Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
I Love You


__ADS_3

Gaun dan pakaian Iam bertebaran di lantai kamar hotel itu. Desaahan demi desahaan mengisi ruangan kamar yang besar, di iringi hawa yang semakin panas di tubuh mereka. Keringat bercucuran di tubuh mereka, apalagi itu menambah kesan seksi di tubuh pria yang tengah mendominasi permainan itu.


Berbagai gaya mereka coba, entah Lila belajar darimana dengan semua itu. Iam hanya heran, namun tetap menikmati malamnya dengan begitu indah.


Iam kini memeluk Lila dari belakang, melakukan permainannya dengan posisi itu sekarang. Dengan lengan kirinya menjadi bantal untuk Lila, namun tangannya selalu aktif dengan bagian yang bisa Ia sentuh. Merayap ke bibir Lila dan membiarkannya meluumat jari-jarinya sesuka hati.


Iam mempercepat gerakannya, dengan terus menyeesap tengkuk leher Lila. Bukan erangaan lagi yang Lila berikan. Tapi teriakan yang begitu kuat bersamaan dengan pelepasan cinta mereka.


"Kau lelah?" bisik Iam dengan begitu lembut, di telinga Lila dan mengusap dahi nya yang penuh di dahinya.


"Iya, Mas. Lila cuma pengen tidur. Mas, kalau mau lanjut kesana ngga papa."


"Kau tak cemburu, atau curiga?" bisik Iam, yang memijat lembut bahu Lila.


Wanita yang awalnya membelakangi Iam itu, lalu membalik badan dan menatap wajah suaminya. Tangannya naik ke dahi, turun perlahan hingga ke dada Iam yang bidang.


"Apa Mas masih mau nakal diluar, setelah mendapatkan semua dari Lila?"


"Kau belajar genit darimana?" colek Iam di hidunhnya.


"Belajar sama yang lebih ahli lah." jawab Lila. "Apa, Lila tampak bodoh?"

__ADS_1


"Bodoh kenapa?" Iam mengecup bibirnya.


"Entah. Hanya seperti orang bodoh, ketika bergabung dengan banyak orang pintar disana. Lila masih begitu mudah terpengaruh oleh keadaan."


"Biarkan mereka. Yang penting aku selalu di dekatmu. Buka puasa yang istimewa." goda Iam. Lila mendongakkan kepalanya menatap Iam, dan mendapat kecupan bertubi-tubi dari suaminya itu. Seolah enggan beranjak dari tempatnya sekarang.


***


"Mas, bangun, udah pagi." panggil Lila, yang baru saja mandi. Bahkan dengan handuk yang melilit di kepalanya.


Iam menggeliatkan tubuhnya, perlahan membuka mata dan menatap ramah istrinya.


"Lila lihat Mas, lelap banget tidurnya. Ngga tega mau bangunin. Apalagi ngajak mandi bareng. No!" Lila mengacungkan jari telunjuknya.


"Kenapa?" Iam meraih tubuh Lila, melingkarkan lengan dipinggang ramping itu dan membawanya duduk di pangkuannya. "Kenapa ngga mau? Takut diserang lagi?"


"Ini, bekasnya masih merah-merah." Lila membuka bagian atas kimononya. Menunjukkan beberapa bagian bekas cinta Iam di tubuhnya.


"Terus, ini apa?" Iam menunjuk kan lengan, dan jarinya yang luka.


"Wuiiiih, ini kenapa?" tanya Lila, melotot heran.

__ADS_1


"Di gigit, semalem. Ganas banget yang gigit, sampai luka begini."


"Eh, bisa-bisa nya kena gigit? Siapa lagi yang....." diam, tertunduk malu menyadari lirikan Iam padanya.


"Siapa yang gigit?"


"Lila, Mas. Maaf," ucapnya, menggigit bibir dengan begitu menggemaskan.


"Tuh, kan. Udah mulai gigit-gigit. Sangking apanya, hayooo."


"Udah ih, malu. Jangan dibahas lagi."


"Lama-lama habis jadi suami mu ini."


"Udah, sana mandi." Lila beranjak, dan menyeret tubuh Iam agar segera beranjak dari tempat tidurnya. Lila pun mengumpulkan kembali dan merapikan pakaian mereka. Cukup kusut, tapi tak terlalu nampak dan masih bisa di pakai. Pasalnya, mereka tak membawa pakaian ganti ketika datang. Dan sulit membeli yang baru karena tak memiliki waktu yang cukup..


Iam keluar, menatap Lila yang tengah memakai gaunnya. Ia bergegas menghampiri, dan kembali menarik resletingnya perlahan.


"I Love You." bisiknya dengan suara yang begitu seksi.


"I Love You to, Mas." ucap Lila dengan begitu manis.

__ADS_1


__ADS_2