Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Ke khawatiran Ibu Marni


__ADS_3

"Mas mau ngapain?"


"Mandi, mau ikut? Ngga usah, nanti ada yang kesel."


"Ih, apaan sih? Ngedumel sendiri deh." omel Lila pada suaminya. "Lila minta tolong mandiin. Ibu sama Aul lagi istirahat."


Iam yang telah berkalung handuk, menghentikan langkah dan membalik badan pada istrinya. "Ayok, aku mandiin." ucap Iam, mengulurkan telapak tangannya. Lila menyambutnya dengan senyum, dan berdiri mengikuti Iam ke kamar mandi.


"Yakin mau mandi? Ngga di lap-lap aja?"


"Yakin, Mas. Lukanya ngga sakit kok. Lagian, plasternya anti air." jawab Lila. Iam mengangguk, dan mulai membantu Lila membuka pakaiannya. Jantungnya bergetar begitu hebat, apalagi melihat sang istri hanya dengan pakaian dalam.


"Maaf, Lila ngerepotin."


"Kenapa bilang begitu? Ini kewajibanku." Iam meraih shower, dan mulai mengguyur Lila dengan air mulai dari kepalanya. Ia bahkan tak segan, menbersihkan Lila dari kotoran nifasnya yang masih sangat banyak.


"Ngga jijik?" tanya Lila, yang justru tampak sungkan.


"Engga sama sekali. Justru, aku kasihan sama kamu. Harus mengeluarkan darah sebanyak ini. Ini mungkin, hanya sebagian." ucap Iam, setengah menangis. "Pasti sakit, dan lemas."


"He'em, angguk Lila." awalnya sakit, tapi sekarang engga.

__ADS_1


"Lila bisa bersihin sendiri? Aku mau siapin pasang pembalutnya."


"Emang bisa?"


"Bisa, tadi lihat bekasnya." jawab Iam. Ia kemudian meninggalkan Lila membersihkan sisa kotornya.


"Seger, mandi dirumah sendiri." gumam Lila. Ia pun menyusul keluar, dengan handuk terlilit diatas kepalanya.


"Wahs, sudah siap. Pinter nya suamiku, muuuaaaah!" kecupnya dari jauh.


"Dah, pasang sendiri. Aku mau mandi. Dan maaf, setelah ini harus menengok Dona di rumah. Sekalian, antar Aul pulang."


"Iya, Mas. Andai, Lila boleh ikut. Bawain makanan sekalian, ya? Nanti Lila siapin." Iam hanya mengangguk, lalu masuk lagi ke kamar mandinya.


"Lila, udah mandi? Bisa mandi sendiri?" kaget Bu Marni, yang melihat Lila keluar dari kamarnya.


"Mas Iam yang bantuin. Keburu gerah, kalau tunggu Ibu bangun."


"Iam, ngga ngapa-ngapain kamu 'kan?" Bu Marni memicingkan matanya.


"Astaghfirullah, Mas Iam ngga pernah melakukan kekerasan sama Lila, Bu."

__ADS_1


Tukkkk! Bu Marni menyentil dahi Lila. "Aaaakkh! Sakit, Bu! Orang masih sakit, juga."


"Masa kamu ngga ngerti, maksud Ibu apaan?" tukas Bu Marni.


"Tahu, tapi emang Mas Iam ngga ngapa-ngapain kok. Lila yakin, Mas Iam kuat."


"Tapi, Iam sudah sangat lama puasa. Kemarin waktu kamu bedrest total, juga puasa. Sekarang nambah lagi. Gimana pas buka? Ibu ngeri membayangkannya."


Lila hanya tersenyum genit mendengarnya. Ia pun sedikit ngeri, tapi pasti Iam faham akan dirinya. "Doakan Lila kuat ya, Bu." jawabya, membuat sang Ibu tampak makin cemas.


Iam kemudian keluar, dan telah berpakaian rapi. Ia segera menghampiri Lila yang tengah mengupas buah untuk semuanya. "Hey sayang, udah makan?"


"Belum, nunggu Mas sekalian. Kan udah ngga hamil, jadi ngga perlu buru-buru lagi." suapnya pada Iam, dengan sepotong Pear. Iam pun melahapnya dan memberi sebuah kecupan pada sang istri.


"Ya, tampak jika menantuku sudah tak sabar menghitung hari berbuka." batin Bu Marni, dengan tatapan tajamnya.


Aul pun keluar, dan membantu Bu Marni menyiapkan makan untuk mereka semua. Dan duduk bersama menyantap makan malam dengan begitu nikmat.


"Aul Kakak antar. Sekalian jenguk Dona."


"Mampir ke apotek, buat belikan vitamin untuk kandungannya, Mas. Tanya aja ke Apotekernya." imbuh Lila.

__ADS_1


Iam hanya mengangguk, dan berdehem menjawab permintaan istrinya.


"Mama tirinya, adalah cinta Iam sebelum Lila. Meski sempat menjauh, tapi akhirnya harus dekat dan perhatian lagi sekarang. Apa aku boleh khawatir tentang anakku?" fikir Bu Marni.


__ADS_2