
Oma Nia tampak begitu percaya diri dengan kata-katanya. Membusungkan dada dan memasang wajah dengan begitu sombongnya.
Dona menghampiri karena mendengar huru hara yang ada. Tampak mereka semua memasang wajah tegang, apalagi adiknya yang masih belum juga berpakaian.
"Shandy, apa-apaan kamu? Segera berpakaian."
Shandy dengan santainya menutup pintu kamar itu, seolah telah menjadi hak miliknya sendiri.
"Ma, Iam, ada apa?" tanya Dona.
"Mama mu, apa akan tinggal disini untuk waktu yang lama?" Iam menatapnya dengan begitu serius.
"Ma, kenapa bilang begitu? Bukankah, Mama hanya menginap beberapa malam saja?" tanya Dona pada sang Mama.
"Ini rumah kamu, mama ada hak tinggal di rumah besar ini. Dan lagi, Iam kan sudah punya rumah sendiri. Apartemen mewah, pula. Untuk apa kembali kemari?" Oma Nia masih dengan segala keangkuhannya.
Dona tampak syok. Ia memijat dahinya sedikit kasar, lalu mengusap wajahnya.
" Lila, istirahat dikamar Aul aja. Kamarnya disana." tunjuk Dona.
__ADS_1
Lila mengalah, karena memang tak tahu apa-apa. Ia hanya tak ingin menambah masalah, dengan banyak bertanya ketika sedang panas-panasnya. Lebih baik diam, dan mendengarkan semuanya dengan jelas.
"Ada apa ini?" Papa Wira tiba-tiba datang menghampiri semuanya.
Iam menceritakan apa yang terjadi, dan Dona diam dengan segala rasa tak enak hatinya. Sedangkan Oma Nia, masih mempertahankan argumennya untuk tetap tinggal disana sebagai Nyonya rumah.
"Ngga bisa. Ini rumah Mama, Iam. Bahkan Dona ngga berhak berkuasa, apalagi kalian." Iam bernada keras kali ini.
Baru saja emosinya terredam, harus kembali memuncah karena perkara ini.
"Iam, Tenang dulu, Papa akan bicara." Papa Wira berusaha menjadi penengah diantara mereka.
Shandy turun, dengan kaos milik Iam dan hotpants nya. Sepertinya memang sudah terbiasa berpenampilan seksi, apalagi ada Iam di depannya saat ini.
"Baik, Mas." Shandy pun duduk tepat di sebelah Iam, bahkan nyaris tak berjarak.
"Shandy, jaga perilaku kamu!" tegur Dona.
Suasana kembali tenang, dan Papa Wira memulai pembicaraan. Semua diam, tanpa boleh memotong sedikitpun.
__ADS_1
"Mama Nia, kenapa mau pindah kemari?" tanyanya lembut pada sang mertua.
"Anak Mama disini, ya Mama ikut lah. Kasihan dia, menantu tak dapat diandalkan, anak gadis pun begitu. Sibuk dengan urusannya sendiri. Jadi, Mama mau bantu dia di rumah." jawabnya, dengan wajah penuh melas.
"Lagi pula, jarak kampus Shandy lebih deket kalau dari sini, Mas." sambung gadis itu.
"Jadi, kalian ingin menetap? Bagaimana, dengan rumah kalian?"
"Di gadaikan, buat biaya kuliah Shandy." jawab Oma Nia lagi.
"Lalu, siapa yang akan membayar tagihannya?" tanya Dona, kali ini tampak pening dengan permasalahan itu.
"Kamu, kan dapat bulanan. Potongin sedikit deh, buat Mama. Dua juta sebulan, selama Dua tahun."
"Astaga, Mama." Dona langsung lesu, dan tertunduk malu dihadapan mereka semua.
"Hutang sendiri, minta bayar orang lain. Untung bukan aku yang jadi menantu mu." gumam Iam.
"Hey, harusnya aku yang beruntung, dapat manantu lebih kaya darimu." Sergah Oma Nia..
__ADS_1
"Iya kah? Kau tahu, bahkan Papa ku bisa dengan mudah ku usir dari rumah ini jika aku mau. Apalagi perusahaan, itu semua atas namaku." jawab Iam dengan bangga.
Oma Nia hanya mendelik. Bergantian kearah Dona dan Papa wira. Dan mereka berdua kompak mengangguk, setuju dengan segala ucapan yang diberikan oleh Iam. Bahwa, segala aset adalah miliknya, dan akan dibagi dengan Aul setelah Ia menikah.