Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Sama-sama ditinggal nikah, jangan saling ledek


__ADS_3

"Kak, nanti ke rumah 'kan?" Aul menelpon Lila mengingatkan jadwal. Mereka.


"Iya, sebentar lagi. Kakak lagi nemenin Mas Iam kerja."


"Cie, manja banget. Kerja aja minta ditemenin ayang." ledek Aul.


Lila hanya tertawa mendengar ucapan adik iparnya itu. Aul pun mematikan teleponnya, ketika Lila telah sampai di ruangan Iam dengan beberapa calon pegawai barunya. Duta pun ada disana, duduk tegang menunggu pertanyaan yang diberikan Iam padanya.


"Assalamualaikum..." ucap Lila.


"Waalaikumsalam," mereka menyahut bersamaan.


Duta menatapnya remeh, mungkin menganggap Lila akan menyapu ruangan saat itu.


"Lagi ada wawancara, masuk sembarangan. Tunggu jadwal nya kali, La." tegur Duta dengan senyum ejekanya.


"Kenapa, harus nunggu jadwal?" tanya Lila, sembari menghampiri Iam yang tengah fokus memeriksa Satu persatu CV mereka.


Iam tak terlalu memperhatikan perdebatan itu. Ia hanya tahu Lila datang, dan merentangkan tangan untuk menyambutnya. Ia memeluk pinggang Lila dan memintanya duduk di sebelahnya.


"Siska udah cariin kursi tadi. Duduklah, jangan jauh-jauh." ucap Iam, beralih menggenggam dan mengecup tangan istrinya.


Duta melotot, tak percaya dengan apa yang Ia lihat. Apalagi dengan tatapan Iam yang begitu tulus pada Lila.


"Saudara, Duta Triadmaja?"


"Iya, pak?"

__ADS_1


"Sudah menikah?" tanya Iam.


"Ehm, itu...." sedikit sulit mengakui, apalagi kondisi saat ini. Yang dicari, memang yang belum terikat oleh pernikahan.


"Udah, punya anak Satu." sahut Lila, yang berdandar di bahu Iam sembari memainkan Hpnya.


"Lila...." lirih Duta, menundukkan wajahnya.


Iam menoleh dan melirik istrinya, "Kenal?"


"He'em, kenal." jawab Lila.


Duta langsung mengusap wajahnya kasar. Apalagi, ingat barusan yang Ia katakan pada Lila.


"Begini, untuk yang lain, karena saya lihat bagus dan berprestasi, maka saya terima sebagai karyawan magang disini. Setelah magang, baru kalian akan saya pindahkan ke divisi lain."


"Saya, Pak?" potong Duta.


Duta tertunduk, sedangkan yang lain keluar ruangan menemui Siska.


"Semua mencari yang lajang. Sedangkan saya, sudah punya anak. Susah, untuk mencari kerja."


"Nyesel, nikah? Kalau belum mau nikah, kenapa buat anak?"


"Lilaaa," tegur Iam, membaca aroma kebencian dari ucapan Lila.


"Maaf, Lila. Maaf untuk yang dahulu, dan maaf untuk yang tadi." Duta berdiri, lalu melangkah keluar dari ruangannya. Ia tahu, jika Ia sudah ditolak mentah-mentah untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


Ia melangkah lemas, keluar dari zona perusahaan besar itu. Impian nya berada disana, dan usahanya begitu keras untuk dapat masuk.


Iam kembali menoleh, menyibakkan tangan dan Ia letakkan diatas meja. Ia tekuk, lalu dipakainya untuk menyangga kepala. Ia tersenyum dengan sejuta tanya untuk sang istri.


"Hey," panggilnya.


"Kenapa?" lirik Lila.


"Siapa?" tanya Iam, menanyakan mengenai Duta.


"Dia? Mantan."


"Ouwh, mantan. Ditinggal nikah, ya?" goda Iam padanya.


"Ngga usah ngeledek, sama-sama ditinggal, juga." Lila cemberut menatapnya.


Iam hanya memberi senyum gemas, mencubit dagunya hingga mengecup bibirnya. Entahlah, rasa seperti meminum obat penenang, ketika sudah mendapatkan itu dari sang istri.


"Ayo, ke rumah Papa. Aul udah nanyain."


"Yuk," gandeng Iam pada sang istri.


Mereka pun keluar setelah berpamitan dengan Siska, dan menyerahkan semua pada sekretarisnya itu.


"Mas, mau belikan apa?"


"Buat dirumah?"

__ADS_1


"He'em... Lila ngga tahu, mereka suka nya apa. Apalagi, Papa sama Mami Dona."


"Ya sudah, belikan buat Aul saja. Kita mampir toko buah, nanti."


__ADS_2