
Iam menangkap Lila pada akhirnya. Mendekapnya dengan begitu erat, tanpa bisa lepas jika bukan Iam sendiri yang melepasnya. Mereka tepat di dalam kamar, menatap foto pernikahan mereka yang teramat sangat sederhana itu.
"Lila, jelek ya, waktu itu?" tanya Lila.
"Heh, kenapa bilang begitu?"
"Iya, lihat aja mukanya. Matanya aja sembab, nangis aja semaleman."
"Dan satu lagi yang membuatku harus membahagiakanmu. Yaitu memberikan sebuah persta yang besar dan indah untuk pernikahan kita. Benar?" Iam menopangkan dagunya di bahu sang istri.
"Ehm, engga. Ngga usah pesta lagi. Terlalu lebay menurut Lila. Cuma pengen, kita foto aja yuk. Pakai gaun yang lebih indah, foto yang lebih cerah. Kemarin, itu Mba Intan kan, yang fotoin?"
"Iya, namanya juga, dana pas-pasan." tawa Iam. Tangannya naik, meraba lembut tengkuk leher Lila. Meraih dagunya, dan menolehkan wajah padanya, agar dapat mengecup bibirnya yang lembut itu.
"Lila belum mandi," tolaknya lembut.
__ADS_1
"Bentar, nanti mandi sama-sama."
"Ogah, Lila mandi dulu aja. Lengket rasanya." Lila melepas dekapan Iam yang mulai melemah, meraih handuk lalu pergi ke kamar mandi sendirian. Iam hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal, lalu duduk bersandar di ranjang mereka yang besar.
(Sepertinya sangat nyaman, untuk olahraga malam🤣🤣🥲🥲)
Iam meraih laptopnya yang tersimpan rapi di nakas. Membukanya, dan memeriksa beberapa berkas yang harus Ia kerjakan. Sedangkan Lila, sibuk di kamar mandi, untuk membersihkan dirinya. Memakai sabun yanh harum, dan mencuci wajahnya agar semakin cerah untuk Iam. Ia keluar, setelah siap menghampiri sang suami.
"Mas, kok main laptop?" tegur Lila pada suaminya. Padahal, Ia telah mempersiapkan diri, bahkan telah mengenakan lingerie yang telah Ia beli beberapa waktu lalu.
"Lila, ngga lagi mabok, kan? Kita, ngga minum apa-apa loh, hari ini." tanya nya.
"Ish, istri menggoda suami, malah dikata mabok. Jahat emang," cebik Lila, dengan wajah kesalnya. Iam hanya tersenyum renyah, meletakkan laptopnya kembali, dan menyambut Lila ke dalam pangkuanya.
Lila pun menyambutnya, duduk di pangkuan dan menghadap di depan sang suami. Merangkulkan tangannya mesra di leher Iam, yang menghirup aroma wangi di tubuh mulus itu.
__ADS_1
"Suka wanginya, ganti parfum?"
"Ya, kata Mba Dinnar, ini adalah parfum...." Lila menggigit bibir, dan menghentikan ucapannya.
"Apa?" goda Iam, dengan memainkan lembut jarinya di bagian tubuh Lila yang paling menggemaskan untuknya. Lila terasa sangat menantang nya kali ini, membuat hawa di tubuhnya semakin terasa panas.
Iam meraih tengkuk Lila, menariknya agar lebih dekat dengan bibirnya. Mengecupnya dengan lembut, melumaatnya ketika Lila mulai membuka bibirnya, dan mereka saling membeelit lidah didalam sana. Lila pun semakin menenggelamkan hasraatnya kala itu.
Kecupan lembut Iam semakin turun, menyesaap tengkuk leher Lila dan semakin ke bawah, nenikmati segala keindahan dan pembawa nikmat untuk mereka berdua. Lila hanya mencengkram, dan menjambak rambut Iam, untuk menggambarkan semua rasa yang Ia nikmati saat ini.
"Bukan malam pertama. Tapi, malam ini begitu istimewa." puji Iam, yang perlahan merebahkan tubuh istrinya di ranjang mereka. Sembari tangannya aktif melepaskan semua yang membalut di tubuh indah itu..
"Haish, kau sudah mempersiapkan semuanya? Aku semakin mencintaimu!" pekik Iam pada sang Istri, yang tengah menggeliat dengan segala aktifitas yang Ia berikan.
Suara memekik, mengerang, dan semuanya itu bebas mereka ekspresikan malam ini. Bagaimana tidak, sedekat apapun tetangga, mereka tak akan mendengarnya. Rumah itu begitu luas, dengan kamar yang di design kedap suara oleh Iam. Hingga membuat malam-malam mereka serasa bagaikan berbulan madu setiap harinya.
__ADS_1