jangan kira Papa ngga tahu, Mami memberi uang mahar dalam jumlah banyak pada Ibunya."
" Papa mengawasi, sudah sampai batas mana? Rekening, pengeluaran, uang belaja Lila? Semua Papa kontrol?"
" Itu tugas dari Mama untuk Papa, Iam! Papa ngga akan tinggal diam, ketika mereka memanfaatkan keuangan keluarga kita sesuka hati. "
" Tapi itu, uang pribadi Iam. Papa ngga berhak mengatur, meski Papa tahu uang itu bagaimana. Tugas Papa, hanya mengawasi keuangan perusahaan. Itu saja." Iam menjelaskan dengan wajah datarnya. Ia tak ingin memancing lagi, keributan yang sudah susah payah Ia redam.
" Ingat perjanjian awal. Iam berhak atas perusahaan, ketika Iam sudah menikah. Semua akan sah, ketika Iam mengambil keputusan."
" Dan Papa bertugas mengawasi itu,"
"Perusahaan, bukan pribadi. Bedakan itu, Pa. Iam tak pernah mengatur apapun mengenai Papa dan Dona. Asal kalian mengatur perusahaan dengan baik. Dan jangan buat, Iam semakin ketat dengan kalian."
"Iam!" bentak Papa Wira. Dan Iam hanya menyunggingkan senyum manis ciri khasnya pada sang Papa.
Papa Wira tampak kesal, karena Iam sudah tak bisa masuk dalam aturannya lagi. Ia melangkahkan kakinya keluar dengan langkah kasar, sembari melonggarkan kerah kemejanya yang terasa sesak.
__ADS_1