
Suara langkah kaki, terdengar berlari begitu kencang. Ia lah Dinar, yang baru datang setelah Iam memberitahu kabar Lila padanya. Berbekal pesan Wa dari Iam, Ia masuk ke sebuah ruang VVIP, tempat Lila di rawat.
"Mas Iam, maaf telat. Tadi jalanan macet," Dinar mendekat, kearah Iam yang tengah merenung, menundukkan kepala dan tampak sangat diam. Dinar tak berani berkata apapun lagi, hanya mengambil sebuah kursi, dan duduk di sebelah brankar Lila.
"Andai, Lila mau ketika Mba temani tadi. Mba ngga papa, kalau urusan Mba tertunda." genggam tangannya, pada tubuh yang lemah itu.
"Mba Dinar?" akhirnya Iam bersuara dan memanggilnya. "Iya, Mas?" toleh Dinar, pada Bos barunya itu.
"Mulai besok, harus stay bersama Lila, ketika saya tak ada dirumah. Lila harus bedrest, dan tak boleh melakukan apapun setelah ini." pinta I Iam, yang menyandarkan tubuhnya di bahu sofa.
__ADS_1
"Iya," Dinar mengangguk, dan menyanggupi semua permintaan Iam. Dinar meminta Iam kembali kekantor, jika urusannya masih banyak. Tapi Iam menolak. Ia masih ingin menjaga Lila sepenuhnya, sampai Ia membuka mata. Sudah Dua jam, Ia masih tidur dengan begitu nyenyak.
"Aku, masih begitu enggan melihat wajahnya kali ini." Iam mengusap wajahnya dengan kasar, dan menarik udara dengan hidungnya dengan kuat. Dinar tahu, jika Iam baru saja menangis sebelumnya.
***
"Mana Iam, kenapa sampai sekarang belum ada kabar?" Mami Dona tampak begitu gelisah, memainkan Hp dan mondar mandir menunggu kabar terbaru dari keduanya. Sedangkan Papa Wira, masih merenung di kursi tempatnya bekerja. Sepertinya, Ia tengah mempersiapkan diri, untuk sesuatu yang terburuk, yang mungkin akan terjadi padanya setelah ini.
Duta datang, menghadap Papa Wira dan Mami Dona di ruangan mereka. Ia berniat baik, ingin memberi kabar mengenai Lila dan bayinya yang selamat, meski masih harus dirawat dengan intensiv. Dona menghela nafas lega, sedikit lega dibandingkan sebelum ini. Ia sebagai sahabat lama Iam, sangat faham dengan kepribadian pria itu. Makanya, Ia sangat cemas ketika meminta izin menikah dengan Papa Wira kala itu.
__ADS_1
"Seorang sepertimu, akan diam jika diri sendiri disakiti. Tapi, akan murka jika seseorang yang kau sayang diperlakukan tak baik dengan orang lain." gumam Mami Dona. Aul masih belum diberi kabar. Ia harus fokus dengan ujian kelulusannya kali ini. Targetnya wisuda lebih cepat, selalu di dukung Iam dan keluarga besar mereka. Sebisa mungkin tak mengganggu fokusnya belajar.
***
Bu Marni sudah keluar dari mengantar Pak Hari. Ia berniat memberi tahu Iam mengenai keadaan Bapak mertuanya. Tapi, bukan Ia yang memberi kabar mengejutkan, melainkan Ia yang syok mendengar kabar sang anak dari menantunya itu.
"Ibu akan kesana segera. Dan mengenai Bapak, jangan beritahu Lila dalam waktu dekat ini. Lila, akan makin sakit nantinya."
"Iya, Bu. Lila mengharapkan dukungan Ibu, untuk saat ini." ucap Iam. Ia menutup teleponnya, dan bangkit melipat lengan bajunya menuju kamar mandi. Ia mencuci wajahnya, agar Lila tak melihatnya baru saja menangis dan sedih. "Ya, aku harus selalu ceria di depan dia. Ia pun akan tersenyum melihatku."
__ADS_1
Masih di kamar mandi, Dinar berteriak memanggilnya. "Mas Iam, Mas... Lila bangun, Mas." Iam yang mendengar panggilan itu, langsung mematikan keran air, dan keluar menghampiri sang istri..
"Hey, sayang, sudah bangun rupanya. Tidurnya lama sekali," Iam mengecup, dan membelai rambut Lila yang masih dalam keadaan setengah sadar.