Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Perpindahan tahta perusahaan


__ADS_3

Keadaan kantor tengah sedikit tegang. Mereka memutuskan semuanya, tanpa kehadiran Papa Wira disana. Alasan sakit, membuatnya tak harus hadir. Karena hadir pun Ia tak dapat lagi memberi komentar kali ini. Rapat itu adalah rapat pengesahan Iam sebagai Direktur utama perusahaan Wiratama.


"Semua data dan persyaratan telah lengkap. Hanya tinggal tanda tangan dari semua anggota dewan disini, maka semua akan sah. Perusahaan, akan berganti kepemilikan atas nama anda Ilham Adi Wiratama." ucap Sang pengacara padanya.


Siska mengambil alih dokumen itu, lalu membawanya berkeliling. Ia meminta semua tanda tangan anggota dewan disana. Tak ada satu pun yang menentang, karena semua adalah amanah sang Mama. Selaku pemilik perusahaan itu.


" Selamat, Pak Iam. Anda resmi menjadi pemimpin sekarang. Semoga, setelah ini, perusahaan akan semakin maju ditangan anda." ucap seorang pejabat tertinggi disana.


Iam menundukkan tubuhnya. Menghormati segala keputusan yang telah di setujui. Tanggung jawabnya akan semakin besar setelah ini. Apalagi, mungkin Papanya akan sedikit kecewa dengannya, lagi dan lagi.


" Maaf, Pa. Iam hanya menjalankan amanah Mama. Semua, harus Iam selamatkan dari mereka yang hanya ingin numpang hidup dengan keluarga kita." batinnya. "Untuk yang tercinta, Khalila. Andai kamu ada disini, menggandeng tanganku dengan senyum hangatmu. Pasti, akan lebih bahagia rasanya."


"Selamat Pak Bos. Semakin tinggi jabatan, semakin tinggi pula tanggung jawabnya." Siska menghampiri, dan menjabat tangannya.

__ADS_1


"Jangan pernah pergi setelah ini. Karena saya, masih sangat butuh kamu. Kamu yang paling mengerti saat ini." pinta Iam, pada sekretaris kesayangannya itu.


"Iya, asal jangan lupa, gaji di naikin." goda Siska pada bosnya itu. Iam hanya tersenyum, dengan segala rasa bangga pada dirinya.


Semua membubarkan diri. Tiba saat nya Iam meraih Hp dan menelpon kesayangannya yang ada di rumah. Rindu, dan tak sabar untuk memberi kabar bahagia untuknya.


" Halo, Mas? Kok nelpon, ngga sibuk?" tanya Lila, yang masih setia di tempat tidurnya.


"Hey sayang, sedang apa? Aku baru saja selesai rapat dan...." Iam akhirnya ragu, menceritakan masalah perpindahan perusahaan.


"Ah, engga. Hanya rapat biasa. Sudah makan? Ingat, Lila tak boleh telat makan."


"Lila udah makan berkali-kali, daritadi, Mas. Mba Dinar, nawarin makan terus. Dan, apa karena vitamin, jadi Lila laper mulu?" tanyanya polos. Iam hanya tertawa renyah, mendengar cerita Lila yang menggemaskan bagi nya. Karena itu menandakan, jika Lila akan kembali sehat setelah ini.

__ADS_1


" Ngga papa, turutin aja. Ada yang Lila pengen? Nanti Aku belikan ketika pulang. Dinar tak boleh pergi dari kamu sebentar pun."


"Belum ada, Mas. Nanti Lila bilang, kalau ada pengen. Cuma, pengen Mas cepet pulang," manja Lila pada suaminya. Iam hanya meng'iyakan, dan berusaha menuruti semua permintaan Lila. Telepon pun dimatikan, dan Iam kembali fokus dengan segala pekerjaan yang menunggunya.


" Cepat selesai, cepat pulang." harap Iam. Ia beranjak dari ruang rapat, dan kembali ke ruangannya.


"Mas Iam telepon?" tanya Mba Dinar yang menghampiri.


"Iya, Mba. Kenapa?"


"Ehm, itu, bahan-bahan dapur di kulkas udah kosong. Apa Mas Iam mau belanja? Atau, Mba aja yang pergi?"


"Jangan Mba, Mba jangan pergi. Itu pesen Mas Iam tadi. Belanja online aja deh. Mba catet, nanti Lila yang pesen." ucap Lila, mulai membuka Hpnya lagi.

__ADS_1


"Baiklah," Dinar mulai mengambil sebuah buku catatan. Ia mencatat semua keperluan untuk dibelanjakan. Yang terbanyak adalah keperluan Lila. Karena Ia harus begitu diperhatikan makanannya. Sedang Iam, Ia gampang untuk mengikuti selera. Atau, Ia bisa memasak sendiri untuk dirinya nanti.


__ADS_2